Indonesiandaily.com – Mahasiswa baru tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik untuk menghadapi dunia perkuliahan. Kemandirian mengambil keputusan, kemampuan mengelola tekanan, dan keberanian mencari solusi menjadi bekal penting agar mampu bertahan dan berkembang selama menjalani studi.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., dalam Kajian Al-Qur’an Maghrib Isya (KAMISYA) bertajuk Growth Mindset di Tengah Tantangan Kuliah, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Masjid A.R. Fachruddin Kampus III UMM itu diwajibkan bagi mahasiswa baru Generasi 26 pada semester ganjil 2026/2027.
Salis mengajak mahasiswa memahami bahwa kehidupan kampus membawa tanggung jawab yang berbeda dari masa sekolah. Mahasiswa dituntut mengatur jadwal, menentukan pilihan mata kuliah, hingga mempertimbangkan risiko dari setiap keputusan.
“Kalau sekolah dulu kehidupan kita rutin dari jam 7 pagi sampai siang. Kalau kuliah tidak,” ujar Salis.
Menurut dia, perubahan tersebut dapat memicu tekanan psikologis, keraguan terhadap pilihan jurusan, hingga homesick atau kerinduan terhadap rumah, terutama bagi mahasiswa yang merantau.
Growth Mindset Membantu Mahasiswa Menghadapi MasalahÂ
Salis menekankan pentingnya kemampuan menyikapi persoalan secara logis dan berorientasi pada solusi. Mahasiswa perlu membedakan persoalan yang bisa dikendalikan dan hal-hal yang justru dapat mengalihkan perhatian dari tujuan utama.
Ia mencontohkan kisah seorang mahasiswa asal Afrika yang menempuh pendidikan di Eropa. Ketika menghadapi perlakuan rasis, mahasiswa tersebut memilih tetap berfokus pada tujuan pendidikannya.
“Saya ke sini untuk kuliah, bukan untuk ngurusi persoalan semacam itu,” kata Salis, mengilustrasikan respons mahasiswa tersebut.
Ia kemudian menjelaskan perbedaan fixed mindset dan growth mindset. Pola pikir pertama cenderung memandang kemampuan dan keadaan sebagai sesuatu yang sulit berubah. Sebaliknya, growth mindset mendorong seseorang melihat kesulitan sebagai bagian dari proses belajar dan pengembangan diri.
“Fixed mindset itu menganggap apa yang sudah ada ya apa adanya. Sementara growth mindset melihat segala sesuatu adalah proses belajar,” tegasnya.
Melalui simulasi interaktif merobek kertas, Salis mengajak mahasiswa memahami bahwa menghadapi masalah tidak cukup dengan mengeluh. Diperlukan kemampuan berpikir kreatif untuk menemukan alternatif dan jalan keluar.
Kelola Tekanan Kuliah Tanpa Kehilangan ArahÂ
Kajian berlangsung interaktif melalui kuis motivasi yang mengajak mahasiswa menghubungkan materi psikologi dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Salah satu ayat yang menjadi perhatian ialah Surah Al-Insyirah, yang mengingatkan tentang kemudahan bersama kesulitan.
Pesan tersebut memperkuat pembahasan mengenai ketangguhan mental atau resiliensi. Dalam kehidupan perkuliahan, mahasiswa dapat merasa lelah, tertekan, atau kecewa ketika menghadapi hambatan. Namun, perasaan tersebut perlu dikelola agar tidak menghalangi upaya mencari solusi.
Salis mengingatkan bahwa mengakui beratnya perjuangan kuliah merupakan hal yang manusiawi. Meski demikian, mahasiswa perlu menghindari anggapan bahwa dirinya menghadapi beban paling berat dibandingkan orang lain.
Menurut dia, kemampuan berpikir rasional juga perlu berjalan beriringan dengan kekuatan spiritual. Dalam perspektif Islam, akal berperan penting dalam mempertimbangkan pilihan, tetapi tetap harus dipandu oleh hati yang terhubung dengan Allah SWT.
“Kalau Barat mengatakan akal itu segalanya, Islam tidak demikian. Islam mengatakan akal itu hanyalah panglima, rajanya adalah qolbu (hati),” paparnya.
Pengetahuan dan Ketauhidan Jadi Bekal BertumbuhÂ
Menutup kajian, Salis mengingatkan mahasiswa agar terus memperluas pengetahuan sebagai bekal menghadapi beragam persoalan. Semakin banyak referensi yang dimiliki, semakin terbuka pula kemungkinan untuk menemukan solusi.
Namun, pengembangan intelektual perlu diimbangi dengan penguatan spiritual. Mahasiswa tidak hanya dituntut cakap menganalisis masalah, tetapi juga menjaga nilai-nilai ketauhidan dalam mengambil keputusan.
“Penting menambah pengetahuan agar akal punya banyak referensi, tapi jangan lupa kalbunya diisi dengan mengingat Allah,” pungkasnya.
Melalui KAMISYA, mahasiswa baru UMM diajak memandang tantangan kuliah bukan semata-mata sebagai sumber tekanan, melainkan kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, tangguh, dan bijak dalam menentukan langkah.



