Indonesiandaily.com – Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan wajah baru Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026. Digelar pada 10-14 Agustus 2026, kegiatan ini mengedepankan pendekatan humanis agar mahasiswa baru dapat beradaptasi dengan aman, nyaman, dan bermakna.
PKKMB berlangsung di Stadion Cakrawala dan sejumlah titik di lingkungan kampus UM. Sejak awal, panitia berupaya meninggalkan praktik orientasi yang berpotensi menghadirkan tekanan fisik maupun psikologis.
Mahasiswa baru tidak diposisikan sebagai objek yang harus mengikuti berbagai tradisi senioritas. Mereka justru didorong mengenal kehidupan kampus melalui suasana yang ramah, inklusif, dan menghargai keberagaman.
Ketua Pelaksana PKKMB UM 2026, M. Rajeev Syauqi Alfarisi, menegaskan pendekatan humanis menjadi prinsip utama dalam penyelenggaraan kegiatan tahun ini.
“Prinsip yang aku pegang untuk PKKMB ini adalah humanis. Bagaimana kita memanusiakan manusia sebaik-baik mungkin,” ujarnya.
Tanpa Gundul dan Tekanan Fisik
Komitmen tersebut diwujudkan melalui sejumlah perubahan dalam pelaksanaan PKKMB. Salah satunya dengan menghapus aturan potong rambut gundul bagi mahasiswa baru.
Kebijakan ini menjadi penanda bahwa proses adaptasi di lingkungan perguruan tinggi tidak harus diawali dengan tekanan terhadap penampilan maupun fisik mahasiswa.
Panitia juga memberikan keleluasaan kepada mahasiswa baru untuk membawa kendaraan pribadi. Kebijakan ini diharapkan membantu mereka mengatur mobilitas dengan lebih efisien selama mengikuti rangkaian kegiatan.
Bagi mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah di Malang, fleksibilitas tersebut dapat mengurangi beban waktu, biaya, sekaligus kecemasan selama mengikuti PKKMB.
Sesi seremonial juga disederhanakan agar mahasiswa baru tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dalam kegiatan formal. Pelaksanaan paper mob bahkan dipindahkan dari siang hari ke pagi hari untuk mengurangi paparan panas.
Berbagai keputusan tersebut menunjukkan bahwa aspek kenyamanan menjadi bagian dari perencanaan PKKMB, bukan sekadar pelengkap acara.
Berangkat dari Kekhawatiran Orang Tua
Pendekatan humanis yang diterapkan UM juga tidak terlepas dari perhatian orang tua mahasiswa baru.
Panitia menerima sejumlah pesan melalui akun Instagram PKKMB. Sebagian orang tua berharap anak-anak mereka tidak mendapatkan perlakuan keras seperti cerita orientasi kampus yang pernah terjadi pada masa lalu.
Kekhawatiran tersebut menjadi pertimbangan bagi panitia untuk menciptakan kegiatan yang lebih aman dan bersahabat.
Di balik ribuan mahasiswa yang memenuhi Stadion Cakrawala, terdapat cerita tentang anak-anak muda yang sedang memasuki fase baru kehidupan.
Sebagian untuk pertama kalinya meninggalkan bangku sekolah. Sebagian lainnya harus beradaptasi dengan lingkungan baru setelah meninggalkan keluarga.
Karena itu, PKKMB UM 2026 tidak hanya memperkenalkan fasilitas, aturan, organisasi, dan kehidupan akademik. Kegiatan ini juga berusaha menghadirkan rasa diterima sejak hari pertama.
Paper Mob Bawa Pesan Kesetaraan
Koordinator Acara PKKMB UM 2026, Salmansyah Mousavi Akhyar, mengatakan paper mob menjadi salah satu momen yang membanggakan.
Selain menghadirkan pertunjukan visual, paper mob tahun ini membawa pesan sosial tentang kesetaraan gender. Konsep tersebut bahkan mendapat perhatian positif di media sosial.
“Paper mob ini sudah jadi top of mind-nya UM. Apalagi tahun ini ada koreo tentang gender equality yang banyak dipuji di media sosial. Itu hal yang bisa terus kita tingkatkan,” ujar Salman.
Paper mob kemudian menjadi salah satu simbol kreativitas mahasiswa baru sekaligus cara UM menyampaikan pesan sosial melalui kegiatan orientasi.
UM Jadi Rumah Kedua
Nuansa humanis semakin terasa pada penutupan hari kedua PKKMB. Panitia inti naik ke panggung dan bernyanyi bersama ribuan mahasiswa baru.
Layar besar kemudian menampilkan video orang tua yang mengantar dan melepas anak-anak mereka untuk menempuh pendidikan tinggi.
Koordinator Media Publikasi PKKMB UM 2026, Anisa Putri Wijayanti, mengatakan video tersebut terinspirasi dari momen sederhana ketika mahasiswa baru berpamitan dengan keluarga.
“Kita merasa momen itu penting untuk direkam karena tahu banyak mahasiswa baru yang sedang kangen rumah dan baru pertama kali merantau,” ungkapnya.
Suasana haru pun muncul ketika pesan “UM adalah rumah kedua kalian” disampaikan kepada mahasiswa baru.
Bagi Arin Aretha Abigail, mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), pesan tersebut memiliki makna mendalam.
“Menurutku kalimat itu benar adanya karena tidak semua kampus bisa jadi rumah. Namun, buat aku, UM ini memang definisi dari rumah yang sesungguhnya,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Vakhita Mahda, mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Sosiologi.
“UM adalah rumah. Wah, itu benar-benar suatu kata yang melekat di hati,” ujarnya.
Adaptasi Aman untuk Generasi Baru
PKKMB UM 2026 menunjukkan bahwa orientasi mahasiswa baru dapat dikemas tanpa tekanan fisik dan praktik senioritas.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya membantu mahasiswa melewati masa transisi dari sekolah menengah menuju perguruan tinggi.
Fase tersebut sering kali diwarnai rasa asing, kecemasan, dan tuntutan untuk segera beradaptasi. Karena itu, lingkungan awal yang aman dan nyaman menjadi penting bagi mahasiswa untuk membangun kepercayaan diri.
UM memilih memulai perjalanan tersebut dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
Pesannya sederhana. Mahasiswa baru tidak perlu ditekan untuk menjadi bagian dari kampus. Mereka perlu diberi ruang untuk mengenal, memahami, dan akhirnya merasa memiliki kampusnya.
Melalui PKKMB 2026, UM ingin memastikan bahwa langkah pertama mahasiswa baru di perguruan tinggi bukan dimulai dengan ketakutan, melainkan dengan rasa aman, nyaman, dan keyakinan bahwa kampus adalah ruang untuk tumbuh.
