Indonesiandaily.com – Kebutuhan pemancing sport fishing terhadap wadah penyimpanan ikan yang praktis mengantarkan tim mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026.
Tim yang diketuai Ulfa Nur Azizah dengan dosen pendamping Dyah Palupi Rohmiati, M.Pd., mengembangkan HUSKIVA BAG. Produk tersebut berupa tas penyimpanan ikan berbasis sabut kelapa dengan teknologi insulasi termal berlapis.
Keberhasilan memperoleh pendanaan PKM menjadi capaian penting bagi tim. Inovasi tersebut dinilai berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi pemancing, sekaligus menawarkan pendekatan baru melalui pemanfaatan material lokal.
Ide pengembangan HUSKIVA BAG bermula dari aktivitas sport fishing yang membutuhkan waktu cukup panjang. Dalam satu perjalanan, pemancing rata-rata menghabiskan sekitar lima jam, dengan empat jam di antaranya digunakan untuk memancing.
Kondisi tersebut membuat hasil tangkapan harus disimpan dalam wadah yang mampu mempertahankan kesegaran ikan selama pemancing masih berada di lokasi.
Untuk memastikan persoalan tersebut benar-benar dirasakan pengguna, tim melakukan survei terhadap 187 responden dari 10 komunitas memancing.
Hasil survei menunjukkan sejumlah persoalan. Di antaranya ikan yang tidak lagi segar, munculnya bau amis, hingga wadah penyimpanan yang dinilai kurang praktis ketika dibawa dalam aktivitas memancing.
Temuan itu kemudian menjadi dasar bagi Ulfa dan tim untuk merancang produk yang tidak sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan.
Sabut Kelapa Jadi Kunci Inovasi
HUSKIVA BAG mengandalkan sabut kelapa sebagai salah satu material utama dalam sistem insulasi termal.
Sabut kelapa terlebih dahulu menjalani proses alkali treatment untuk meningkatkan kualitas serat dan efektivitas termalnya. Material tersebut kemudian dipadukan dengan aluminium foil, kain parasut tempel, dan poliester 300D.
Kombinasi sejumlah material itu membentuk sistem insulasi berlapis yang dirancang membantu mempertahankan kondisi ikan selama penyimpanan.
“Kami ingin menghadirkan wadah penyimpanan ikan yang tidak hanya praktis digunakan oleh pemancing, tetapi juga memiliki inovasi dari sisi material,” kata Ulfa.
Menurutnya, pemanfaatan sabut kelapa dipilih untuk meningkatkan nilai guna material yang selama ini berpotensi menjadi limbah.
Tim juga tidak mengabaikan aspek kepraktisan. HUSKIVA BAG dirancang ringan dan fleksibel sehingga dapat digunakan dalam aktivitas luar ruangan.
Tas tersebut dilengkapi handle multifungsi, hook holder untuk menggantung perlengkapan, serta shoulder strap yang dapat disesuaikan.
Bagian dalam tas dibuat kedap air. Fitur tersebut memudahkan pengguna membersihkan tas setelah digunakan untuk menyimpan ikan dan es.
“Kami berusaha agar inovasi ini tidak berhenti pada fungsi penyimpanan saja. Dari sisi desain, kami juga mempertimbangkan bagaimana tas ini bisa dibawa dengan lebih mudah,” jelas Ulfa.
HUSKIVA BAG dirancang dengan sistem insulasi termal berlapis yang diklaim mampu membantu mempertahankan kesegaran ikan hingga 72 jam.
Produk tersebut tersedia dalam dua ukuran. Ukuran medium memiliki kapasitas 23 liter dengan dimensi 40 × 24 × 24 sentimeter. Sementara ukuran besar memiliki dimensi 60 × 40 × 35 sentimeter.
Dari Material Lokal Menuju Produk Bernilai
Selain menyelesaikan persoalan penyimpanan hasil tangkapan, HUSKIVA BAG membawa misi pemanfaatan material lokal.
Sabut kelapa yang berpotensi menjadi limbah diolah menjadi bagian dari produk fungsional. Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi material berbasis sumber daya lokal.
“Harapannya HUSKIVA BAG dapat menjadi alternatif bagi pemancing yang selama ini masih menggunakan berbagai jenis wadah penyimpanan yang kurang praktis,” ujar Ulfa.
Inovasi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan sabut kelapa mendukung konsep konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab melalui optimalisasi material yang berpotensi terbuang.
Di sisi lain, pengembangan teknologi insulasi berbasis material lokal memperlihatkan upaya mahasiswa UM menggabungkan kebutuhan pengguna dengan inovasi produk.
Keberhasilan tim HUSKIVA BAG memperoleh pendanaan PKM 2026 menjadi tahap awal untuk membawa inovasi tersebut ke pengembangan lebih lanjut.
Pendanaan itu diberikan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 yang diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Bagi tim Ulfa, capaian tersebut bukan sekadar keberhasilan mendapatkan pendanaan. PKM menjadi ruang untuk membuktikan bahwa persoalan sederhana di lapangan dapat dikembangkan menjadi gagasan inovatif yang memiliki manfaat nyata.
Melalui HUSKIVA BAG, mahasiswa UM mencoba mempertemukan tiga hal sekaligus: kebutuhan pemancing, inovasi material, dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Jika terus dikembangkan, inovasi tersebut berpeluang tidak hanya menjadi solusi penyimpanan hasil tangkapan, tetapi juga contoh bagaimana material sederhana seperti sabut kelapa dapat diolah menjadi produk bernilai guna.
