Indonesiandaily.com – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) resmi menutup Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) untuk mahasiswa penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Tahun Akademik 2025/2026, Senin (22/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 6 Gedung A FIB UB tersebut menjadi penanda berakhirnya masa persiapan akademik bagi lima mahasiswa internasional sebelum memasuki program studi tujuan masing-masing di UB.
Lima peserta tersebut berasal dari Rwanda, Nigeria, Timor Leste, Tanzania, dan Botswana. Selama hampir sepuluh bulan, mereka mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia sekaligus mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Bekal Penting Sebelum Memasuki Perkuliahan
Acara penutupan dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik UB Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., Dekan FIB UB Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., serta jajaran pimpinan fakultas, pengelola program, dosen, dan mahasiswa pendamping.
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pemutaran video kaleidoskop yang menampilkan perjalanan peserta selama mengikuti Program BIPA.
Dekan FIB UB Sahiruddin menjelaskan bahwa Program BIPA memiliki fungsi serupa dengan program fondasi yang diterapkan di sejumlah universitas internasional.
Menurutnya, mahasiswa asing perlu memiliki kemampuan bahasa, pemahaman budaya, dan kesiapan sosial sebelum mengikuti perkuliahan pada jenjang sarjana maupun pascasarjana.
“Program BIPA ini sangat penting karena memberikan persiapan kepada calon mahasiswa luar negeri yang akan belajar di UB agar memiliki pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan pemahaman budaya,” ujarnya.
Ia menilai kemampuan bahasa Indonesia akan membantu mahasiswa memahami materi kuliah, berkomunikasi dengan dosen, hingga menyelesaikan tugas akademik dengan lebih baik.
FIB UB Tetap Menjadi Rumah Pertama Mahasiswa KNB
Sahiruddin mengungkapkan bahwa seluruh peserta menunjukkan perkembangan kemampuan bahasa Indonesia yang baik selama mengikuti program.
Capaian tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menjalani studi di fakultas masing-masing.
Meski program telah berakhir, FIB UB tetap membuka ruang pendampingan bagi para mahasiswa internasional.
“Ini bukan perpisahan karena setelah ini semuanya akan belajar di fakultas masing-masing. FIB UB merupakan rumah pertama bagi mahasiswa KNB,” katanya.
Ia berharap pengalaman belajar dan interaksi budaya yang diperoleh selama berada di FIB UB dapat menjadi fondasi kuat untuk menghadapi tahapan pendidikan berikutnya.
Interaksi Multikultural Perkaya Lingkungan Akademik
Kehadiran mahasiswa internasional dinilai memberikan dampak positif bagi lingkungan akademik FIB UB.
Interaksi yang terjalin membuka ruang pertukaran pengalaman, bahasa, dan perspektif budaya antara mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing.
Menurut Sahiruddin, kondisi tersebut turut memperkuat ekosistem kampus yang semakin multikultural serta mendukung proses internasionalisasi perguruan tinggi.
UB Dorong Mahasiswa Internasional Jadi Duta Indonesia
Wakil Rektor Bidang Akademik UB Prof. Imam Santoso menegaskan komitmen universitas dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi mahasiswa internasional.
Ia mengingatkan bahwa tujuan utama para peserta KNB datang ke Indonesia adalah untuk menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Kemampuan bahasa Indonesia yang diperoleh melalui Program BIPA diharapkan dapat membantu mereka mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, menjalani asesmen, hingga menyusun tugas akhir.
“Anda semua adalah duta besar kami. Optimalkan waktu yang ada dan jangan segan berkomunikasi dengan pihak kampus apabila mengalami kesulitan,” pesannya.
Menurutnya, mahasiswa internasional memiliki peran strategis sebagai jembatan yang memperkenalkan Indonesia dan Universitas Brawijaya kepada masyarakat dunia.
Belajar Bahasa Lewat Pengalaman Budaya
Selama mengikuti Program BIPA, peserta tidak hanya belajar di dalam kelas.
Mereka juga mengikuti tujuh kegiatan outing yang dirancang untuk memperkenalkan budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat Indonesia secara langsung.
Kegiatan tersebut meliputi kunjungan ke berbagai landmark Kota Malang, Museum Ganesya, Hawai Waterpark, Candi Singosari, Candi Sumberawan, Situs Patirtaan Ngawonggo, hingga Sanggar Panji Asmoro.
Peserta juga mempelajari seni Topeng Malangan serta mengikuti kegiatan buka puasa bersama selama Ramadan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Gunung Bromo setelah pelaksanaan Ujian Akhir Semester pada Juni 2026.
Ketua Program BIPA FIB UB, Dr. Nia Budiana, S.Pd., M.Pd., menilai kegiatan luar kelas menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran bahasa.
Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, mahasiswa dapat mempraktikkan kosakata, memahami kebiasaan lokal, dan mengenal keragaman budaya Indonesia secara lebih mendalam.
