Indonesiandaily.com – Maliki Got Talent (MTG) menjadi panggung bagi sivitas Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menunjukkan beragam talenta seni. Empat delegasi Humaniora tampil dengan karakter berbeda dalam rangkaian Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Malang di Student Center Lantai 2, Jumat (2/10/2026).
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Spektra Humaniora. Tim yang menggabungkan enam dosen dan 14 mahasiswa itu meraih Juara Harapan III melalui kolaborasi Tari Saman dari Aceh dan Dindin Badindin dari Sumatera Barat.
Di atas panggung, dosen dan mahasiswa menyatukan gerak, ritme, dan kekompakan. Seni menjadi ruang yang mencairkan sekat akademik sekaligus mempertemukan dua unsur sivitas dalam satu kerja kolektif.
Selain Spektra Humaniora, tiga delegasi lain membawa warna berbeda. The Humanity Boyz menampilkan duet beatbox, Humaniora Voice menghadirkan harmoni vokal melalui lagu You Raise Me Up, sedangkan Nailah Rahma Harsono membawa budaya populer lewat K-Pop dance cover lagu Drama dari aespa.
Dari Tradisi hingga Budaya Populer
Keempat penampilan tersebut menunjukkan bahwa MTG tidak sekadar menjadi arena kompetisi. Panggung ini mempertemukan seni tradisional, musik vokal, beatbox hingga budaya populer dalam satu ruang kreativitas sivitas akademika.
Wakil Dekan Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan Fakultas Humaniora, Dr. Galuh Nur Rohmah, M.Pd., M.Ed., mengatakan kegiatan seni menjadi ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun kebersamaan.
“Prestasi membanggakan, tetapi proses kebersamaan, keberanian tampil, dan pengalaman juga menjadi bagian penting,” ujarnya.
Bagi Humaniora, keikutsertaan dalam MTG sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan potensi mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas. Kreativitas, kepercayaan diri, kerja tim, serta apresiasi terhadap keberagaman juga tumbuh melalui pengalaman berkarya.
Panggung Maliki Got Talent akhirnya menjadi bagian dari perayaan Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Malang, sekaligus ruang bagi Humaniora menunjukkan wajah kreativitasnya: beragam, kolaboratif, dan terbuka terhadap perkembangan zaman.



