Indonesiandaily.com – Tekanan cicilan, pinjaman online (pinjol), dan sulitnya mendapatkan pekerjaan menjadi persoalan yang membebani pemuda lokal di Kota Malang. Survei Indopol Survey & Consulting bersama Universitas Brawijaya (UB) menemukan, tekanan ekonomi berjalan beriringan dengan tingginya perasaan putus asa dan tidak berharga pada kelompok tersebut.
Dalam survei terhadap 600 responden berusia 17–43 tahun yang dilaksanakan pada 27 Agustus hingga 7 September 2026, sebanyak 20,32 persen pemuda lokal menyebut cicilan dan pinjol sebagai sumber tekanan ekonomi. Sementara itu, 19,59 persen menghadapi persoalan mencari atau mempertahankan pekerjaan, dan 10,31 persen terbebani tanggungan keluarga.
Tekanan tersebut turut tercermin dalam kondisi psikologis responden. Sebanyak 22,22 persen pemuda lokal melaporkan perasaan putus asa dengan intensitas tinggi. Sedangkan 19,11 persen merasa tidak berharga.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan mahasiswa perantau, yang mencatatkan gejala putus asa intensitas tinggi. Skornya sebesar 6,7 persen dan perasaan tidak berharga sebesar 5,3 persen.
Direktur Eksekutif Indopol Survey & Consulting, Ratno Sulistuyantoni, menjelaskan pemuda lokal cenderung menghadapi tekanan struktural yang berkaitan dengan kondisi ekonomi jangka panjang. Berbeda dengan mahasiswa perantau yang lebih banyak menghadapi tekanan biaya hidup dan proses adaptasi. Maka persoalan pemuda lokal berkaitan dengan pekerjaan, utang, serta tanggungan keluarga.
Tekanan yang berlangsung terus-menerus berpotensi memengaruhi cara seseorang memandang masa depan dan menilai dirinya sendiri. Meski demikian, hasil survei tersebut menunjukkan keterkaitan antarkondisi, bukan bukti bahwa tekanan ekonomi menjadi satu-satunya penyebab persoalan kesehatan mental.
“Persoalan kesehatan mental tidak cukup dipahami sebagai masalah individu yang harus diselesaikan melalui konseling semata. Kondisi pekerjaan, kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, beban utang, serta tanggungan keluarga juga perlu menjadi bagian dari penanganan,” ujar Ratno.
Berdasarkan temuan tersebut, FISIP UB dan Indopol merekomendasikan pendekatan yang menggabungkan pendampingan psikologis dan ekonomi bagi pemuda lokal. Bentuknya dapat berupa konseling, literasi keuangan, pendampingan penyelesaian utang atau pinjol, serta pelatihan dan penempatan kerja.
Rekomendasi ini menempatkan persoalan kesehatan mental dalam konteks kehidupan sehari-hari. Selain akses terhadap layanan profesional, upaya memperkuat kondisi ekonomi dan membuka peluang kerja. Hal ini dinilai perlu menjadi bagian dari dukungan bagi pemuda yang menghadapi tekanan berkepanjangan.



