Indonesiandaily.com – Universitas Brawijaya (UB) resmi membuka rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) melalui RAJA BRAWIJAYA 2026. Program ini menjadi gerbang awal bagi ribuan mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus menyiapkan diri menghadapi perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar UB.
Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. mengatakan, RAJA BRAWIJAYA bukan sekadar seremoni penyambutan mahasiswa baru. Momentum tersebut menjadi titik awal mahasiswa untuk belajar, berproses, berkolaborasi, dan membangun kapasitas diri.
“RAJA BRAWIJAYA merupakan gerbang awal bagi adik-adik mahasiswa untuk memasuki kehidupan sebagai mahasiswa UB,” ungkap Prof Widodo, Senin (10/08).
Rektor UB berharap para maba menjadikan masa perkuliahan ini sebagai ruang untuk belajar, berproses, berkolaborasi. Serta mempersiapkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan Indonesia.
Pembukaan tersebut sekaligus menandai dimulainya secara resmi RAJA BRAWIJAYA 2026. Rektor UB mendorong mahasiswa baru menjadikan PKKMB sebagai langkah pertama untuk membangun perjalanan akademik dan pengembangan diri selama menempuh pendidikan di UB.
Menurut Prof. Widodo, RAJA BRAWIJAYA 2026 tidak hanya berorientasi pada pengenalan kampus. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi UB untuk memperkenalkan budaya akademik. Sekaligus mendorong mahasiswa mengembangkan kapasitas sejak awal perkuliahan.
“RAJA BRAWIJAYA 2026 tidak hanya menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga menjadi ruang bagi UB untuk memperkenalkan lingkungan akademik. Juga mendorong mahasiswa mengembangkan kapasitasnya sejak awal perkuliahan,” katanya.
Tampilkan Wajah Terbaik UB
Direktur Direktorat Kemahasiswaan UB Dr. Sujarwo, S.P., M.P. menegaskan, PKKMB menjadi momentum penting untuk menyambut mahasiswa baru. Sekaligus memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki UB.
“Kita dengan tangan terbuka menyambut mahasiswa baru dan kemudian kita menunjukkan wajah terbaik Universitas Brawijaya,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa baru selama mengikuti RAJA BRAWIJAYA mampu membangun ekspektasi. Sekaligus motivasi untuk mengembangkan kapasitas secara maksimal.
Pengembangan tersebut tidak hanya dilakukan melalui kegiatan akademik. Mahasiswa juga didorong aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Hal ini sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dan kompetensi.
Lima Isu Utama RAJA BRAWIJAYA 2026
Ketua Pelaksana RAJA BRAWIJAYA 2026, Daffa Yasa Pratama, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini menghadirkan sejumlah pembaruan. Panitia membawa lima isu utama, yakni kesehatan mental dan antikekerasan seksual, inklusivitas, perspektif global, kecerdasan artifisial (AI) dan digitalisasi, serta keberlanjutan.
Konsep tersebut diarahkan untuk menjadikan RAJA BRAWIJAYA sebagai world class university orientation.
“Tahun ini kita ingin RAJA BRAWIJAYA menjadi world class university orientation. UB merupakan world class campus. Sehingga PKKMB-nya juga harus memiliki standar yang mendukung arah tersebut,” jelas Daffa.
Penguatan internasionalisasi diwujudkan dengan melibatkan mahasiswa internasional dari berbagai negara dalam rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka diharapkan memberikan pengalaman yang lebih beragam. Sekaligus memperkenalkan mahasiswa baru pada lingkungan akademik UB yang semakin terhubung dengan komunitas global.
PKKMB UB Makin Digital
RAJA BRAWIJAYA 2026 juga menguatkan pemanfaatan teknologi. Panitia mengembangkan sistem pengelolaan kepanitiaan berbasis digital. Yakni melalui Integrated System Managerial RAJA BRAWIJAYA.
Mahasiswa baru juga mendapatkan dukungan aplikasi yang dilengkapi sejumlah fitur, termasuk Maps dan AI assistant. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa memperoleh informasi selama mengikuti rangkaian PKKMB.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya diperkenalkan sebagai materi. Tapi mulai diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan mahasiswa sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan kampus.
Kesehatan Mental Jadi Perhatian
Selain teknologi, isu kesehatan mental menjadi perhatian dalam RAJA BRAWIJAYA 2026. Panitia menghadirkan sejumlah pendekatan edukatif dan preventif untuk membantu mahasiswa baru. Khususnya untuk mengenali kondisi mental mereka sejak awal.
Screening kesehatan mental dilakukan saat pengambilan jas almamater. Kampanye digital dan penyediaan konselor juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Pendekatan ini diharapkan membuat mahasiswa baru tidak hanya siap secara akademik. Namun juga memiliki kesiapan mental dalam menghadapi dinamika kehidupan perkuliahan.
Dorong Mahasiswa Punya Milestone
RAJA BRAWIJAYA 2026 juga dikemas lebih interaktif melalui perpaduan unsur edukasi dan hiburan. Salah satunya melalui program Candra Sena Ambassador. Dimana acara ini menjadi wadah bagi mahasiswa baru untuk berperan sebagai agen kampanye positif.
Program tersebut diharapkan mendorong lahirnya inspirasi dan prestasi di kalangan mahasiswa. Lebih jauh, mahasiswa baru didorong mulai menentukan arah pengembangan diri sejak awal memasuki dunia perkuliahan.
“RAJA BRAWIJAYA ini ibarat gerbang bagi mereka untuk memasuki dunia perkuliahan. Harapannya mahasiswa baru siap secara fisik, mental, dan kesehatan, punya milestone setelah RAJA BRAWIJAYA ini akan ke mana,” kata Daffa.
Ia menambahkan, mahasiswa baru juga diharapkan mulai memiliki perencanaan mengenai kegiatan yang akan diikuti selama kuliah. Hingga gambaran karier setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Daffa, semangat “inovatif, gebrakan, kreatif” menjadi fondasi RAJA BRAWIJAYA 2026. Melalui semangat tersebut, mahasiswa baru diharapkan tumbuh sebagai generasi Brawijaya yang adaptif, terbuka terhadap keberagaman. Juga mampu membaca perkembangan global, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan.
“Harapannya RAJA BRAWIJAYA 2026 bisa menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk tumbuh sebagai generasi Brawijaya menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
