Indonesiandaily.com – Tumpukan kotoran sapi dan sisa dapur yang selama ini identik dengan bau serta sampah tak terpakai mulai mendapat perlakuan berbeda di Dusun Boro, Desa Jabung, Kabupaten Malang.
Persoalan limbah peternakan dan sampah rumah tangga tersebut menjadi sasaran pendampingan mahasiswa Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik (KSM-T) Kelompok 04 Universitas Islam Malang (UNISMA).
Selama Agustus hingga September 2026, mahasiswa mengajak warga tidak sekadar membuang limbah, tetapi mengolahnya menjadi produk yang bisa kembali dimanfaatkan.
Kotoran sapi perah diolah menjadi pupuk kompos, sementara sisa sayuran dan buah dari dapur dimanfaatkan sebagai bahan baku eco-enzyme.
Program tersebut didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KSM-T Kelompok 04 UNISMA, Dr. Surya Sari Faradiba, S.Si., M.Pd., bersama KSM-T Kelompok 03 dari Dusun Gunung Kunci.
Dari Kotoran Sapi Menjadi Kompos
Bagi warga yang sehari-hari beraktivitas di lingkungan peternakan, kotoran sapi merupakan limbah yang terus dihasilkan. Jika tidak segera ditangani, limbah tersebut dapat mengganggu kebersihan lingkungan dan menimbulkan bau.
Mahasiswa kemudian memperagakan pengolahan kotoran sapi menjadi kompos super dengan takaran yang relatif sederhana.
Untuk menghasilkan sekitar 100 kilogram bahan kompos, digunakan 70–80 kilogram kotoran sapi perah yang telah ditiriskan. Bahan tersebut dicampur dengan 15–20 kilogram jerami kering dan 1–2 kilogram kapur dolomit.
Campuran itu kemudian diberi larutan pengurai berupa 200 mililiter EM4 dan 200 mililiter molase yang dilarutkan dalam 10–15 liter air.
Setelah seluruh bahan tercampur rata, adonan ditutup dan dibolak-balik secara berkala hingga proses pengomposan selesai.
Mahasiswa tidak hanya memberikan materi, tetapi juga menjelaskan tahapan perawatan agar warga dapat melanjutkan proses tersebut secara mandiri di rumah.

Sampah Dapur Tak Lagi Berakhir di Tempat Sampah
Persoalan lain datang dari aktivitas rumah tangga. Sisa sayuran, kulit buah, dan bahan organik dapur umumnya langsung dibuang tanpa melalui proses pemilahan.
Melalui program yang sama, mahasiswa memperkenalkan eco-enzyme sebagai salah satu alternatif pemanfaatan limbah organik tersebut.
Warga diperkenalkan dengan komposisi 1:3:10. Satu bagian molase atau gula merah dicampur dengan tiga bagian sisa bahan dapur segar dan 10 bagian air bersih.
Campuran dimasukkan ke dalam wadah plastik tertutup untuk menjalani proses fermentasi selama sekitar tiga bulan.
Metode tersebut diharapkan membuat warga mulai melihat sampah organik dari sudut pandang berbeda. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dikumpulkan dan diolah kembali.
Mahasiswa Dorong Kebiasaan Baru
Antusiasme warga terlihat selama proses pendampingan. Sejumlah warga aktif menanyakan takaran bahan, teknik pencampuran hingga cara menjaga proses fermentasi agar tetap berjalan dengan baik.
DPL KSM-T Kelompok 04 UNISMA, Dr. Surya Sari Faradiba, mengatakan program tersebut dirancang agar solusi yang diberikan tidak berhenti ketika kegiatan mahasiswa berakhir.
“Warga bisa mengolah limbah di sekitarnya menjadi barang berdaya guna secara mandiri dan mudah,” ucap Dr Faradiba.
Menurutnya, pengolahan kotoran sapi menjadi kompos memiliki manfaat ganda. Selain membantu mengurangi persoalan limbah peternakan, hasil pengolahan juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung aktivitas pertanian warga.
Sementara pemanfaatan sampah dapur melalui eco-enzyme diarahkan untuk membangun kebiasaan memilah sampah dari tingkat rumah tangga.
Kolaborasi KSM-T Kelompok 03 dan 04 UNISMA tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara soal pengolahan limbah. Lebih jauh, mahasiswa mencoba mengenalkan pola sederhana agar warga Dusun Boro dapat mengelola persoalan lingkungan dengan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Dengan begitu, kotoran ternak dan sampah dapur yang sebelumnya menjadi persoalan sehari-hari perlahan dapat diposisikan sebagai bahan yang masih memiliki nilai guna.



