Indonesiandaily.com – Politeknik Negeri Malang (Polinema) ingin memastikan hubungan kampus dengan dunia industri tidak berhenti pada seremoni penandatanganan kerja sama.
Kampus vokasi itu mulai mendorong pola kemitraan yang lebih konkret. Salah satunya melalui evaluasi program magang, penyelarasan pembelajaran dengan kebutuhan industri, hingga membuka peluang rekrutmen lulusan.
Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) dan Inisiasi Kerja Sama yang digelar di Aula Anjasmaro Lantai 4, Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan lebih dari 40 mitra dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Total peserta yang hadir mencapai lebih dari 80 orang.
Bagi Polinema, forum ini menjadi ruang untuk menguji sejauh mana pendidikan vokasi telah menjawab kebutuhan perusahaan. Masukan dari mitra digunakan untuk membaca perubahan kompetensi yang dibutuhkan di lapangan kerja.
Direktur Polinema, Ir. Supriatna Adhisuwignjo, S.T., M.T., hadir dalam kegiatan tersebut. Forum juga melibatkan jajaran Diskominfo Jawa Timur atau perwakilannya.
Salah satu hasil yang langsung terlihat ialah penandatanganan enam dokumen kemitraan. Dokumen tersebut terdiri atas lima nota kesepahaman (MoU) dan satu perjanjian kerja sama (PKS).
Namun, agenda utama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen.
Wakil Direktur IV Polinema, Prof. Dr. Eng. Rosa Andrie Asmara, S.T., M.T., memaparkan praktik terbaik kerja sama dan pengembangan kelas kerja sama.
Pembahasan kemudian bergeser pada pengalaman mitra selama berkolaborasi dengan Polinema. Evaluasi pelaksanaan magang menjadi salah satu topik penting dalam forum tersebut.
Mitra juga diberi ruang untuk menyampaikan penilaian melalui kuesioner kepuasan. PT Pos Indonesia mengikuti diskusi secara langsung, sedangkan Telkomsel bergabung secara daring bersama mitra lainnya.
Dari forum tersebut, kebutuhan kolaborasi diarahkan pada program yang lebih terukur. Mulai dari pengembangan magang, penyusunan kurikulum yang lebih dekat dengan industri, hingga peluang penyerapan lulusan.
Langkah ini menjadi penting bagi pendidikan vokasi yang dituntut menghasilkan lulusan siap kerja. Perubahan teknologi dan kebutuhan perusahaan membuat kompetensi lulusan harus terus diperbarui.
Polinema pun menempatkan masukan industri sebagai salah satu pijakan untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Dengan pola tersebut, kerja sama kampus dan industri diharapkan tidak hanya menghasilkan dokumen administratif. Kemitraan diarahkan menjadi program yang benar-benar berdampak terhadap mahasiswa, perguruan tinggi, maupun perusahaan.
Forum FGD ini sekaligus memperkuat upaya Polinema membangun pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perubahan kebutuhan dunia kerja.
Bagi kampus, semakin dekat hubungan dengan industri, semakin besar pula peluang pembelajaran di kelas terhubung dengan persoalan nyata di lapangan.



