Dari Kompos hingga Wisata Herbal, Inovasi Mahasiswa UMM Berbuah Prestasi Nasional

Dari Kompos hingga Wisata Herbal, Inovasi Mahasiswa UMM Berbuah Prestasi Nasional

Indonesiandaily.com – Inovasi pengolahan limbah organik untuk pertanian dan pengembangan wisata herbal berbasis digital mengantarkan dua organisasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih penghargaan nasional. Keduanya membuktikan bahwa program kemahasiswaan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan solusi yang berangkat dari potensi lokal masyarakat.

Lembaga Semi Otonom Himpunan Observasi Iptek Mahasiswa (LSO Hipotesa) meraih Terbaik 1 kategori Ormawa dengan Capaian Peningkatan Kapasitas Organisasi Terbaik. Sementara itu, Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (Himatekpa) memperoleh Terbaik 2 kategori Tim Pelaksana dengan Poster Paling Kreatif.

Penghargaan tersebut diberikan dalam Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, Sulawesi Selatan, pada 21–25 Oktober 2026.

Mengolah Limbah Organik untuk Pertanian Desa 

LSO Hipotesa mengembangkan program pemberdayaan masyarakat di Desa Tawanggargo, Kabupaten Malang. Tim yang diketuai Intsya Bhiyuga Digjoyo itu berfokus pada optimalisasi kesuburan tanah melalui kompos limbah organik dengan teknologi Pre-Kompos Multi-Stage dan pemanfaatan agen hayati.

Program tersebut melibatkan 15 mahasiswa dari Program Studi Agroteknologi, Teknologi Pangan, Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Industri. Kolaborasi lintas disiplin ini diarahkan untuk mengolah limbah organik menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian masyarakat.

Tim juga memanfaatkan Trichoderma, agen hayati yang digunakan dalam pengembangan pertanian, untuk mendukung pengelolaan kesuburan tanah. Pendekatan tersebut mengutamakan pemanfaatan potensi lokal agar program dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Keunggulan program kami adalah mengoptimalkan potensi yang sudah tersedia di lingkungan masyarakat agar dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Intsya.

Selain meraih penghargaan Terbaik 1, LSO Hipotesa memperoleh sertifikat hak kekayaan intelektual (HKI) untuk Buku Standar Operasional Prosedur (SOP). Capaian ini menjadi bagian dari upaya tim mendokumentasikan tata cara pelaksanaan program sekaligus melindungi karya yang dihasilkan.

Mengembangkan Wisata Herbal Berbasis Digital 

Berbeda dengan Hipotesa, Himatekpa mengembangkan program Kasegher, singkatan dari Kawasan Eduwisata Sumber Segaran dan Kampung Herbal, di Desa Sukolelo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Program yang dijalankan 15 mahasiswa lintas program studi Teknologi Pangan, Manajemen, dan Informatika ini mengintegrasikan potensi wisata alam dengan pengembangan kampung herbal. Tim juga memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dan sistem pembayaran digital melalui QRIS.

Penggabungan potensi alam, edukasi herbal, dan teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan kawasan wisata berbasis potensi lokal. Digitalisasi pembayaran menjadi salah satu unsur yang diperkenalkan untuk menunjang aktivitas di kawasan tersebut.

Himatekpa meraih Terbaik 2 kategori Tim Pelaksana dengan Poster Paling Kreatif. Poster yang disusun tim menyajikan informasi mengenai potensi wisata, kampung herbal, pemanfaatan teknologi, serta digitalisasi pembayaran secara terstruktur dan menarik.

Penghargaan tersebut mengapresiasi kreativitas penyampaian informasi program, sekaligus memperlihatkan bagaimana gagasan pemberdayaan masyarakat dapat dikomunikasikan melalui media visual.

Pengabdian Mahasiswa Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat 

Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni (BAKA) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., mengatakan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan organisasi sekaligus membantu menjawab persoalan masyarakat.

“PPK Ormawa merupakan salah satu program prestisius Belmawa yang berfokus pada pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurut Tatag, capaian kedua organisasi tersebut tidak terlepas dari pendampingan kampus, mulai dari persiapan proposal hingga pelatihan dan pembinaan sebelum kompetisi. Melalui program ini, mahasiswa didorong menerapkan pengetahuan akademik dalam situasi nyata.

“Mahasiswa turun langsung ke desa untuk menawarkan solusi dan membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.

Prestasi Hipotesa dan Himatekpa menunjukkan dua pendekatan pemberdayaan yang berbeda: mengoptimalkan limbah organik untuk mendukung pertanian dan mengembangkan potensi wisata herbal dengan dukungan teknologi digital.

Tantangan berikutnya adalah memastikan program tidak berhenti setelah kompetisi berakhir. Keberlanjutan inovasi bergantung pada kemampuan masyarakat untuk menerapkan, mengelola, dan mengembangkan program sesuai kebutuhan serta potensi wilayah masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *