Mahasiswa Kristen Raih IPK 4,00 di UMM, Gonza Temukan Makna Toleransi di Kampus Muhammadiyah

Mahasiswa Kristen Raih IPK 4,00 di UMM, Gonza Temukan Makna Toleransi di Kampus Muhammadiyah

Indonesiandaily.com – Kekhawatiran pernah mengiringi langkah Aloysius Gonzaga Alnabe ketika memutuskan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai mahasiswa Kristen yang masuk ke kampus berbasis Muhammadiyah, ia dan keluarganya sempat membayangkan kemungkinan menghadapi perlakuan berbeda.

Empat tahun kemudian, kekhawatiran itu justru berbalik menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya tentang keberagaman.

Gonza, sapaan Aloysius, menuntaskan studi di Program Studi Hubungan Internasional FISIP UMM dengan capaian akademik sempurna. Ia meraih IPK 4,00 dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda UMM ke-123, 22 September 2026.

Namun, bagi Gonza, angka tersebut bukan satu-satunya cerita penting dari masa kuliahnya.

Pengalaman berinteraksi dengan teman dan dosen yang berbeda keyakinan membuatnya memahami bahwa toleransi tidak selalu lahir dari teori. Nilai itu justru tumbuh dari perjumpaan sehari-hari.

Kekhawatiran yang Berubah Menjadi Pengalaman 

Sebelum menjadi mahasiswa UMM, keluarga Gonza sempat khawatir. Ibunya bahkan pernah mengingatkan agar ia tidak berdoa secara terbuka karena takut menimbulkan persoalan.

Kekhawatiran itu perlahan menghilang setelah Gonza menjalani kehidupan kampus. Ia menemukan ruang untuk berdiskusi, menyampaikan pandangan, bahkan mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya dianggap sensitif.

Menariknya, mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) justru menjadi salah satu pengalaman yang memperkaya perjalanan spiritualnya.

Belajar tentang Islam membuat Gonza tidak merasa harus meninggalkan identitas keagamaannya. Sebaliknya, diskusi dengan teman-teman Muslim mendorongnya melihat kembali keyakinannya sendiri secara lebih mendalam.

“Justru semakin saya belajar di UMM, iman saya semakin diperdalam. Banyak teman yang bertanya, berdiskusi, bahkan berdebat,” ujarnya.

Menurut dia, ruang dialog semacam itu membuatnya terdorong mengeksplorasi keyakinannya sendiri sekaligus memahami agama lain secara lebih utuh.

Ketika Prasangka Bertemu Perjumpaan 

Salah satu perubahan terbesar yang dirasakan Gonza adalah berkurangnya prasangka terhadap Islam. Apa yang sebelumnya hanya ia bayangkan dari luar, perlahan berubah setelah ia hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda latar belakang.

Ia merasa tidak diposisikan semata-mata sebagai mahasiswa non-Muslim. Identitas itu ada, tetapi bukan menjadi batas dalam membangun pertemanan maupun mengikuti berbagai kegiatan kampus.

“UMM melihat saya lebih daripada sekadar seseorang yang berbeda agama. Mereka melihat saya terlebih dahulu sebagai manusia, satu ciptaan,” tuturnya.

Pengalaman tersebut semakin kuat ketika Gonza mengikuti kelas Politik Dunia Islam. Dalam salah satu sesi, mahasiswa berkesempatan berdiskusi dengan mantan anggota ISIS.

Bagi Gonza, perjumpaan itu menjadi pengalaman yang tidak biasa. Ia mendapatkan kesempatan untuk mendengar langsung sebuah pengalaman yang selama ini mungkin hanya ditemui melalui pemberitaan atau narasi dari luar.

Dari sana, ia belajar bahwa memahami persoalan tidak cukup hanya dengan melihat seseorang melalui label atau masa lalunya.

Dari Malang Menjelajah Dunia 

Pengalaman keberagaman Gonza tidak berhenti di lingkungan kampus. Pada 2024, ia mendapat kesempatan mengikuti Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) di Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spanyol, melalui beasiswa penuh.

Di Spanyol, ia berinteraksi dengan peserta dari berbagai negara dan latar belakang. Kegiatan sosial, budaya, serta komunitas yang dijalaninya memperluas perspektifnya tentang kehidupan masyarakat yang majemuk.

Pengalaman internasional itu kemudian bertambah melalui sejumlah program UMM. Ia mengikuti Learning Express bersama Singapore Polytechnic hingga kegiatan ASEAN di Madrid.

Berbagai pengalaman tersebut ikut membentuk cara Gonza melihat perbedaan. Baginya, keberagaman tidak akan banyak berarti jika orang hanya mengenalnya dari buku atau percakapan.

Perbedaan baru benar-benar dipahami ketika manusia bersedia hidup berdampingan dengan orang yang berbeda darinya.

IPK 4,00 Bukan Akhir Perjalanan 

Di luar akademik, Gonza juga aktif dalam organisasi, kompetisi, kegiatan internasional, serta mengembangkan bisnis di bidang pendidikan.

Karena itu, gelar wisudawan terbaik yang diraihnya menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Empat tahun di UMM memberinya pengalaman akademik sekaligus pelajaran sosial yang menurutnya jauh lebih sulit diukur dengan angka.

Gonza pun melihat toleransi bukan sebagai slogan yang cukup diucapkan. Menurutnya, toleransi membutuhkan keberanian untuk membuka ruang perjumpaan.

“Toleransi hanya akan timbul ketika kita benar-benar saling berinteraksi. Ketika kita hidup bersama mereka, cara pandang kita bisa berubah,” pungkasnya.

Bagi Gonza, kampus yang semula membuatnya dan keluarga dipenuhi kekhawatiran justru menjadi tempat ia belajar satu hal penting: perbedaan tidak selalu menciptakan jarak. Dalam banyak keadaan, perbedaan justru menjadi pintu untuk saling memahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *