Mahasiswa ITN Malang Raih The Best W9 Style di Malang Modifest Vol 3, Buktikan Karya Teknik Mesin Mampu Bersaing Nasional

Mahasiswa ITN Malang Raih The Best W9 Style di Malang Modifest Vol 3, Buktikan Karya Teknik Mesin Mampu Bersaing Nasional

Indonesiandaily.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Dibyokaryono Timoteus, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin S-1 yang dikenal dengan nama panggung Antimojolali, sukses meraih penghargaan The Best W9 Style. Yakni pada ajang modifikasi motor berskala nasional Malang Modifest Vol. 3 yang digelar di Transmart MX Mall Malang, Minggu (2/8/2026).

Kompetisi yang diikuti ratusan modifikator dari berbagai daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, hingga Lombok. Event ini menjadi panggung pembuktian bahwa kreativitas mahasiswa tidak hanya lahir di ruang kuliah. Tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional.

Keberhasilan Timo tidak diraih seorang diri. Ia berkolaborasi dengan rekan-rekan sesama mahasiswa Teknik Mesin S-1 ITN Malang, yakni M. Reza Caesar Ary, Moch. Naufal Zaky R., Gary Gamawanto, dan Farrel Aditya Pramono. Kolaborasi tersebut menghasilkan karya modifikasi yang memadukan ketelitian teknik dengan sentuhan estetika, hingga memikat perhatian dewan juri dari Ototrend.

“Sejak awal kami memang ingin membuktikan bahwa riset dan praktik mahasiswa Teknik Mesin ITN Malang tidak hanya berhenti di kelas, tetapi juga bisa diuji langsung di ajang kontes modifikasi motor tingkat nasional. Gelar The Best W9 Style ini merupakan bonus dari konsistensi kami menjaga setiap detail,” ujar Timo.

Pada kompetisi tersebut, Timo mengikuti kategori Meet Up Class dengan membawa tiga motor sekaligus. Yakni Honda GL Pro untuk kelas Classic Minimalis, Grand Astrea pada kelas Street Engine. Serta Megapro GL Series di kategori Honda Modifikasi.

Dari ketiga motor tersebut, Megapro GL Series menjadi sorotan hingga berhasil masuk nominasi utama dan akhirnya meraih penghargaan The Best W9 Style.

Menurut Timo, motor tersebut awalnya dipersiapkan untuk kategori Honda Modifikasi. Namun, setelah dilakukan perubahan menggunakan velg jari-jari, motor itu memenuhi karakteristik aliran W9 Style (Walisongo Style). Salah satu gaya modifikasi yang berkembang dari subkultur Herex Jawa Timur dan identik dengan motor sport Honda GL Series.

“Inspirasinya berasal dari ciri khas Walisongo yang menggunakan tromol kecil. Saya mengganti kaliper, tabung minyak rem, menata ulang tromol, hingga velg. Bagian paling rumit adalah menyusun velg dan tromol belakang karena dikejar waktu. Atas masukan juri, saya mengganti velg palang menjadi velg jari-jari agar memiliki nilai seni yang lebih kuat,” jelas mahasiswa asal Yogyakarta tersebut.

Di balik keberhasilan itu, tersimpan perjuangan yang tidak ringan. Dalam waktu sekitar dua pekan. Timo bersama tim harus menyelesaikan modifikasi tiga motor sekaligus, di tengah kesibukan menyelesaikan revisi tugas akhir dan berbagai urusan administrasi kampus.

Bahkan, drama terjadi tepat pada hari pendaftaran kontes. Saat hendak menuju lokasi loading motor sekitar pukul 07.00 WIB, Timo bersama rekannya mengalami kecelakaan kecil akibat menabrak kendaraan yang berhenti mendadak.

“Kami sempat menabrak mobil di depan yang mengerem mendadak. Syukurlah tidak terjadi hal serius dan kami masih sempat mengejar jadwal loading motor,” kenangnya.

Meski semula menargetkan penghargaan The Best GL CB MP Tiger, Timo mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraih. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran. Terutama mengenai perkembangan regulasi terbaru dalam dunia kontes modifikasi.

“Ikut event ini membuat saya semakin memahami regulasi baru untuk persiapan kompetisi berikutnya. Saya juga merasa masih harus banyak belajar dari modifikator asal Yogyakarta dan Solo yang menjadi kiblat saya. Persaingan di Jawa Timur sendiri sudah sangat kompetitif,” katanya.

Prestasi tersebut tidak membuat Timo dan tim berpuas diri. Mereka kini tengah mempersiapkan sejumlah pembaruan pada motor. Mulai dari penggunaan block engine CNC, peningkatan sistem front shockbreaker. Hingga preload shock belakang untuk menghadapi kompetisi di Surabaya pada akhir Agustus serta Denpasar pada 11–12 September 2026.

Malang Modifest Vol. 3 yang digelar oleh ENZ Garage menghadirkan atmosfer kompetisi nasional dengan membuka 13 kelas utama, ratusan kategori Meet Up Class, serta perebutan gelar King yang diikuti para kreator otomotif dari berbagai daerah di Indonesia.

Keberhasilan Timo menjadi bukti bahwa ITN Malang terus mendorong mahasiswa mengembangkan kompetensi melalui karya nyata. Sinergi antara ilmu teknik, kreativitas, dan pengalaman lapangan menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk menghasilkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional sekaligus mengharumkan nama kampus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *