Bernapas Lewat Mulut pada Anak Bisa Jadi Sinyal Gangguan Susunan Gigi, Mahasiswa Polinema Bikin Alat Skrining

Indonesiandaily.com – Kebiasaan anak bernapas melalui mulut sering dianggap sebagai hal sepele. Padahal, jika berlangsung dalam waktu lama, pola pernapasan tersebut dapat berkaitan dengan perubahan pertumbuhan rahang dan susunan gigi.

Persoalan itu coba dijawab mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) melalui sebuah perangkat bernama OrthoBreath. Alat ini dirancang untuk melakukan skrining awal terhadap kebiasaan bernapas melalui mulut sekaligus mendokumentasikan kondisi gigi bagian depan anak.

OrthoBreath dikembangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) 2026. Timnya menggabungkan teknologi sensor tekanan udara dan kamera digital dalam sebuah perangkat yang relatif ringkas.

Cara kerjanya cukup sederhana. Anak hanya perlu menempelkan wajah pada bidang yang tersedia, kemudian bernapas secara normal selama beberapa puluh detik.

Di dalam alat terdapat dua sensor tekanan diferensial yang bekerja pada kanal hidung dan mulut. Sensor tersebut merekam tekanan ketika anak mengembuskan napas, kemudian sistem menghitung perbandingan aliran udara yang keluar melalui mulut terhadap keseluruhan aliran pernapasan.

Jika proporsi napas melalui mulut melebihi 30 persen, sistem akan memberikan penanda sebagai indikasi risiko tinggi.

Bukan Sekadar Soal Cara Bernapas

Kebiasaan bernapas melalui mulut atau mouth breathing dapat muncul ketika saluran hidung mengalami gangguan. Kondisinya antara lain berkaitan dengan rinitis alergi kronis, pembesaran adenoid, hingga pembesaran tonsil.

Jika berlangsung lama ketika anak berada dalam fase pertumbuhan, pola tersebut dapat memengaruhi posisi lidah dan keseimbangan tekanan pada lengkung rahang atas. Kondisi itu berpotensi berkontribusi terhadap terjadinya maloklusi, termasuk susunan gigi yang tidak teratur.

Masalahnya, tanda-tanda tersebut tidak selalu mudah dikenali sejak awal oleh orang tua.

OrthoBreath karena itu tidak hanya membaca pola pernapasan. Kamera mini yang ditempatkan di dalam perangkat turut mengambil citra gigi bagian depan.

Citra tersebut dapat digunakan untuk mendokumentasikan indikasi seperti gigitan terbuka, gigi berjejal, maupun bentuk maloklusi lainnya.

Data hasil pengukuran kemudian dikirim secara nirkabel ke komputer. Sistem menampilkannya dalam laporan yang memuat grafik rasio pernapasan, foto gigi, serta riwayat pemeriksaan.

Satu kali pemeriksaan hingga laporan tersedia membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua menit. Prosesnya juga tidak menggunakan radiasi dan tidak membutuhkan komponen yang dimasukkan ke dalam mulut.

Mahasiswa Telekomunikasi Bertemu Informatika

OrthoBreath dikerjakan lima mahasiswa dari dua bidang keahlian berbeda. Gerry Norcahyo Herlino, Rizky Dharma Putra, dan Fajar Aflakha Hamid berasal dari D-III Teknik Telekomunikasi.

Sementara Fajar Bayu Kusuma dan Ahmad Fadlih Wahyu Sardana berasal dari Sarjana Terapan Teknik Informatika.

Kolaborasi tersebut terlihat dari konstruksi alat hingga sistem pengolahan datanya. Tim Teknik Telekomunikasi mengerjakan aspek bodi perangkat dan instrumentasi sensor, sedangkan bidang Informatika menangani perangkat lunak, pengolahan data, serta antarmuka berbasis website.

Dosen pembimbing, Vivi Nur Wijayaningrum, menegaskan bahwa OrthoBreath tidak dirancang untuk menggantikan pemeriksaan dokter.

Alat tersebut hanya menjadi instrumen skrining awal untuk menemukan tanda yang perlu ditindaklanjuti.

Dengan demikian, hasil pengukuran tidak dapat digunakan sebagai diagnosis akhir. Keputusan klinis tetap berada pada tenaga kesehatan, khususnya dokter gigi.

Diuji dari Dua Perspektif Medis

Pengembangan OrthoBreath juga melibatkan evaluasi dari dokter gigi dan dokter umum.

Dokter gigi menilai parameter yang digunakan untuk melihat indikasi maloklusi serta kualitas citra gigi yang dihasilkan perangkat. Sementara dokter umum memberikan penilaian terhadap aspek pengukuran pernapasan dan keamanan penggunaan alat pada anak.

Konsep tersebut membuat OrthoBreath diarahkan bukan sebagai perangkat pemeriksaan mandiri di rumah.

Penggunaannya lebih cocok ditempatkan di klinik gigi, puskesmas, maupun kegiatan penjaringan kesehatan anak di sekolah. Terutama pada layanan yang memiliki keterbatasan akses terhadap pemeriksaan radiografi.

Bagi tim pengembang, kemampuan menemukan indikasi lebih awal menjadi bagian penting dari inovasi tersebut.

Sebab, masa pertumbuhan anak merupakan periode ketika perkembangan rahang masih berlangsung. Jika masalah dapat diketahui lebih dini, anak berpeluang memperoleh penanganan sebelum kondisi berkembang menjadi persoalan yang lebih kompleks.

Di titik itu, OrthoBreath tidak sekadar menawarkan alat untuk membaca cara anak bernapas. Inovasi mahasiswa Polinema tersebut mencoba menjembatani kebutuhan skrining sederhana dengan persoalan kesehatan gigi yang selama ini berpotensi terlambat dikenali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *