Indonesiandaily.com – Menjalani kuliah, mengembangkan bisnis, menjadi content creator, mengikuti kompetisi, hingga menjalani magang bukan perkara mudah. Namun, Nisriina Najmi, mahasiswa semester tujuh Program Studi S1 Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), berusaha menjalani berbagai aktivitas tersebut tanpa mengabaikan tanggung jawab akademiknya.
Di tengah kesibukannya, Nisriina memiliki prinsip bahwa ambisi harus berjalan beriringan dengan kemampuan diri. Baginya, produktif bukan berarti harus terus bekerja tanpa jeda, melainkan mampu menentukan prioritas dan memahami kapan harus beristirahat.
Prinsip itu terbentuk dari pengalamannya menjalani berbagai peran selama menjadi mahasiswa. Selain mengikuti perkuliahan, ia menjalani magang di Dinas Sosial Kota Malang, mengelola konten digital, menerima pekerjaan endorsement, serta aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.
Ia juga merintis usaha kerajinan tangan bernama Soft Bracelet. Bisnis tersebut pernah memperoleh pendanaan Rp1,5 juta melalui Program Mahasiswa Wirausaha UM pada 2024. Dukungan pendanaan dari fakultas turut membantu pengembangan usahanya.
Mengubah Media Sosial Menjadi Peluang
Salah satu aktivitas yang turut mewarnai perjalanan Nisriina adalah menjadi content creator. Awalnya, ia hanya ingin memanfaatkan media sosial sebagai ruang berbagi pengalaman, terutama cerita keberhasilannya masuk Program Studi Psikologi UM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Konten tersebut ternyata mendapat respons positif. Sejumlah calon mahasiswa mulai menghubunginya untuk mencari informasi mengenai persiapan masuk perguruan tinggi, khususnya Psikologi UM.
“Awalnya aku berpikir, kenapa tidak TikTok-ku ini dijadikan bahan sharing supaya teman-teman yang mau masuk Psikologi UM atau melalui SNBP bisa mempersiapkan diri lebih matang?” ungkapnya saat diwawancarai Humas UM, Jumat (30/10).
Dari aktivitas berbagi tersebut, peluang lain mulai berdatangan. Nisriina memperoleh tawaran endorsement, kerja sama dengan sejumlah merek, hingga penghasilan dari konten digital.
Ia juga mendapatkan kesempatan mengikuti sertifikasi Digital Marketing berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui program Beasiswa Bank Indonesia.
Meski demikian, ia tidak menjadikan penghasilan sebagai tujuan utama. Nisriina memandang berbagai peluang tersebut sebagai bonus dari keberanian mencoba dan konsistensi menghasilkan konten yang bermanfaat.
Aktif Berburu Beasiswa dan Prestasi
Kesibukan tidak membuat Nisriina berhenti mengembangkan kemampuan akademik maupun nonakademiknya. Ia justru aktif mencari berbagai kesempatan untuk menambah pengalaman dan memperluas jejaring.
Salah satu pencapaiannya adalah lolos sebagai finalis kompetisi esai internasional di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia. Dalam kompetisi tersebut, ia mengembangkan prototipe situs web yang dirancang untuk mengukur tingkat kecemasan atau depresi mahasiswa.
Gagasan itu berangkat dari kepeduliannya terhadap kebutuhan dukungan psikologis di lingkungan perguruan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik.
“Buatku, lomba bukan sekadar gelar kejuaraan atau prestasi. Aku ingin mendapatkan pengalaman dan relasi, bertemu orang-orang yang punya minat serupa, serta belajar hal baru dari setiap kesempatan yang aku ikuti,” jelasnya.
Nisriina juga tercatat sebagai penerima Beasiswa Bank Indonesia pada tahun sebelumnya dengan bantuan Rp12 juta untuk satu semester. Pada tahun berikutnya, ia kembali mendapatkan Beasiswa Bangun Muamalat dari UM.
Peluang tersebut tidak datang begitu saja. Ia aktif mencari informasi melalui media sosial, dosen, hingga kakak tingkat. Setiap kesempatan yang dinilai sesuai dengan kebutuhannya berusaha dipersiapkan melalui penyusunan esai, pemenuhan persyaratan, dan latihan wawancara.
“Kesempatan itu harus kita cari. Aku tidak malas mencari informasi, mulai dari TikTok, kakak tingkat, sampai dosen. Kalau ada peluang yang sesuai, aku berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin,” ujarnya.
Baginya, beasiswa bukan hanya bantuan finansial, tetapi juga sarana belajar mandiri sekaligus membantu meringankan beban orang tua.
Belajar Mengelola Ambisi dan Mengenali Batas Diri
Menjalani banyak aktivitas membuat Nisriina harus memiliki strategi dalam mengatur waktu. Ia tetap menempatkan kuliah sebagai prioritas utama, mencicil tugas setelah perkuliahan, serta memanfaatkan akhir pekan untuk menyelesaikan pekerjaan lain.
Ketika pekerjaan semakin menumpuk, ia tidak ragu berkolaborasi dengan tenaga lepas untuk membantu penyuntingan konten maupun produksi kerajinan. Cara tersebut dilakukan agar berbagai tanggung jawab tetap berjalan tanpa mengorbankan kegiatan akademik.
Namun, ia mengakui tidak selalu mudah menjaga keseimbangan. Ada kalanya kesibukan dan target yang terlalu banyak membuatnya mengalami burnout.
Dari pengalaman itu, Nisriina belajar bahwa memaksakan diri menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus bukanlah solusi. Ia memilih mengambil jeda, beristirahat, melakukan refleksi, kemudian menyusun kembali prioritas berdasarkan tingkat urgensi.
“Berambisi sebanyak apa pun itu boleh, tetapi kita harus tahu kapabilitas dan kapasitas diri. Jangan sampai ambisi kita melebihi kemampuan kita. Dari situ aku belajar bahwa manusia memang tidak ada yang sempurna,” tuturnya.
Ia juga berusaha menjaga keseimbangan melalui pola tidur yang cukup, olahraga, serta meluangkan waktu bersama keluarga. Baginya, menjaga kesehatan dan mengenali kebutuhan diri sama pentingnya dengan mengejar pencapaian.
Produktif untuk Masa Depan dan Memberi Manfaat
Di tengah berbagai aktivitasnya, Nisriina tetap memiliki tujuan jangka panjang. Ia bercita-cita menjadi psikolog, melanjutkan pendidikan, dan suatu hari mendirikan biro psikologi sendiri.
Ia juga ingin mengembangkan usaha yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi orang lain. Sementara melalui media sosial, ia berharap dapat terus berbagi pengalaman serta mendorong generasi muda agar berani mencoba berbagai peluang.
Menurutnya, masa kuliah merupakan kesempatan untuk mengenali potensi, memperluas pengalaman, dan membangun kemampuan yang akan berguna pada masa depan.
“Coba saja dulu. Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu hasilnya. Kalau kita tidak memulai sekarang, kapan lagi?” pesannya kepada mahasiswa UM yang ingin berprestasi, mencoba beasiswa, maupun mulai berkarya.
Perjalanan Nisriina memperlihatkan bahwa menjadi mahasiswa produktif bukan tentang seberapa banyak aktivitas yang mampu dilakukan dalam satu waktu. Lebih dari itu, diperlukan kemampuan mengelola prioritas, keberanian mengambil peluang, serta kesadaran untuk mengenali batas kemampuan diri.
Sebab, ambisi yang sehat bukan sekadar mendorong seseorang mencapai lebih banyak hal, tetapi juga mengajarkannya menjaga keseimbangan agar setiap proses tetap bermakna.



