UIN Maliki Malang Dorong Diplomasi Akademik Indonesia-Arab Saudi, Dari Seremoni Menuju Kolaborasi

UIN Maliki Malang Dorong Diplomasi Akademik Indonesia-Arab Saudi, Dari Seremoni Menuju Kolaborasi

Indonesiandaily.com – Hubungan Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya hidup dalam ruang diplomasi antarnegara. Di balik relasi yang telah dibangun puluhan tahun, perguruan tinggi melihat peluang lain: mempertemukan pengetahuan, riset, inovasi, dan sumber daya manusia dari kedua negara.

Gagasan itu mengemuka saat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang), Prof. Dr. H.M. Abdul Hamid, MA, menghadiri peringatan National Day Kerajaan Arab Saudi di The Raffles Hotel Jakarta.

Bagi UIN Maliki Malang, kehadiran tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Pertemuan yang mempertemukan kalangan diplomatik, pemerintah, akademisi, dunia usaha, serta sejumlah mitra strategis itu menjadi ruang untuk membuka koneksi yang berpotensi berkembang menjadi kolaborasi akademik.

Prof. Abdul Hamid melihat relasi Indonesia dan Arab Saudi memiliki modal sejarah dan kebudayaan yang kuat. Tantangannya kini adalah menerjemahkan kedekatan tersebut menjadi kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata.

“Tantangan ke depan adalah bagaimana modal tersebut kita transformasikan menjadi kerja sama akademik. Juga riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia,” ujar Prof. Abdul Hamid.

Diplomasi tidak berhenti di meja pemerintah 

Menurut dia, perguruan tinggi mempunyai ruang tersendiri dalam membangun hubungan antarbangsa. Jika diplomasi formal bekerja melalui hubungan antarpemerintah, diplomasi akademik dapat mempertemukannya melalui riset. Juga pertukaran intelektual, mobilitas mahasiswa dan dosen, hingga pengembangan program bersama.

Perubahan lanskap pendidikan tinggi dunia membuat jejaring semacam itu semakin penting. Reputasi universitas tidak hanya ditentukan oleh capaian internal, tetapi juga oleh sejauh mana kampus terhubung dengan ekosistem pengetahuan global.

Karena itu, kerja sama internasional dapat diarahkan pada sejumlah bidang, mulai dari penelitian bersama, publikasi ilmiah. Termasuk pula pertukaran akademisi, joint program, inovasi teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Arab Saudi menjadi salah satu ruang yang potensial untuk pengembangan kerja sama tersebut. Transformasi yang berlangsung di negara itu pada sektor pendidikan, teknologi, ekonomi. Juga pengembangan SDM membuka peluang baru bagi perguruan tinggi Indonesia.

Dari tanda tangan ke kerja bersama 

Bagi Prof. Abdul Hamid, ukuran internasionalisasi kampus bukan terletak pada banyaknya dokumen kerja sama yang berhasil ditandatangani.

Yang lebih penting adalah apa yang lahir setelah kerja sama tersebut berjalan.

“Internasionalisasi bukan hanya tentang seberapa banyak kerja sama yang kita tandatangani. Tapi seberapa banyak pengetahuan, inovasi, dan manfaat yang lahir dari kerja sama tersebut,” tegasnya.

Pandangan itu menempatkan kemitraan internasional sebagai instrumen peningkatan mutu perguruan tinggi. Kerja sama harus memiliki agenda yang jelas, dapat diukur, dan berkelanjutan, bukan berhenti pada seremoni penandatanganan.

Dalam konteks tersebut, pertemuan informal di berbagai forum internasional juga memiliki arti penting. Dari komunikasi dan perkenalan antarpihak, kampus dapat menemukan calon mitra yang memiliki kepentingan akademik dan visi yang sama.

Membuka jembatan Indonesia-Arab Saudi 

UIN Maliki Malang memiliki modal tersendiri untuk memainkan peran tersebut. Sebagai perguruan tinggi Islam. Kampus ini berada pada persimpangan antara tradisi keilmuan Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Ruang kolaborasinya pun tidak harus terbatas pada studi keislaman. Pengembangan teknologi, kecerdasan artifisial, keberlanjutan lingkungan, ekonomi berbasis pengetahuan, pendidikan. Hingga penguatan moderasi beragama dapat menjadi bagian dari agenda bersama.

Dari titik itu, relasi Indonesia-Arab Saudi dapat bergerak menuju kemitraan berbasis pengetahuan dan kemanusiaan.

Bagi UIN Maliki Malang, membangun koneksi global pada akhirnya bukan semata-mata tentang membawa nama kampus ke luar negeri. Lebih jauh, jejaring tersebut diharapkan membuka akses terhadap pengetahuan, mempertemukan akademisi lintas negara. Serta menghadirkan kolaborasi yang memberi dampak bagi masyarakat.

National Day Arab Saudi di Jakarta pun menjadi salah satu ruang perjumpaan untuk memulai proses tersebut.

Sebab, hubungan antarbangsa tidak selalu dibangun melalui meja diplomasi. Kampus, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kemanusiaan juga memiliki kekuatan. Terutama untuk mempertemukan dua negara dalam agenda yang lebih panjang: membangun pengetahuan dan masa depan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *