Tahun Baru 1448 Hijriyah, Prof Abdul Hamid Ajak Masyarakat Muhasabah dan Belajar dari Masa Lalu

Tahun Baru 1448 Hijriyah, Prof Abdul Hamid Ajak Masyarakat Muhasabah dan Belajar dari Masa Lalu

Indonesiandaily.com – Pergantian Tahun Baru Hijriah 1448 H menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri. Guru Besar Bidang Ilmu Bahasa Arab, Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, S.Ag., M.A., menilai pergantian tahun tidak sekadar perubahan angka dalam kalender Islam.

Menurut Prof Hamid, Tahun Baru Hijriah merupakan waktu yang tepat untuk meninjau kembali perjalanan hidup yang telah dilalui. Refleksi tersebut penting untuk mengukur capaian, mengakui kekurangan, serta mengambil hikmah dari berbagai pengalaman.

“Tahun baru adalah momentum muhasabah diri,” ujarnya, Sabtu (14/06).

Ia menjelaskan, masyarakat modern sering kali lebih fokus menatap masa depan dibanding memahami pelajaran dari masa lalu. Padahal, pengalaman yang telah dilalui menyimpan banyak hikmah yang dapat menjadi bekal menghadapi tantangan berikutnya.

“Masa lalu membentuk siapa diri kita hari ini,” katanya.

 

Jejak Kehidupan Tak Pernah Hilang

Wakil Rektor IV UIN Malang ini mengibaratkan perjalanan hidup seperti jejak digital yang tersimpan di era modern. Setiap unggahan, komentar, maupun aktivitas digital meninggalkan rekam jejak yang dapat ditelusuri kembali.

Menurutnya, hal serupa juga berlaku dalam kehidupan nyata. Setiap keputusan, tindakan, dan perkataan akan meninggalkan dampak yang memengaruhi kehidupan seseorang pada masa mendatang.

“Setiap tindakan meninggalkan pengaruh,” tegasnya.

Prof Hamid menilai muhasabah menjadi sarana penting untuk membaca kembali perjalanan hidup. Dengan refleksi, seseorang dapat mengetahui apa yang perlu diperbaiki dan apa yang harus dipertahankan.

Orang yang enggan mengevaluasi diri, lanjutnya, berpotensi mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, mereka yang belajar dari pengalaman akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

 

Sejarah dan Pengalaman sebagai Guru Kehidupan

Guru Besar ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia mempelajari sejarah sebagai sumber pelajaran. Kisah umat terdahulu bukan sekadar cerita, melainkan sarana pembelajaran bagi mereka yang mau berpikir.

Menurutnya, sejarah merupakan laboratorium kehidupan yang menyimpan berbagai contoh keberhasilan, kegagalan, perjuangan, dan konsekuensi dari setiap pilihan manusia.

“Sejarah adalah laboratorium kehidupan,” ujarnya.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan pribadi. Setiap orang memiliki pengalaman yang dapat menjadi sumber pembelajaran, baik dari keberhasilan maupun kegagalan yang pernah dialami.

Ia menambahkan, banyak nilai kehidupan lahir dari pengalaman yang tidak mudah. Kesabaran, keikhlasan, amanah, dan empati sering kali terbentuk melalui berbagai ujian yang dihadapi seseorang.

Pengalaman hidup, kata Hamid, merupakan investasi kebijaksanaan. Semakin banyak pengalaman yang dimaknai dengan baik, semakin matang seseorang dalam menghadapi kehidupan.

“Kebijaksanaan lahir dari pengalaman yang dimaknai,” katanya.

 

Muhasabah bagi Akademisi dan Pemegang Amanah

Prof Hamid juga mengingatkan pentingnya refleksi bagi kalangan akademisi. Menurutnya, ukuran keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh publikasi ilmiah atau prestasi akademik semata.

Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Penelitian dan gagasan akademik perlu menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan umat.

“Ilmu harus menghadirkan kemanfaatan,” ujarnya.

Selain akademisi, refleksi juga penting bagi pemegang jabatan dan amanah publik. Jabatan, menurutnya, bukan sekadar simbol keberhasilan, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Ia mengajak para pemimpin mengevaluasi apakah kewenangan yang dimiliki telah digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

“Jabatan adalah amanah, bukan kehormatan,” tegasnya.

 

Perguruan Tinggi dan Kolaborasi Harus Berdampak

Dalam konteks kelembagaan, Prof Hamid menilai perguruan tinggi perlu terus melakukan evaluasi di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat. Kampus tidak cukup hanya menjadi pusat transfer ilmu pengetahuan.

Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menjadi pusat transformasi sosial yang memberikan solusi bagi kebutuhan masyarakat dan pembangunan bangsa.

“Kampus harus menghadirkan manfaat nyata,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengevaluasi berbagai kerja sama dan kolaborasi yang telah dibangun oleh institusi. Kerja sama, menurutnya, tidak boleh berhenti pada seremoni atau penandatanganan dokumen.

“Nilai kolaborasi terletak pada dampaknya,” ujarnya.

 

Menyongsong 1448 H dengan Kesadaran Baru

Menjelang Tahun Baru Hijriah 1448 H, Prof Hamid mengajak masyarakat membangun kesadaran baru tentang pentingnya waktu, manfaat, dan tanggung jawab sosial.

Ia menegaskan bahwa masa lalu bukan untuk disesali, melainkan dijadikan sumber pembelajaran dalam menata masa depan yang lebih baik.

“Masa lalu bukan untuk disesali,” katanya.

Profesor Bahasa Arab ini berharap Tahun Baru Hijriah menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menghadirkan kemanfaatan bagi sesama. Menurutnya, keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari capaian pribadi, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.

“Tahun lama tetap bermakna untuk direnungkan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *