Indonesiandaily.com – Berangkat dari kepedulian terhadap tingginya angka telur yang terbuang akibat cepat membusuk, tim mahasiswa Prodi Peternakan Universitas Islam Malang (UNISMA) berhasil mengembangkan Biovoltegg. Yakni mesin pengawet telur bertenaga surya yang mengusung konsep pemberdayaan masyarakat.
Tim mahasiswa UNISMA Malang tersebut beranggota Muhammad Usamah Prawira Yuda, juga ada Nizhamuddin Mufid Azzuhri dan Maghfiratur Rosyidah. Mereka difasilitasi Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (LPKIB) kampus hijau ini untuk mengembangkan usaha.
Berawal dari Program Inovillage
Gagasan Biovoltegg lahir saat Usamah mengikuti program Inovillage yang diselenggarakan salah satu BUMN. Melalui program tersebut, ia menerapkan konsep sociopreneur di desa Ganjaran Gondanglegi Kabupaten Malang yang merupakan binaan UNISMA Malang.
Menurutnya, usaha yang dibangun tidak semata mengejar keuntungan. Tetapi harus mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat, khususnya peternak dan pelaku UMKM.
“Fokus kami bukan hanya omzet, tetapi bagaimana teknologi ini dapat membantu masyarakat. Khususnya guna mengurangi kerugian akibat telur yang cepat rusak,” ujarnya.
Sterilisasi Ganda Tanpa Bergantung Listrik
Biovoltegg dirancang menggunakan panel surya sehingga tidak bergantung pada pasokan listrik konvensional. Energi matahari diubah menjadi listrik untuk menjalankan proses sterilisasi telur.
Keunggulan lainnya adalah sistem sterilisasi ganda. Selain menggunakan energi listrik yang bersumber dari tenaga surya. Alat ini juga dilengkapi UV Light untuk membantu mematikan bakteri penyebab pembusukan.
Teknologi tersebut diharapkan mampu memperpanjang masa simpan telur. Sekaligus menjaga kualitasnya hingga sampai ke tangan konsumen.
Dua Tahun Dikembangkan Bersama Masyarakat
Usamah menjelaskan, pengembangan Biovoltegg telah berlangsung selama dua tahun. Ia memilih telur sebagai fokus inovasi karena merupakan sumber protein hewani yang murah, bergizi, dan mudah dijangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Jadi sangat sayang sekali kalau ada yang membuang telur hanya karena busuk,” katanya.
Selama proses pengembangan, timnya menggandeng berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Litbang HKTI dan P4S. Uji coba dilakukan di sejumlah desa binaan di wilayah Jember dan Situbondo.
Berbagai masukan dari masyarakat serta kelompok peternak menjadi bahan evaluasi. Sehingga desain alat terus disempurnakan hingga menghasilkan model yang digunakan saat ini.
Dilirik Investor Mancanegara
Meski berawal dari program pemberdayaan masyarakat, Biovoltegg kini mulai dikenal di kalangan kelompok peternak. Sejumlah UMKM telah memanfaatkan teknologi tersebut untuk menjaga kualitas hasil produksi mereka.
Usamah menegaskan bahwa orientasi utama inovasi ini tetap pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bukan sekadar mengejar keuntungan bisnis.
Meski demikian, prospek Biovoltegg terus menunjukkan perkembangan positif. Bahkan, alat tersebut telah menarik perhatian investor mancanegara yang memesan enam unit sekaligus. Demgan diperuntukan untuk digunakan dalam pengembangan usaha peternakan.
Ke depan, Usamah berharap Biovoltegg dapat dimanfaatkan lebih luas oleh peternak dan pelaku UMKM di berbagai daerah. Sehingga mampu mengurangi limbah pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas telur di Indonesia.
