Indonesiandaily.com – Tantangan dunia farmasi kini bukan hanya menemukan obat yang efektif. Persoalan berikutnya adalah bagaimana zat aktif dapat dihantarkan ke tubuh secara lebih tepat, terkendali, dan sesuai sasaran.
Perkembangan teknologi drug delivery menjadi salah satu jawaban atas tantangan tersebut. Sistem penghantaran obat terus dikembangkan agar terapi dapat bekerja lebih optimal, sekaligus mengurangi dampak yang tidak diinginkan.
Perspektif itu menjadi bahasan utama The 6th International Pharmacy Ulul Albab Conference and Seminar (PLANAR) 2026 yang digelar Program Studi Sarjana Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (2/9/2026).
Forum yang berlangsung di Auditorium Lantai 3 Gedung Ar-Rahim FKIK UIN Malang tersebut mempertemukan akademisi dari Indonesia, Malaysia, dan Denmark. Mereka membahas perkembangan sistem penghantaran obat dari berbagai pendekatan.
Pembahasannya mencakup teknologi transdermal, penghantaran senyawa berbasis tanaman, terapi kanker, hingga sistem berbasis antibodi untuk terapi infeksi.
Obat Mulai Didorong Lebih Tepat Sasaran
Salah satu isu yang mencerminkan perkembangan tersebut adalah teknologi transdermal.
Prof. Dr. apt. Akhmad Kharis Nugroho, S.Si., M.Si. dari Universitas Gadjah Mada membahas “Targeted and Controlled Drug Delivery via Transdermal Technologies”.
Teknologi tersebut menempatkan kulit bukan sekadar sebagai pelindung tubuh, tetapi sebagai jalur penghantaran zat aktif. Tantangannya adalah bagaimana obat dapat melewati kulit dan dihantarkan secara terarah serta terkendali.
Pembahasan kemudian bergeser pada potensi bahan alam.
Dr. apt. Rahmi Annisa, M.Farm. dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengangkat “Advanced Delivery Systems for Herbal and Plant-Derived Compounds”.
Topik ini memperlihatkan bahwa pengembangan obat berbahan herbal tidak cukup hanya mengandalkan potensi senyawa aktif. Sistem penghantarannya juga perlu dirancang agar pemanfaatan bahan tersebut dapat dikembangkan melalui pendekatan teknologi yang lebih maju.
Dua perspektif tersebut memperlihatkan satu persoalan yang sama. Zat aktif membutuhkan sistem penghantaran yang tepat agar potensinya dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dari Kanker hingga Infeksi
Riset drug delivery juga berkembang untuk kebutuhan terapi yang lebih kompleks.
Dr. Azren Aida Asmawi dari Mahsa University, Malaysia, melalui materi “Targeted Drug Delivery for Cancer Treatment”, membahas penghantaran obat yang ditargetkan untuk terapi kanker.
Dalam terapi kanker, ketepatan sasaran menjadi persoalan penting. Sistem penghantaran obat dikembangkan agar terapi dapat diarahkan dengan lebih spesifik sehingga efektivitas pengobatan dapat ditingkatkan dan dampak terhadap jaringan sehat dapat ditekan.
Sementara itu, Prof. Alexander Zelikin dari Aarhus University, Denmark, membawa pembahasan pada pemanfaatan antibodi.
Melalui materi “Antibody-Based Drug Delivery Systems in Infection Therapy”, ia mengulas sistem penghantaran obat berbasis antibodi untuk terapi infeksi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan farmasi bergerak menuju sistem terapi yang semakin spesifik. Molekul pembawa tidak sekadar berfungsi mengantarkan obat, tetapi dirancang untuk mendukung penghantaran menuju target tertentu.
UIN Malang Perluas Perspektif Riset
Rangkaian materi dalam PLANAR 2026 mempertemukan beragam pendekatan dalam satu isu besar: bagaimana membuat penghantaran obat menjadi semakin presisi.
Teknologi transdermal menawarkan pendekatan melalui kulit. Sistem penghantaran senyawa tanaman membuka peluang baru bagi pengembangan bahan alam. Sementara terapi kanker dan infeksi menunjukkan kebutuhan terhadap sistem penghantaran yang lebih terarah.
Pertemuan perspektif dari akademisi nasional dan internasional tersebut memperluas wawasan peserta mengenai arah perkembangan riset drug delivery.
Bagi dunia pendidikan farmasi, perkembangan itu sekaligus menunjukkan bahwa inovasi obat tidak berhenti pada penemuan senyawa aktif. Teknologi yang membawa senyawa tersebut menuju sasaran juga menjadi bagian penting dari masa depan terapi.
Melalui PLANAR 2026, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menempatkan isu drug delivery sebagai ruang penting untuk melihat bagaimana ilmu farmasi merespons kebutuhan terapi yang semakin kompleks.
Ketika obat dituntut bekerja lebih tepat, teknologi penghantarannya pun harus ikut menjadi semakin cerdas.
