Indonesiandaily.com – Pakar Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa kerusakan paling fatal pada perangkat elektronik umumnya terjadi bukan saat listrik padam, melainkan ketika pasokan listrik kembali dinyalakan.
Pemadaman listrik yang terjadi berulang tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut juga dapat memicu kerusakan serius pada berbagai perangkat elektronik rumah tangga, terutama saat aliran listrik kembali menyala.
“Kondisi tersebut dipicu oleh lonjakan tegangan atau power surge yang muncul sesaat setelah aliran listrik kembali normal,” ungkap Prof Mahmud Effendy.
Lonjakan Tegangan Jadi Penyebab Utama Kerusakan
Machmud menuturkan, banyak masyarakat masih menganggap pemadaman listrik sebagai penyebab langsung rusaknya perangkat elektronik. Padahal, risiko terbesar justru muncul saat listrik kembali mengalir.
Ketika jaringan listrik dipulihkan, tegangan dapat melonjak jauh di atas standar normal 220 volt. Lonjakan energi dalam waktu sangat singkat itu berpotensi merusak komponen elektronik yang dirancang bekerja pada rentang tegangan tertentu.
“Secara umum, yang lebih berpotensi merusak alat elektronik adalah saat listrik kembali menyala. Pada saat jaringan listrik dipulihkan, sering terjadi lonjakan tegangan sesaat yang dapat jauh melebihi tegangan normal 220 volt,” ujarnya.
Ia menyebut televisi, komputer, charger, router Wi-Fi, mesin cuci, hingga pendingin ruangan termasuk perangkat yang rentan mengalami kerusakan akibat lonjakan tegangan.
Risiko Kehilangan Data dan Kerusakan Sistem
Dampak pemadaman listrik tidak hanya dirasakan oleh perangkat elektronik rumah tangga. Perangkat digital seperti komputer dan server juga menghadapi risiko yang tidak kalah besar.
Saat pemadaman terjadi ketika perangkat sedang memproses atau menyimpan data, berbagai masalah dapat muncul. Mulai dari hilangnya data, rusaknya file, hingga kegagalan sistem operasi saat proses booting.
“Pada perangkat yang sedang menulis data, dampaknya bisa sangat serius. Tidak hanya kehilangan data, tetapi file dapat menjadi rusak, sistem operasi gagal berjalan, hingga terjadi kerusakan fisik pada media penyimpanan seperti hard disk jika kejadian berlangsung berulang,” jelasnya.
Kerusakan Tersembunyi pada AC dan Kulkas
Machmud juga mengingatkan adanya risiko latent damage atau kerusakan tersembunyi yang sering tidak disadari pengguna.
Ancaman ini banyak terjadi pada perangkat yang menggunakan kompresor, seperti AC dan kulkas. Ketika listrik kembali menyala, perangkat dapat langsung bekerja dalam kondisi tekanan yang belum stabil.
Akibatnya, terjadi penuaan mikroskopis pada komponen internal. Kerusakan tersebut sering kali tidak langsung terlihat dan baru muncul beberapa minggu setelah pemadaman terjadi.
“Banyak perangkat tampak normal setelah listrik kembali menyala. Namun, bisa saja komponen di dalamnya telah mengalami kerusakan mikroskopis yang baru menimbulkan masalah di kemudian hari,” katanya.
Langkah Aman Melindungi Perangkat Elektronik
Karena itu, gangguan listrik sebaiknya tidak dianggap sebagai peristiwa sepele. Masyarakat perlu mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kerusakan perangkat elektronik.
Saat terjadi pemadaman, pengguna disarankan segera mencabut steker perangkat elektronik yang sensitif terhadap perubahan tegangan.
Setelah listrik kembali menyala, perangkat sebaiknya tidak langsung dioperasikan. Berikan jeda sekitar dua hingga lima menit sebelum menyalakannya secara bertahap.
Selain itu, penggunaan surge protector berkualitas dinilai menjadi investasi penting bagi rumah tangga modern. Perangkat ini mampu menyerap lonjakan tegangan sehingga dapat melindungi aset digital sekaligus memperpanjang usia perangkat elektronik.
Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko kerusakan akibat pemadaman listrik dapat diminimalkan dan keamanan perangkat elektronik tetap terjaga.
