Mahasiswa UB Gunakan Mood Meter untuk Buka Percakapan Kesehatan Mental Remaja

Mahasiswa UB Gunakan Mood Meter untuk Buka Percakapan Kesehatan Mental Remaja

Indonesiandaily.com – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan pendekatan kreatif untuk mengenalkan kesehatan mental kepada remaja. Melalui media Mood Meter, siswa diajak mengenali emosi sekaligus berani membicarakan kondisi yang mereka rasakan.

Program bertajuk “Kenali Emosi, Bangun Mental yang Kuat” tersebut menyasar siswa kelas VII SMP Negeri 17 Malang, Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, pada 24 Juli 2026.

Kegiatan ini digagas mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UB melalui program MENTARI.

Slider Ucapan HUT RI

Pendekatan yang digunakan tidak sebatas penyampaian materi. Mahasiswa memadukan Mood Meter dengan edukasi kesehatan mental, diskusi tentang perundungan, sesi tanya jawab, hingga aktivitas bersama.

Perwakilan penanggung jawab mahasiswa pelaksana dari Program Studi Ilmu Keperawatan FIKES UB, Arif Rahman Ali, mengatakan Mood Meter dipilih karena sesuai dengan karakter siswa kelas VII yang tengah memasuki masa transisi.

“Kami menggunakan Mood Meter karena sasaran kegiatan adalah siswa kelas VII yang sedang berada pada masa peralihan dari SD. Mereka membutuhkan sistem yang interaktif agar lebih mudah mengeksplorasi dan mengenali kondisi mental dirinya maupun teman-temannya,” jelas Arif.

Mood Meter yang digunakan berbentuk media fisik dengan gambar dan stiker. Siswa dapat menempelkan stiker sesuai kondisi emosional yang sedang dibahas.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dibagi dalam kelompok untuk merespons enam kondisi emosional. Mereka kemudian diajak mendiskusikan perasaan serta situasi yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Cara tersebut membuat siswa tidak hanya menjadi penerima materi. Mereka justru terlibat langsung dalam proses mengenali, memahami, dan mengungkapkan emosi.

Berani Cerita Pengalaman Bullying

Setelah aktivitas Mood Meter, mahasiswa mengajak siswa membahas kesehatan mental remaja. Materi mencakup tanda-tanda stres, persoalan emosional, hingga dampak bullying terhadap kondisi psikologis.

Suasana kegiatan kemudian dibuat semakin cair melalui bernyanyi bersama dan sesi tanya jawab interaktif.

Menurut Arif, pendekatan tersebut berhasil menciptakan ruang yang membuat siswa lebih terbuka. Salah satu momen berkesan terjadi ketika seorang siswa berani menceritakan pengalaman pernah mengalami perundungan di hadapan teman-temannya.

“Pada sesi tanya jawab, ada siswa yang berani bercerita bahwa dirinya pernah dibully. Bagi kami, keberanian untuk bercerita di depan kelas menjadi salah satu hal penting dari kegiatan ini,” ujarnya.

Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok 19 PkM/KKN FIKES dan FKG UB 2026, Dr. drh. Siti Kurniawati, M.Ked.Trop., menilai edukasi kesehatan mental di tingkat SMP penting sebagai langkah preventif.

Menurutnya, pemahaman mengenai kondisi emosional perlu dikenalkan sejak dini. Dengan begitu, remaja dapat lebih peduli terhadap kesehatan mental dirinya maupun orang-orang di sekitarnya.

“Kegiatan ini penting karena harapannya siswa SMP memahami kesehatan mental sejak dini, mulai dari mengenali tanda-tanda dan kondisi emosional. Dengan begitu, kepedulian terhadap isu kesehatan mental dapat tumbuh dan upaya preventif bisa dilakukan sejak awal,” jelas Siti.

Berawal dari Survei Mahasiswa

MENTARI merupakan bagian dari program Kampung Lingkar Kampus (KLK) UB yang dikembangkan melalui kolaborasi lintas fakultas.

Gagasan kegiatan berasal dari mahasiswa dan dikembangkan menjadi program edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa di lingkungan sekolah.

Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan survei untuk mengidentifikasi isu yang berkembang di sekolah.

Hasil survei tersebut menjadi dasar penyusunan proposal dan rancangan kegiatan yang diajukan kepada pihak sekolah. Dengan demikian, materi kampanye tidak terlepas dari persoalan yang dihadapi peserta.

Arif berharap penggunaan Mood Meter tidak berhenti sebagai aktivitas selama program berlangsung. Pengalaman mengenali dan mengekspresikan emosi diharapkan dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, melalui metode Mood Meter ini siswa benar-benar bisa merasakan dan memahami kondisi emosinya, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Siti juga berharap program serupa dapat diperluas ke lebih banyak sekolah dan jenjang pendidikan lainnya.

Menurutnya, literasi kesehatan mental masih perlu diperkuat karena pemahaman masyarakat mengenai persoalan tersebut belum merata.

“Harapannya kegiatan ini tidak hanya berhenti di satu sekolah, tetapi bisa diperluas jangkauannya ke tingkat yang lebih tinggi. Isu kesehatan mental masih penting untuk dikenalkan karena di masyarakat masih ada yang belum mengenali persoalan tersebut,” pungkasnya.

Melalui MENTARI, mahasiswa UB menunjukkan kampanye kesehatan mental dapat dikemas dengan cara sederhana dan dekat dengan dunia remaja.

Mood Meter menjadi pintu masuk untuk membuka percakapan tentang emosi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut mendorong siswa berani mengenali, memahami, dan menjaga kesehatan mental sejak dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *