Akademisi Sembilan Negara Bertemu di UB, Bahas Masa Depan Pendidikan Inklusif

Akademisi Sembilan Negara Bertemu di UB, Bahas Masa Depan Pendidikan Inklusif

Indonesiandaily.com – Akademisi dari sembilan negara bertemu di Universitas Brawijaya (UB), Malang, untuk membahas penguatan pendidikan inklusif melalui kolaborasi lintas negara. Forum internasional ini mendorong komitmen bersama agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang setara, dihargai, dan didukung sesuai kebutuhannya.

Dialog tersebut berlangsung dalam konferensi internasional bertajuk Belonging Without Borders: Strengthening Collective Commitment for an Inclusive World, Rabu (28/10/2026), di Gedung Rektorat UB. Kegiatan ini diselenggarakan UB bersama Consortium of Inclusive Teacher Education and Development (CITED).

Konferensi menghadirkan perwakilan akademisi dari Indonesia, Australia, Bangladesh, Filipina, Italia, Inggris, Finlandia, Pakistan, dan Malaysia. Tercatat 43 entri presentasi, terdiri atas 20 presentasi luring dan 23 daring.

Wakil Rektor I Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., mengatakan forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama akademik sekaligus merumuskan pendekatan pendidikan inklusif yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“Melalui kesempatan ini, kita dapat menguatkan aksi bersama untuk menciptakan pendidikan yang inklusif,” ujarnya.

Menurut Imam, pendidikan inklusif tidak cukup diwujudkan dengan membuka akses ke lembaga pendidikan. Lingkungan belajar juga harus memastikan setiap individu merasa dihargai, memperoleh dukungan, dan dapat berpartisipasi secara bermakna tanpa dibatasi latar belakang maupun kondisi fisik.

Kolaborasi Lintas Negara untuk Pendidikan Inklusif 

Ketua Kelompok Pengarah CITED, Prof. Umesh Sharma, menjelaskan bahwa konsorsium tersebut berawal dari pertanyaan yang muncul dalam konferensi di Fiji pada 2018: bagaimana jika para akademisi dan praktisi tidak lagi bekerja sendiri-sendiri?

CITED kemudian berkembang menjadi jejaring akademisi, guru, peneliti, dan pegiat hak penyandang disabilitas dari berbagai negara. Mereka berkolaborasi mengembangkan strategi dan sumber daya yang membantu guru mewujudkan pendidikan inklusif bagi seluruh peserta didik.

Kolaborasi lintas negara dinilai penting karena penerapan pendidikan inklusif membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan institusi. Pertukaran pengalaman dan pengembangan strategi bersama diperlukan agar pendekatan yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan peserta didik yang beragam.

UB Perkuat Akses dan Layanan Disabilitas 

Di tingkat institusi, UB menjalankan sejumlah program untuk memperluas akses pendidikan dan memperkuat lingkungan kampus yang inklusif. Salah satunya melalui jalur afirmasi bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang.

UB memiliki enam program afirmasi, meliputi ADik Papua, ADEM Papua, ADEM Repatriation, ADik 3T, jalur penerimaan khusus mahasiswa disabilitas, serta penerimaan mahasiswa internasional.

Selain membuka akses, UB juga menyediakan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Imam menyebut terdapat 329 mahasiswa aktif disabilitas dan 185 wisudawan disabilitas yang tercatat berasal dari 74 program studi.

Layanan tersebut diperkuat melalui Subdirektorat Layanan bagi Penyandang Disabilitas dan Pendidikan Inklusif. UB juga mengembangkan integrasi informasi dan sistem manajemen pembelajaran melalui sistem satu pintu.

“Hal tersebut diperkuat melalui integrasi informasi dan sistem manajemen pembelajaran melalui sistem satu pintu,” kata Imam.

UB turut menyoroti kesetaraan gender dalam lingkungan akademik. Berdasarkan data yang disampaikan Imam, perempuan mencakup 52,2 persen dosen, 36,6 persen tenaga kependidikan, dan 58 persen mahasiswa UB.

Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya institusi untuk memperluas partisipasi dan membangun lingkungan pendidikan yang lebih setara.

Melalui konferensi bersama CITED, UB mendorong agar komitmen terhadap pendidikan inklusif tidak berhenti pada diskusi akademik. Kolaborasi dan pertukaran pengetahuan diharapkan dapat menghasilkan pendekatan praktis yang memperkuat kebijakan serta pelaksanaan pendidikan inklusif di berbagai negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *