UWG Malang Dampingi Warga Pulihkan Sungai dan Pesisir Lewat Gerakan Konservasi Berkelanjutan

UWG Malang Dampingi Warga Pulihkan Sungai dan Pesisir Lewat Gerakan Konservasi Berkelanjutan

Indonesiandaily.com – Universitas Widya Gama (UWG) Malang mendampingi warga Desa Sidodadi Kabupaten Malang untuk memulihkan fungsi sungai. Tak hanya itu, kampus ini juga menyasar pesisir laut, lewat gerakan konservasi yang berkelanjutan dan berdampak.

Program pengabdian masyarakat itu dirintis sejak penandatanganan kerja sama pada 2023. Saat itu, Rektor UWG Malang Agus Tugas Sudjianto menjalin kemitraan dengan masyarakat Desa Sidodadi. Kini program tersebut memasuki fase yang semakin matang dan berdampak nyata.

Pendampingan dipimpin Dr. Purnawan Dwikora Negara, SH., MH. Bersama tim dosen, ia menerapkan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Program tersebut terus berjalan hingga sekarang.

Gerakan 1-15 Bangun Kesadaran Konservasi

Laporan Komunitas Tegalsari Maritim (KTM) menunjukkan warga terus memantau tanaman yang telah ditanam. Kegiatan itu dilakukan secara mandiri. Monitoring menjadi bagian dari Gerakan 1-15 yang berlangsung setiap tanggal 1 dan 15.

Gerakan tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman pohon. Program ini dirancang membangun ikatan emosional masyarakat dengan lingkungan. Selain itu, hubungan antara warga dan kampus juga semakin kuat.

“Hari ini mereka kembali melakukan monitoring tanaman,” tulis laporan KTM.

Laporan itu menyebut warga akan menambah mangrove langka jenis Bogem. Tanaman tersebut diproyeksikan menjadi ikon baru Gerakan 1-15. Penanaman dilakukan secara rutin untuk mendukung pemulihan ekosistem pesisir dan bantaran sungai.

Kedekatan masyarakat dengan UWG Malang terlihat dalam berbagai kegiatan lapangan. Warga lanjut usia hingga generasi muda mengenakan kaos UWG secara sukarela. Simbol sederhana itu mencerminkan kebanggaan dan hubungan sosial yang terbangun.

Menghidupkan Kembali Pohon Loa

Salah satu fokus restorasi saat ini adalah mengembalikan Pohon Loa. Tanaman tersebut dahulu menjadi ciri khas bantaran sungai di wilayah Sidodadi. Keberadaannya memiliki fungsi ekologis yang penting.

Menurut para tetua desa, Pohon Loa pernah tumbuh rimbun di sepanjang sungai. Tajuk pohon dari kedua sisi saling bertemu. Kondisi itu menciptakan perlindungan alami bagi kawasan bantaran.

Seiring waktu, pohon-pohon tersebut ditebang. Dampaknya, bantaran sungai menjadi lebih rentan terhadap erosi. Kerusakan lingkungan pun semakin mudah terjadi.

Melalui gerakan restorasi, masyarakat berupaya mengembalikan fungsi ekologis tersebut. Mereka juga menjaga nilai sejarah yang melekat pada Pohon Loa. Upaya ini menjadi bagian dari pelestarian ingatan ekologis leluhur.

Mangrove Bogem Jadi Harapan Baru

Selain Pohon Loa, warga mulai membudidayakan mangrove jenis Bogem. Spesies ini memiliki kemampuan tumbuh hingga sekitar 10 kilometer ke arah hulu. Karakter tersebut membuatnya unik dibanding mangrove lain.

Bogem dikenal tahan terhadap banjir. Kayunya kuat dan mampu memperkokoh struktur tanah. Karena itu, tanaman ini dinilai efektif mengurangi risiko abrasi.

Meski memiliki banyak manfaat, pembibitan Bogem tidak mudah. Tanaman ini hanya dapat diperbanyak melalui anakan alami. Anakan tersebut harus tumbuh dalam kondisi terendam air sebelum dipindahkan.

Tantangan tersebut tidak menyurutkan semangat warga. Mereka terus merawat bibit yang tersedia. Langkah itu dilakukan demi menjaga keberlanjutan gerakan konservasi.

Kolaborasi Kampus dan Warga Mitigasi Bencana

Dr. Purnawan Dwikora Negara menilai keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah pohon. Kesadaran kolektif masyarakat menjadi indikator utama. Kesadaran itu tumbuh melalui keterlibatan aktif warga.

“Bukan hanya pohon yang tumbuh, tetapi juga kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Di tengah banyaknya program yang berhenti saat pendanaan selesai, UWG Malang dan warga Sidodadi menunjukkan hal berbeda. Kolaborasi keduanya terus berjalan. Model ini menjadi contoh pembangunan ekologis yang berkelanjutan.

Tanpa banyak publikasi, warga Sidodadi terus bergerak. Mereka menanam pohon, memulihkan bantaran sungai, dan menjaga kawasan pesisir. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari mitigasi kerusakan lingkungan.

Gerakan ini membuktikan keberdayaan masyarakat tidak lahir dari proyek sesaat. Keberhasilan tumbuh dari pendampingan yang konsisten. Kepercayaan dan semangat bersama menjadi fondasi menjaga lingkungan dari tingkat desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *