Nano Agro UB Bidik Pasar Pengendali Hama Buah, Produksi Jadi Tantangan

Nano Agro UB Bidik Pasar Pengendali Hama Buah, Produksi Jadi Tantangan

Indonesiandaily.com – Inovasi pengendalian hama berbasis nano yang dikembangkan Departemen Biologi FMIPA Universitas Brawijaya (UB) mulai menemukan peluang pasar di Jawa Timur. Namun, pengembangan produk tersebut masih menghadapi tantangan pada sisi produksi dan kesinambungan mitra.

Guru Besar Departemen Biologi FMIPA UB, Prof. Amin Setyo Leksono, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan pengembangan Nano Agro dilakukan bersama mitra yang berperan dalam proses produksi.

Menurutnya, UB tidak mengambil peran sebagai produsen. Perguruan tinggi lebih fokus pada pengembangan teknologi dan formulasi, sementara produksi diserahkan kepada mitra.

“Yang mengembangkan kami, yang memproduksi mitra,” kata Prof. Amin.

Sebelumnya, pengembangan produk tersebut sempat melibatkan salah satu badan usaha milik daerah di Kota Malang. Namun, kerja sama tersebut terhenti setelah terjadi pergantian pimpinan.

UB, kata Prof. Amin, telah berupaya membuka kembali komunikasi dengan pihak tersebut. Akan tetapi, proses penjajakan belum dapat berjalan optimal karena saat itu masih berlangsung masa kepemimpinan pelaksana tugas.

Menyasar Hama Buah-buahan 

Di tengah persaingan produk pengendali hama yang cukup banyak, Nano Agro menawarkan formulasi yang diperkaya agen pengendali hama. Karakter tersebut membuat produk ini diarahkan terutama untuk kebutuhan pertanian hortikultura.

Prof. Amin menyebut tanaman buah menjadi salah satu sasaran penggunaan yang dinilai sesuai dengan karakter produk.

“Diperkaya dengan agen untuk mengendalikan hama, khususnya hama pada buah-buahan,” ujarnya.

Dari sisi harga, Nano Agro dipasarkan sekitar Rp50.000 per liter. Harga tersebut dinilai masih memiliki ruang untuk bersaing, terutama di daerah yang belum terlalu padat dengan produk sejenis.

Salah satu pasar yang dinilai potensial berada di wilayah Tulungagung hingga Trenggalek. Menurut Prof. Amin, jumlah kompetitor di kawasan tersebut relatif belum terlalu banyak sehingga peluang pasarnya masih terbuka.

Produksi Jadi Tantangan

Meski peluang pasar tersedia, pengembangan Nano Agro belum langsung diarahkan ke seluruh Indonesia. Tahap awal masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan di Jawa Timur.

Persoalannya bukan semata-mata pasar, melainkan kemampuan produksi yang belum mampu mengikuti kebutuhan.

“Untuk memenuhi kebutuhan Jawa Timur pun masih belum bisa,” jelas Prof. Amin.

Kondisi tersebut membuat keberadaan mitra produksi menjadi faktor penting dalam pengembangan produk. Jika kapasitas produksi dapat diperbesar melalui kerja sama dengan mitra yang tepat, distribusi Nano Agro berpeluang diperluas ke wilayah lain di Indonesia.

Prof. Amin mengatakan orientasi jangka panjang memang mengarah pada perluasan distribusi. Namun, langkah tersebut perlu didahului dengan penguatan kapasitas produksi agar peningkatan pasar tidak justru menimbulkan persoalan baru pada ketersediaan produk.

Dengan demikian, tantangan Nano Agro saat ini bukan hanya membuktikan keunggulan formulanya di tengah persaingan produk pengendali hama, tetapi juga memastikan inovasi tersebut mampu diproduksi secara berkelanjutan dan menjangkau petani yang membutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *