Mahasiswa Baru Vokasi UB Ciptakan Visualisasi Galaksi Interaktif, Pengunjung Bisa Mengubah Orbit Planet

Mahasiswa Baru Vokasi UB Ciptakan Visualisasi Galaksi Interaktif, Pengunjung Bisa Mengubah Orbit Planet

Indonesiandaily.com – Belajar mengenal luar angkasa kini bisa dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan. Melalui sebuah layar interaktif, pengunjung dapat menjelajahi galaksi, menggeser planet, mengubah orbit, hingga menciptakan simulasi tabrakan benda langit.

Pengalaman tersebut dihadirkan melalui Antariksa, karya visualisasi galaksi tiga dimensi yang dikembangkan Dylan Leonaldo Pratama, mahasiswa semester pertama Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL), Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB).

Karya yang dikembangkan di bawah bimbingan dosen Rachmad Andri Atmoko itu dipamerkan dalam DIPA MediaArt Festival 2026 di Gazebo Raden Wijaya UB, Malang, Selasa (27/10/2026).

Tidak sekadar menampilkan gambar tata surya, Antariksa memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan objek visual. Mereka dapat menyeret planet, mengatur lintasan orbit, membaca informasi planet, hingga memunculkan komet dan lubang hitam.

Pengunjung juga bisa menyaksikan simulasi tabrakan planet dan berbagai efek kosmik lainnya. Seluruh pengalaman tersebut disajikan melalui visualisasi tiga dimensi pada layar berukuran besar.

Ubah Galaksi Menjadi Ruang Eksplorasi Interaktif

Berbeda dengan ilustrasi luar angkasa yang umumnya hanya bisa dilihat, Antariksa dirancang sebagai media eksplorasi digital. Pengunjung dapat mengubah sudut pandang dan memanipulasi berbagai objek di dalam simulasi.

Tampilan visualnya menghadirkan bintang pusat, planet bercincin, lintasan orbit, gugusan partikel menyerupai asteroid, serta ribuan bintang di latar belakang.

Di balik tampilan tersebut, Dylan memanfaatkan teknologi JavaScript, HTML5, CSS, dan pustaka grafis Three.js untuk membangun visualisasi tiga dimensi berbasis web.

Salah satu tantangan terbesarnya adalah menjaga kelancaran animasi ketika puluhan ribu partikel dan berbagai efek visual berjalan bersamaan.

Pada pengujian awal, animasi sempat mengalami penurunan performa, terutama ketika efek ledakan, komet, dan lubang hitam aktif secara bersamaan pada perangkat dengan kemampuan grafis terbatas.

Dylan kemudian mengoptimalkan sistem dengan memindahkan perhitungan gerak partikel ke GPU. Ia juga mengatur kepadatan partikel agar dapat disesuaikan dengan kemampuan perangkat.

Pengaturan tersebut memungkinkan jumlah partikel berada pada rentang 10.000 hingga 200.000, dengan konfigurasi awal sebanyak 70.000 partikel.

“Fokus awal saya adalah menghadirkan visualisasi galaksi yang tidak hanya indah, tetapi juga interaktif dan responsif saat diakses masyarakat,” ujar Dylan.

Setelah melalui serangkaian pengujian menggunakan laptop dan Smart TV berbasis browser Chrome, animasi dapat berjalan lebih lancar pada pengaturan bawaan.

Ke depan, Dylan berencana mengembangkan fitur interaksi agar Antariksa tidak hanya menjadi karya seni digital, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran astronomi.

Mahasiswa Belajar Memecahkan Masalah Nyata

Keikutsertaan Antariksa dalam DIPA MediaArt Festival 2026 menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran berbasis proyek di Fakultas Vokasi UB.

Melalui proyek tersebut, Dylan tidak hanya belajar membuat program, tetapi juga menguji hasil pengembangannya secara langsung di hadapan publik.

Dosen pembimbing Rachmad Andri Atmoko mengatakan, proyek ini dirancang agar mahasiswa mampu menerapkan teori grafika komputer menjadi produk digital yang dapat digunakan dan dinikmati masyarakat.

“Mahasiswa tidak hanya memahami teori grafika komputer di kelas, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam produk digital yang siap diuji dan dinikmati publik,” jelas Rachmad.

Menurutnya, proses pengembangan hingga pameran memberikan pengalaman menyeluruh bagi mahasiswa. Mulai dari pemrograman grafis tiga dimensi, optimalisasi perangkat lunak, hingga penyelesaian kendala teknis di lapangan.

Ia juga melihat perpaduan teknologi visualisasi interaktif dan seni media membuka peluang eksplorasi baru bagi mahasiswa vokasi.

Rachmad berharap karya tersebut terus dikembangkan, terutama dengan penambahan fitur edukatif agar dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sains interaktif di lingkungan pendidikan.

DIPA MediaArt Festival 2026 sendiri berlangsung pada 27 Oktober hingga 2 November 2026. Festival yang diselenggarakan melalui program Globalizing UB bersama ekosistem lintas disiplin ini menjadi ruang pertemuan antara seni media dan teknologi digital interaktif.

Melalui Antariksa, mahasiswa Vokasi UB menunjukkan bahwa pembelajaran teknologi tidak harus berhenti pada teori dan tugas perkuliahan. Ide kreatif yang dikembangkan melalui keterampilan pemrograman juga dapat menjadi pengalaman interaktif yang mempertemukan teknologi, seni, dan edukasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *