Indonesiandaily.com – Wisuda biasanya identik dengan suasana formal. Namun, pemandangan berbeda terlihat dalam Wisuda ke-43 Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang di Ijen Suites Hotel, Kamis (10/9/2026).
Mengenakan toga, ratusan wisudawan justru larut dalam suasana hiburan. Mereka berdiri, bernyanyi hingga berjoget mengikuti lagu-lagu yang dibawakan Guyon Waton dan Fandy Kerispatih.
Suasana semakin meriah ketika lagu Klebus mengawali rangkaian hiburan. Para wisudawan dan undangan spontan berdiri dari tempat duduk dan ikut bernyanyi.
Lagu Pamer Bojo, Sanes, hingga Lagu Wirang juga membuat suasana semakin semarak. Penampilan para musisi tersebut dikemas komunikatif sehingga tidak ada jarak dengan wisudawan maupun keluarga yang hadir.
Konsep tersebut menjadi bagian dari wisuda-tainment, format yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi ciri khas UIBU Malang. Tahun ini, konsep tersebut mengusung tema I Always Miss U.
Sebanyak 941 lulusan program sarjana dan magister mengikuti prosesi wisuda. Kampus sengaja menghadirkan suasana berbeda agar momentum kelulusan tidak hanya diisi seremoni formal.
Rektor UIBU Malang, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si., mengatakan hiburan diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada mahasiswa yang telah menyelesaikan perjalanan akademiknya.
“Saatnya mereka bergembira setelah capek belajar. Wisuda tidak harus formal,” kata Nurcholis di sela acara.
Menurut dia, konsep wisuda-tainment telah menjadi tradisi di UIBU Malang. Bukan hanya rangkaian acaranya yang dibuat lebih santai, penampilan pimpinan kampus, dosen, dan tenaga kependidikan juga disesuaikan dengan konsep tersebut.
Nurcholis sendiri tampil dengan jas hitam yang dipadukan kaus putih dan celana putih. Sementara sejumlah pejabat kampus mengenakan setelan bernuansa khaki. Dosen dan tenaga kependidikan juga tampil dengan gaya yang lebih santai.
Toga Emas dan Pesan Indonesia Emas
Di balik kemeriahan tersebut, prosesi akademik tetap menjadi bagian utama. Sekitar pukul 10.30 WIB, prosesi wisuda dimulai dengan Rektor, guru besar, dan jajaran pejabat universitas mengenakan toga berwarna emas.
Pilihan warna tersebut memiliki makna khusus. Nurcholis menyebut toga emas sebagai simbol semangat menuju Indonesia Emas.
“Mempercepat Indonesia Emas. Saya berharap dalam menyongsong Indonesia Emas ini para wisudawan dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perkembangan alumni UIBU Malang. Saat ini, jumlah alumni disebut telah mencapai sekitar 53 ribu orang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 98 persen disebut telah bekerja, sementara sekitar 7 persen menjalankan usaha. Nurcholis mengatakan data tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan di UIBU tidak hanya diarahkan untuk mencetak lulusan yang mencari pekerjaan.
“UIBU tidak mengandalkan pegawai negeri. Kampus ini dilaunching sebagai perguruan tinggi world class entrepreneurship, kampus yang mencetak insan entrepreneur,” tegasnya.
Perkuat Mutu Program Studi
Di bidang akademik, UIBU Malang juga terus mendorong peningkatan kualitas program studi. Nurcholis mengatakan universitas saat ini telah memperoleh akreditasi Baik Sekali, sedangkan seluruh program studi telah memiliki status akreditasi.
Tahun ini, dua program studi, yakni Sejarah dan Sosiologi, berhasil meraih predikat Unggul.
“Alhamdulillah universitas memiliki akreditasi Baik Sekali dan semua sudah terakreditasi. Tahun ini program Sejarah dan Sosiologi akreditasi Unggul,” ungkapnya.
UIBU, lanjut Nurcholis, masih mendorong program studi lain untuk meningkatkan capaian akreditasinya.
Ijazah Langsung dan Galang Bantuan Bencana
Ada pula tradisi lain yang dipertahankan dalam wisuda UIBU Malang, yakni pemberian ijazah kepada lulusan secara langsung setelah prosesi wisuda.
Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari pelayanan kampus hingga mahasiswa menyelesaikan seluruh tahapan pendidikannya.
Wisuda ke-43 UIBU Malang juga tidak hanya menjadi ruang perayaan kelulusan. Kampus turut menggalang kepedulian sosial melalui pengumpulan bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dengan konsep tersebut, UIBU mencoba menempatkan wisuda bukan sekadar seremoni pelepasan lulusan. Ada perayaan, pesan akademik, sekaligus kepedulian sosial yang dirangkai dalam satu momentum.



