Indonesiandaily.com – Kesempatan belajar di luar negeri bukan sekadar duduk di ruang kelas dan menyimak materi. Dua mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Moh Faiz dan Meisa, mendapat kesempatan menguji gagasan sekaligus menyampaikan pandangan dalam perkuliahan bersama mahasiswa National University of Singapore (NUS), Singapura.
Pengalaman tersebut berlangsung saat keduanya mengikuti kelas The Malay Middle Class yang diampu dosen senior NUS, Dr. Suriani Suratman, Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Humaniora International Student Mobility and Academic Sharing (I-SMASH) 2026.
Dalam kelas yang diikuti sembilan mahasiswa itu, tiga peserta mempresentasikan proposal penelitian. Namun, proses pembelajaran tidak berhenti pada presentasi. Mahasiswa lain, termasuk Faiz dan Meisa, turut dilibatkan untuk mengajukan pertanyaan, memberikan kritik, serta menyampaikan masukan.
Bagi Faiz, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa diskusi akademik membutuhkan keterlibatan aktif setiap peserta. Sebuah gagasan tidak hanya disampaikan, tetapi juga diuji melalui pertanyaan dan perspektif berbeda.
Ia dan Meisa bahkan beberapa kali diminta memberikan tanggapan terhadap proposal penelitian yang dipresentasikan mahasiswa NUS. Situasi tersebut mendorong keduanya untuk memahami persoalan secara mendalam sebelum menyampaikan pendapat.
Mengangkat Fenomena Sehari-hari Menjadi Kajian Akademik
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian Faiz adalah resepsi pernikahan sebagai bagian dari praktik budaya dan representasi kelas sosial.
Melalui contoh yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia tersebut, Dr. Suriani mengajak mahasiswa melihat bagaimana pilihan tempat resepsi, seperti hotel mewah atau gedung tertentu, dapat berkaitan dengan kemampuan ekonomi dan cara seseorang merepresentasikan status sosialnya.
Fenomena yang selama ini dianggap sebagai bagian biasa dari perayaan pernikahan ternyata menyimpan persoalan sosial yang menarik untuk diteliti.
Faiz melihat pembahasan itu sebagai pelajaran penting tentang cara mengamati lingkungan sekitar. Kebiasaan yang terlihat sederhana dapat menjadi bahan penelitian ketika dikaji melalui pertanyaan yang tepat dan pendekatan yang kritis.
Namun, ia juga memahami bahwa praktik budaya tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan tampilan luarnya. Konteks dan alasan orang-orang yang terlibat tetap perlu ditelusuri.
Bekal Humaniora untuk Menembus Diskusi Internasional
Pengalaman mengikuti perkuliahan di NUS juga membuat Faiz menyadari bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah memiliki relevansi dalam lingkungan akademik internasional.
Sebagai mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Malang, ia merasa kemampuan memahami budaya, membaca makna, menyusun argumentasi, dan mengajukan pertanyaan menjadi bekal penting untuk mengikuti diskusi lintas negara.
Ia tidak melihat pengalaman tersebut sebagai ajang membandingkan keunggulan antarkampus. Sebaliknya, pertemuan akademik itu memperlihatkan bahwa mahasiswa dari lingkungan pendidikan berbeda dapat saling bertukar gagasan dan belajar satu sama lain.
Diskusi tiga proposal penelitian juga memberinya pemahaman bahwa kritik dan masukan merupakan bagian penting dalam proses ilmiah. Sebuah penelitian perlu terbuka terhadap pertanyaan agar gagasan yang dibangun semakin kuat dan terarah.
I-SMASH Buka Ruang Pengalaman Akademik Global
Melalui I-SMASH 2026, mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Malang tidak hanya memperoleh kesempatan mengenal lingkungan akademik NUS, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran bersama mahasiswa internasional.
Bagi Faiz, pengalaman paling berkesan bukan semata-mata berada di salah satu kampus terkemuka dunia. Lebih dari itu, ia mendapat kesempatan menyampaikan gagasan dan membuktikan bahwa bekal akademik dari kampus asal dapat menjadi modal untuk terlibat dalam percakapan ilmiah global.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi dorongan untuk terus mengasah kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi, dan membangun kepercayaan diri dalam forum akademik internasional.



