Dosen Humaniora UIN Malang Bekali Guru MAN 1 Banyuwangi Komunikasi Antarbudaya

Dosen Humaniora UIN Malang Bekali Guru MAN 1 Banyuwangi Komunikasi Antarbudaya

Indonesiandaily.com – Dua dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membekali guru dan peserta Workshop Bahasa Asing (Arab–Inggris) di MAN 1 Banyuwangi dengan pemahaman komunikasi antarbudaya. Kegiatan pada 13 Oktober 2026 ini menekankan pentingnya memahami konteks budaya agar komunikasi tidak berhenti pada kemampuan berbahasa.

Workshop yang menjadi bagian dari program Khidmah Ijtima’iyyah tersebut menghadirkan Dr. Muzakki Afifuddin, S.S., M.Pd., dan Masrokhin, M.A., Ph.D. Keduanya mengajak peserta memahami bahwa bahasa tidak sekadar berisi kosakata dan tata bahasa, tetapi juga membawa nilai, identitas, kesantunan, serta makna sosial.

Dalam praktiknya, ungkapan yang sama dapat memiliki arti berbeda bergantung pada situasi dan latar belakang budaya. Kalimat “Could you help me?”, misalnya, bukan sekadar pertanyaan tentang kemampuan seseorang, melainkan bentuk permintaan secara santun.

Pemahaman tersebut penting dalam pembelajaran bahasa Arab dan Inggris agar siswa mampu menyampaikan pesan secara tepat sekaligus menghindari kesalahpahaman saat berinteraksi dengan orang dari latar belakang berbeda.

Mencegah Salah Menilai Perilaku Siswa

Materi workshop juga membahas Developmental Model of Intercultural Sensitivity (DMIS) yang dikembangkan Milton J. Bennett. Model ini menjelaskan enam tahap sensitivitas antarbudaya, mulai dari penyangkalan dan pertahanan hingga penerimaan, adaptasi, dan integrasi.

Pendekatan tersebut diperkuat melalui aktivitas “Detektif Budaya”, yang mengajak peserta menganalisis perilaku tanpa terburu-buru memberikan penilaian.

Siswa yang sering bertanya, misalnya, belum tentu menunjukkan sikap tidak sopan. Sebaliknya, siswa yang diam dalam diskusi tidak otomatis berarti tidak memiliki gagasan. Perilaku tersebut perlu dipahami berdasarkan situasi dan kebiasaan komunikasi masing-masing.

Dengan membedakan fakta dan asumsi, guru diharapkan mampu membangun interaksi pembelajaran yang lebih terbuka, reflektif, dan menghargai keberagaman.

Pembelajaran Bahasa Lebih dari Tata Bahasa

Workshop ini menempatkan guru bahasa sebagai pendamping siswa dalam memahami perspektif berbeda. Termasuk juga mengklarifikasi kesalahpahaman, serta berkomunikasi secara bertanggung jawab.

Kompetensi antarbudaya juga mencakup pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kesadaran budaya kritis. Kemampuan tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin keempat, khususnya target 4.7 yang mendorong pendidikan untuk menghargai keberagaman budaya dan membangun kesadaran sebagai warga global.

Melalui program Khidmah Ijtima’iyyah, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghubungkan keilmuan bahasa dan budaya dengan kebutuhan nyata di lingkungan pendidikan.

Pembelajaran bahasa asing diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa yang terampil berbicara. Namun juga mampu mendengarkan, memahami perbedaan, dan membangun komunikasi yang saling menghormati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *