Indonesiandaily.com – Kolaborasi akademik Universitas Brawijaya (UB) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, mulai bergerak dari ruang kuliah menuju riset yang menyentuh persoalan kesehatan.
Melalui Program Adjunct Professor Departemen Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Maju (FSTeM) UB, kedua perguruan tinggi mengembangkan penelitian di bidang medical imaging, khususnya pemanfaatan teknologi pengolahan citra untuk membantu mendeteksi lesi payudara.
Kolaborasi tersebut melibatkan Dr. Zahari Md Rodzi, Senior Lecturer UiTM, sebagai Adjunct Professor bersama dosen Departemen Matematika FSTeM UB, Syaiful Anam, S.Si., M.T., Ph.D.
Riset yang dihasilkan mengangkat judul “A Hybrid SVNS–TOPSIS-Based Framework for Breast Lesion Detection and Malignancy Risk Ranking from Mammographic Images under Uncertainty.”
Penelitian ini merancang kerangka hibrida SVNS–TOPSIS untuk mendeteksi lesi pada citra mammografi sekaligus melakukan pemeringkatan risiko keganasan ketika data yang dianalisis mengandung unsur ketidakpastian.
Dengan pendekatan tersebut, pengolahan citra tidak berhenti pada proses mengenali objek dalam gambar. Hasil analisis kemudian diarahkan menjadi informasi yang dapat digunakan dalam sistem pendukung keputusan untuk membantu pemeringkatan risiko.
Artikel hasil penelitian kolaboratif itu telah disubmit ke jurnal internasional Big Data and Computing Visions (BDCV). Dalam laporan kemajuan program, jurnal tersebut tercatat sebagai jurnal terindeks Scopus Q2.
Naskah selanjutnya menjalani proses editorial dan peer review sesuai mekanisme penerbitan jurnal.
Dari Perkuliahan ke Meja Riset
Kolaborasi UB dan UiTM tidak dibangun hanya melalui publikasi. Sebelumnya, Dr. Zahari juga terlibat dalam perkuliahan internasional bertajuk “Adjunct Professor in Image Processing and Computer Vision: Medical Imaging and Decision Support Systems.”
Perkuliahan digelar secara daring pada 16 dan 17 Juni 2026. Mahasiswa Departemen Matematika FSTeM UB mendapat kesempatan mengikuti pembahasan langsung mengenai perkembangan image processing dan computer vision dalam bidang citra medis.
Pada sesi pertama, materi diarahkan pada pengenalan konsep image processing dan computer vision serta penerapannya untuk menganalisis citra medis.
Sementara sesi kedua masuk ke ranah implementasi. Pembahasan berfokus pada penggunaan berbagai metode pengolahan citra dan computer vision untuk menjawab persoalan yang muncul dalam analisis citra medis.
Skema tersebut membuat program Adjunct Professor memiliki dua jalur sekaligus. Mahasiswa memperoleh paparan akademik internasional, sementara dosen dan peneliti dapat mengembangkan gagasan tersebut ke dalam agenda penelitian bersama.
Riset Berlanjut ke Kuala Lumpur
Interaksi akademik kemudian berlanjut melalui diskusi penelitian secara daring maupun tatap muka.
Diskusi daring digunakan untuk memantau perkembangan riset, membahas metodologi, menganalisis hasil penelitian, hingga menyusun manuskrip ilmiah.
Kolaborasi semakin intensif ketika tim melakukan diskusi riset secara luring di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk mengevaluasi hasil penelitian dan memperdalam metodologi. Termasuk pula menyempurnakan manuskrip, serta membahas peluang pengembangan riset berikutnya.
Dengan pola tersebut, hubungan akademik UB dan UiTM tidak berhenti setelah perkuliahan selesai. Program berkembang menjadi rangkaian kerja bersama yang mencakup pembelajaran. Juga penelitian, penulisan manuskrip, hingga proses publikasi.
Matematika Masuk ke Teknologi Kesehatan
Bagi Departemen Matematika FSTeM UB, kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan. Bagaimana matematika dan komputasi dapat diterapkan pada persoalan kesehatan.
Pengembangan medical imaging memerlukan kombinasi pengolahan data, algoritma, analisis citra, serta sistem pengambilan keputusan. Kolaborasi dengan UiTM membuka ruang bagi pengembangan kompetensi tersebut melalui riset lintas negara.
Program ini juga berkaitan dengan sejumlah agenda pembangunan berkelanjutan, antara lain SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan. Juga SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 9 mengenai inovasi dan teknologi, serta SDG 17 tentang kemitraan global.
Melalui Program Adjunct Professor, FSTeM UB menempatkan internasionalisasi bukan sekadar pada pertukaran akademik. Tetapi juga pada produksi pengetahuan bersama.
Riset mengenai citra mammografi menjadi salah satu contoh bagaimana jejaring internasional tersebut diarahkan untuk menghasilkan karya ilmiah. Sekaligus membuka ruang penerapan matematika, komputasi, dan computer vision pada persoalan nyata.



