Prof Ibrahim Ingatkan Guru: Jangan Jadikan AI Sekadar Gaya, Pendidikan Tetap Butuh Sentuhan Manusia

Prof Ibrahim Ingatkan Guru: Jangan Jadikan AI Sekadar Gaya, Pendidikan Tetap Butuh Sentuhan Manusia

Indonesiandaily.com – Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi digital membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Namun, teknologi tidak boleh berhenti pada persoalan kecanggihan perangkat.

Wakil Rektor I Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, mengingatkan teknologi pendidikan harus benar-benar digunakan untuk memperkuat pembelajaran dan tetap menjaga sisi kemanusiaan.

Slider Ucapan HUT RI

Pesan tersebut disampaikan Prof. Ibrahim saat membuka The 5th International Conference on Innovation and Teacher Professionalism (ICITEP) 2026, Selasa (1/9/2026).

“Teknologi tidak seharusnya diadopsi hanya untuk kepentingan penggunaan teknologi itu sendiri, tetapi untuk memperkuat pembelajaran yang bermakna dan meningkatkan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan,” tegasnya.

Menurut Prof. Ibrahim, kehadiran AI, deep learning, maupun berbagai platform digital memang membuka peluang baru bagi pendidikan. Tetapi, pemanfaatannya harus ditempatkan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Artinya, guru tidak cukup hanya memahami cara mengoperasikan teknologi. Pendidik juga harus mampu menentukan kapan teknologi diperlukan, bagaimana menggunakannya, serta mempertimbangkan dampaknya terhadap peserta didik.

Guru Dituntut Mampu Ambil Keputusan Etis

Prof. Ibrahim menilai transformasi digital membuat kompetensi guru semakin kompleks. Kemampuan teknis harus berjalan beriringan dengan kemampuan pedagogis dan pertimbangan etis.

Penggunaan teknologi, lanjut dia, harus dilakukan secara bertanggung jawab, inklusif, dan efektif. Teknologi idealnya memperluas akses pendidikan sekaligus membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Pandangan tersebut menjadi salah satu isu penting dalam ICITEP 2026. Konferensi yang digelar Sekolah Pascasarjana UM pada 1–2 September 2026 ini mengusung tema “Emerging Technologies in Education: Implications for Teaching Quality, Professional Development, and Ethical Practice.”

Forum tersebut mempertemukan pendidik, peneliti, dan praktisi pendidikan dari Indonesia serta berbagai negara untuk membahas perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap kualitas pendidikan.

ICITEP 2026 menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional. Di antaranya Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., Prof. Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D., dan Dr. Ferry Maulana Putra, S.Pd.

Dari mancanegara, pembicara yang hadir antara lain Dr. Joel G. Tubera dari Philippine Normal University, Tommy Tanu Wijaya, Ph.D., dari Beijing Normal University, serta Prof. Susan Ledger dari University of Newcastle, Australia.

Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sekolah Pascasarjana UM, Dr. Muhammad Alfan, mengatakan konferensi tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan bagi pendidik, peneliti, dan praktisi pendidikan.

ICITEP 2026 diikuti 109 presenter yang terdiri atas dosen dan mahasiswa. Selain itu, terdapat 150 mahasiswa PPG, 47 guru pamong atau mentor teachers, serta peserta eksternal dan peserta daring dari sejumlah perguruan tinggi dalam maupun luar negeri.

Kehadiran guru pamong menjadi bagian penting karena membawa pengalaman praktik pembelajaran langsung ke dalam forum akademik. Perspektif tersebut melengkapi pembahasan mengenai inovasi teknologi dan profesionalisme guru.

Bagi UM, konferensi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat profesionalisme pendidik di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.

Pesan Prof. Ibrahim pun menjadi relevan: teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tetap harus menempatkan manusia sebagai pusatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *