Lulusan Doktor Terbaik, Dosen ITN Malang Ungkap Dampak Serius Komodifikasi Lahan di Kota Batu

Lulusan Doktor Terbaik, Dosen ITN Malang Ungkap Dampak Serius Komodifikasi Lahan di Kota Batu

Indonesiandaily.com – Prestasi membanggakan diraih dosen Prodi S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang, Dr. Mohammad Reza, S.T., MURP.. Ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Program Doktor PWK sekaligus lulusan terbaik Program Pascasarjana Universitas Bosowa, Makassar, setelah menyelesaikan studi doktoralnya hanya dalam 2 tahun 7 bulan dengan IPK sempurna 4,00.

Di balik prestasi akademik tersebut, Reza menghadirkan riset yang menyoroti persoalan serius di Kota Batu. Melalui disertasinya berjudul Model Komodifikasi Lahan Pertanian di Kota Batu, Jatim. Ia mengungkap dampak masif alih fungsi lahan pertanian akibat pesatnya perkembangan sektor pariwisata dan properti.

Menurut Reza, komodifikasi lahan terjadi ketika lahan pertanian dipandang semata-mata sebagai komoditas ekonomi. Sehingga fungsi ekologis dan ketahanan pangan mulai terabaikan.

“Ketika pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan tidak berjalan seimbang, konsekuensi besarnya adalah bencana. Dalam 10 tahun terakhir, Kota Batu menghadapi tantangan kebencanaan seperti longsor dan banjir akibat perubahan tata guna lahan di beberapa kawasan,” ujarnya.

Ia menegaskan, penguatan konsistensi dalam menjaga tata guna lahan serta penetapan kawasan yang tidak boleh dibangun. Hal tersebut harus menjadi prioritas pemerintah agar pembangunan tetap berkelanjutan.

Temukan Ancaman Baru Lewat Analisis Digital

Dalam penelitiannya, Reza memanfaatkan metode Cellular Automata–Artificial Neural Network (CA-ANN) untuk memetakan perubahan penggunaan lahan di Kota Batu.

Hasil analisis menunjukkan kawasan permukiman berkembang sangat pesat. Serta mulai memasuki wilayah yang memiliki tingkat kerentanan bencana cukup tinggi.

Tak hanya itu, alih fungsi lahan pertanian di kawasan bawah membuat banyak petani kehilangan ruang produksi. Sebagian akhirnya membuka lahan di kawasan atas yang berstatus hutan lindung dengan pola tumpang sari.

Kondisi tersebut justru meningkatkan potensi longsor, terutama saat curah hujan tinggi melanda kawasan pegunungan.

Petani Lokal Semakin Terdesak

Melalui pendekatan Social Network Analysis (SNA), Reza juga menemukan ketimpangan penguasaan lahan di Kota Batu.

Mayoritas lahan kini dikuasai pemilik modal dari luar daerah. Sementara posisi tawar petani lokal semakin melemah.

Di sisi lain, pemerintah daerah dituntut mengembangkan sektor jasa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah. Menurut Reza, kondisi ini membutuhkan kebijakan tata ruang yang lebih adaptif agar pembangunan tidak mengorbankan sektor pertanian.

“Jika alih fungsi lahan seperti di Kota Batu tidak segera dihentikan, jangan kaget kalau ke depan ketergantungan pangan kita terhadap luar negeri akan semakin tinggi,” tegasnya.

Tawarkan Solusi untuk Pemerintah

Sebagai bagian dari disertasinya, Reza menyusun tiga skenario kebijakan melalui pendekatan System Dynamics Modeling. Yakni skenario optimistis, moderat, dan pesimistis.

Ia juga merekomendasikan reformulasi kebijakan tata ruang yang lebih adaptif dengan memberikan insentif kepada petani berupa keringanan pajak, jaminan pupuk, bibit unggul, bantuan alat pertanian. Hingga pengembangan vertical farming dan pemanfaatan lahan kritis non-lindung bersama Perhutani.

Reza berharap hasil risetnya dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, khususnya di Malang Raya, dalam menyusun kebijakan tata ruang. Khususnya dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan ketahanan pangan.

“Bagi rekan-rekan dosen dan mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studi lanjut, tetaplah konsisten, jeli melihat akar masalah di lapangan. Serta mengawinkan metodologi riset secara valid agar mampu melahirkan solusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *