Jerami Padi Disulap Jadi Bio-Plug, Mahasiswa Polinema Cari Alternatif Pengganti Polybag

Jerami Padi Disulap Jadi Bio-Plug, Mahasiswa Polinema Cari Alternatif Pengganti Polybag

Indonesiandaily.com – Tumpukan jerami yang selama ini identik dengan limbah pascapanen mulai dilirik sebagai bahan baku produk ramah lingkungan. Mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengolah serat jerami padi menjadi Direct-Plant Bio-plug, media semai yang dirancang dapat langsung digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Inovasi bernama STRAWTECH tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Teknik Mesin dan Teknik Kimia.

Tim tidak sekadar mengubah limbah pertanian menjadi material baru. Mereka mencoba merancang bio-plug yang dapat berfungsi sebagai wadah sekaligus media tumbuh, sehingga penggunaannya berpotensi mengurangi kebutuhan polybag plastik sekali pakai pada tahap pembibitan.

Dari Limbah Panen Menjadi Material Semai

Jerami padi memiliki kandungan selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang membuatnya berpotensi dikembangkan menjadi bahan biokomposit.

Namun, pemanfaatannya di tingkat lapangan masih terbatas. Jerami setelah panen kerap dibakar, dibenamkan kembali ke lahan, atau dibiarkan begitu saja.

STRAWTECH mencoba mengambil sisi lain dari persoalan tersebut. Serat jerami diproses sedemikian rupa agar memiliki karakteristik yang sesuai untuk dibentuk menjadi bio-plug.

Mahasiswa Teknik Mesin menangani aspek rekayasa melalui pengembangan high-shear cutter. Mesin ini digunakan untuk memperkecil sekaligus menyeragamkan ukuran serat jerami.

Pengujian mesin dilakukan pada tiga variasi kecepatan putaran, yakni 1.500, 2.500, dan 3.500 RPM.

Sementara mahasiswa Teknik Kimia mengolah serat melalui sejumlah tahapan. Proses tersebut meliputi perlakuan alkali menggunakan NaOH, netralisasi, hingga pencampuran serat dengan perekat berbasis pati.

Diuji dari Kekuatan hingga Biodegradasi

Serat yang telah diproses kemudian diformulasikan bersama pati dalam beberapa komposisi untuk menghasilkan material bio-plug.

Material tersebut tidak langsung dianggap berhasil. Tim melakukan serangkaian pengujian untuk mengetahui kemampuan bio-plug ketika digunakan sebagai media semai.

Beberapa parameter yang diamati meliputi kekuatan mekanik, daya serap air, serta kemampuan material terdegradasi setelah berada di dalam tanah.

Tantangannya adalah menemukan komposisi yang cukup kuat untuk menopang tanaman selama masa semai, tetapi tetap mampu terurai secara alami setelah berada di lingkungan tanah.

Pengujian kemudian dilanjutkan pada tanaman. Benih cabai dan tomat lokal digunakan untuk melihat respons pertumbuhan pada media bio-plug berbasis jerami.

Tim mengamati persentase dan kecepatan perkecambahan, kemampuan akar menembus dinding bio-plug, tinggi tanaman, jumlah daun sejati, hingga diameter batang.

Dengan pola tersebut, STRAWTECH tidak berhenti pada eksperimen material. Performa produk juga diarahkan untuk diuji berdasarkan fungsi akhirnya sebagai media pembibitan.

Petani Melihat Peluang Ekonomis

Potensi bio-plug tersebut turut mendapat perhatian dari pelaku pertanian. Hanif, petani melon di Karangploso, Kabupaten Malang, menilai inovasi semacam ini memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai alternatif media penyemaian.

Menurut dia, kebutuhan terhadap media semai cukup besar. Di sisi lain, sejumlah bahan yang selama ini digunakan petani, seperti cocopeat dan arang sekam, mengalami kenaikan harga.

“Bio-plug ini sangat luas potensinya di dunia pertanian, terutama untuk penyemaian yang sangat dibutuhkan,” ujar Hanif.

Ia berharap inovasi berbasis jerami tersebut dapat menjadi pilihan baru bagi petani, terutama jika nantinya mampu diproduksi secara efektif dan memiliki harga yang kompetitif.

“Dengan harga media semai seperti cocopeat dan arang sekam yang mulai melonjak, saya berharap inovasi ini dapat menjadi alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku pertanian,” lanjutnya.

STRAWTECH pada akhirnya mempertemukan dua persoalan dalam satu riset: bagaimana meningkatkan nilai guna limbah pertanian dan bagaimana mencari material alternatif untuk kegiatan pembibitan yang lebih ramah lingkungan.

Meski demikian, perjalanan inovasi ini belum selesai. Pengujian setelah tanaman dipindahkan dari media semai, uji lapangan, serta validasi performa dalam kondisi budidaya nyata masih diperlukan.

Jika tahapan tersebut berhasil dilalui, bio-plug berbasis jerami berpeluang dikembangkan lebih jauh sebagai material biodegradable sekaligus alternatif untuk mengurangi penggunaan polybag plastik pada pembibitan tanaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *