Indonesiandaily.com – Gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan bangunan di Flores. Di sejumlah wilayah terdampak, persoalan lain muncul setelah tanah berhenti berguncang: air bersih menjadi barang yang sulit didapat.
Kerusakan jaringan perpipaan membuat sebagian warga Desa Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.
Situasi tersebut mendorong tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membawa teknologi pengolahan air langsung ke lokasi pengungsian. Salah satu peralatan yang dipasang adalah Water Treatment Purification (WTP) untuk memurnikan air yang sebelumnya keruh.
Peralatan tersebut ditempatkan di Pos Layanan Muhammadiyah Reok, Pondok Pesantren Pancasila. Air hasil pengolahan dimanfaatkan penyintas, relawan, hingga para santri.
Dosen UMM, Ir. Iis Siti Aisyah ST., MT., PhD., IPM, mengatakan kerusakan pipa menjadi salah satu persoalan yang ditemukan setelah tim melakukan asesmen di lapangan.
“Gempa merusak banyak instalasi pipa air sehingga sebagian masyarakat tidak mendapatkan air bersih. Alat yang kami bawa digunakan untuk memurnikan air keruh,” ujarnya.
Air Bersih Jadi Prioritas
Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak bencana, persoalan air bersih tidak bisa ditunda. Kebutuhannya muncul setiap hari, mulai untuk minum, memasak, membersihkan diri, hingga mendukung aktivitas di tempat pengungsian.
Karena itu, WTP yang dibawa UMM tidak hanya dipasang untuk kebutuhan selama masa tanggap darurat. Peralatan tersebut juga dihibahkan agar tetap dapat digunakan setelah tim relawan meninggalkan lokasi.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari perhatian UMM terhadap persoalan pengelolaan air berkelanjutan. Kampus tersebut mengemban amanah sebagai Chair on Sustainable Water Ecosystem oleh UNESCO.
Namun, persoalan di Flores tidak berhenti pada air bersih.
Tim UMM yang berada di Reo juga membawa bantuan logistik, obat-obatan, family kit, popok dewasa, alas tidur, selimut, serta kebutuhan dasar lainnya.
Dukungan medis diberikan melalui tim Emergency Medical Team (EMT) di rumah sakit sementara. UMM juga mengirim dukungan tenaga medis melalui Rumah Sakit UMM.
Dari Logistik hingga Pemulihan Psikologis
Sebanyak 11 orang diterjunkan dalam misi kemanusiaan tersebut. Mereka terdiri dari delapan mahasiswa Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana UMM), dua dosen, dan satu anggota Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Tim berangkat dari Malang pada 26 Agustus 2026. Perjalanan menuju Flores ditempuh melalui jalur laut dan darat.
Rombongan tiba di wilayah Flores pada 28 Agustus. Setelah perjalanan darat sekitar 12 jam, tim akhirnya sampai di lokasi penugasan di Reo pada malam 29 Agustus.
Setelah tiba, tim tidak langsung membagi bantuan. Mereka lebih dulu melakukan asesmen untuk melihat persoalan yang paling mendesak di tengah masyarakat.
Dari pemetaan tersebut, mahasiswa kemudian dibagi ke sejumlah titik. Sebagian menangani WTP, sementara kelompok lainnya bergerak memberikan dukungan psikososial dan membantu aktivitas masyarakat.
“Adik-adik mahasiswa saat ini terbagi dalam beberapa kelompok. Ada yang memasang WTP, ada yang ke Desa Nunang, dan ada yang menuju Kampung Nelayan di Reok Barat,” kata Iis.
Layanan psikososial diberikan di Kampung Nunang, Desa Reo, MIN 2 Manggarai, hingga Dusun Nanganae, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat.
Mahasiswa juga ikut mengelola dapur umum di Kampung Nunang. Aktivitas tersebut membuat relawan tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan logistik, tetapi juga dengan kondisi psikologis warga setelah mengalami bencana.
Mahasiswa Belajar di Tengah Situasi Bencana
Bagi delapan mahasiswa yang diterjunkan, Flores menjadi ruang belajar yang berbeda dari kelas perkuliahan.
Empat mahasiswa di antaranya sekaligus menjalankan KKN Kebencanaan. Mereka menggabungkan kegiatan akademik dengan kerja kemanusiaan di tengah masyarakat terdampak.
Program tersebut menjadi bagian dari UMM Berbagi untuk Negeri yang berkolaborasi dengan MDMC PWM Jawa Timur.
Penugasan tim dijadwalkan berlangsung hingga 26 September 2026.
Kehadiran relawan UMM di Flores pun tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Pemasangan WTP yang dihibahkan kepada pengelola setempat menjadi salah satu upaya agar solusi air bersih tetap berjalan setelah masa tanggap darurat berakhir.
Di tengah pemulihan pascagempa, persoalan seperti air bersih sering kali tidak terlihat sebesar kerusakan bangunan. Padahal, keberadaannya menentukan apakah aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan.
Dari Reo, teknologi pemurni air itu menjadi salah satu ikhtiar agar kebutuhan paling mendasar tersebut tidak ikut hilang bersama rusaknya jaringan perpipaan.
