Indonesiandaily.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kontribusinya dalam membangun kemandirian kesehatan nasional. Kampus Putih menyediakan lahan untuk pembangunan pabrik infus milik PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang.
Dari total 14 hektare aset lahan UMM di kawasan tersebut, sekitar tiga hektare disiapkan sebagai kawasan industri terpadu. Proyek strategis ini resmi dimulai melalui peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Kamis (11/6).
Acara tersebut dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta jajaran pimpinan UMM.
Ditargetkan Beroperasi Tahun 2027
Pabrik infus ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat rantai pasok alat kesehatan, khususnya untuk jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah dan kebutuhan masyarakat luas.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir menegaskan, pembangunan pabrik tersebut menjadi bagian dari konsep socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah.
“Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” ujar Haedar.
Menurutnya, sektor industri kesehatan menjadi bentuk nyata pengabdian Muhammadiyah dalam menghadirkan manfaat sosial. Ia menyebut agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengarahkan aktivitas sosial dan ekonomi melalui nilai kemanusiaan serta kebermanfaatan.
“Organisasi keagamaan juga bisa membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik,” katanya.
UMM Tak Hanya Sediakan Lahan
Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., mengatakan peran UMM tidak hanya sebatas menyediakan lahan. Kawasan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang menghubungkan dunia akademik dengan industri.
“Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” jelas Ahmad.
Ia menambahkan, kawasan industri tersebut akan menjadi ruang kolaborasi riset, inovasi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia. Mahasiswa serta peneliti UMM diharapkan dapat terlibat langsung dalam pengembangan industri kesehatan.
“Ekosistem ini akan mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak SDM yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” tuturnya.
Beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 menjadi langkah baru dalam memperkuat industri kesehatan berbasis nilai sosial. Kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kemandirian kesehatan Indonesia.
