Mahasiswa UMM Rancang Teknologi untuk Pantau Karbon Biru di Pulau Terpencil

Mahasiswa UMM Rancang Teknologi untuk Pantau Karbon Biru di Pulau Terpencil

Indonesiandaily.com – Persoalan menjaga ekosistem pesisir tidak selalu mudah dilakukan, terutama di wilayah kepulauan terpencil. Akses yang sulit dan mahalnya survei lapangan membuat potensi karbon biru di kawasan tersebut belum sepenuhnya terpetakan.

Kondisi itu justru mendorong tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melahirkan gagasan teknologi untuk memantau ekosistem padang lamun dari jarak jauh.

Tim Sluman Slumun Slamet dari Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) UMM, meraih Bronze Medal atau Juara III pada IRIFair 2026 kategori BRINATHON (BRIN Idea Marathon), Klaster Ilmu Kebumian, Antariksa, dan Kelautan.

Gagasan yang mereka bawa bernama Blue Carbon Digital Twin. Konsep tersebut dipresentasikan di Gedung BJ Habibie Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Rabu (24/9/2026).

Berangkat dari Padang Lamun Kepulauan Kangean

Ketua tim, Ludwick Satria Romadoni, mengatakan gagasan itu berangkat dari persoalan pengelolaan ekosistem padang lamun di kawasan Kepulauan Kangean dan Sapekan, Kabupaten Sumenep.

Menurutnya, padang lamun memiliki peran penting dalam ekosistem karbon biru karena mampu menyimpan karbon, termasuk pada sedimen. Namun, kondisi geografis kepulauan membuat proses inventarisasi karbon tidak sederhana.

“Permasalahannya adalah inventarisasi karbon di wilayah pulau terpencil masih terkendala akses yang terbatas,” ujar Ludwick.

Selain akses, survei lapangan membutuhkan biaya besar. Karakteristik perairan dangkal juga membuat pengambilan data membutuhkan metode yang tepat.

Persoalan tersebut kemudian coba dijawab melalui pendekatan teknologi.

Gabungkan Satelit dan Drone

Blue Carbon Digital Twin memadukan citra satelit Sentinel-2 yang diolah melalui Google Earth Engine (GEE) dengan data dari Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone.

Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Object-Based Image Analysis (OBIA). Metode ini digunakan untuk membantu memetakan kondisi padang lamun sekaligus membangun basis data spasial.

Dari basis data tersebut, tim mengembangkan pendekatan untuk memperkirakan biomassa bawah permukaan, stok karbon, hingga potensi serapan karbon.

Informasi itu tidak berhenti pada pemetaan. Jika dikembangkan lebih lanjut, data tersebut dapat menjadi bagian dari perhitungan nilai ekonomi karbon, pengembangan perdagangan karbon, serta penyusunan kebijakan konservasi dan mitigasi perubahan iklim.

Dengan begitu, teknologi yang dirancang mahasiswa UMM tersebut diarahkan bukan sekadar untuk menghasilkan peta, tetapi menyediakan data yang dapat membantu pengelolaan ekosistem pesisir.

Diuji dengan Data Lapangan

Gagasan Blue Carbon Digital Twin juga tidak berhenti pada konsep. Tim telah melakukan pengambilan data lapangan menggunakan drone yang kemudian dimanfaatkan sebagai data latih untuk citra satelit.

Persiapan menuju kompetisi dilakukan sekitar tiga bulan. Prosesnya mencakup pengolahan data hingga penyusunan idea concept paper (ICP).

Di IRIFair 2026 kategori BRINATHON, tim UMM menjadi satu dari 10 finalis yang mempresentasikan gagasannya di hadapan peneliti dan juri BRIN.

IRIFair sendiri merupakan program manajemen talenta riset dan inovasi yang diselenggarakan BRIN bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pada kategori BRINATHON, mahasiswa jenjang D4 dan S1 ditantang menghadirkan gagasan riset dan inovasi.

Tim Sluman Slumun Slamet beranggotakan Ludwick Satria Romadoni sebagai ketua, Citra Lesmana, dan Mochamad Iffan. Ketiganya merupakan mahasiswa Pendidikan Biologi angkatan 2023 dengan bimbingan Dr. Husamah, M.Pd. dan Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si.

Ingin Perkuat Perhatian pada Karbon Biru

Bagi Ludwick, capaian di IRIFair menjadi bagian dari proses untuk membawa isu karbon biru. Terutama agar mendapat perhatian lebih luas, terutama dalam konteks ekosistem pesisir Indonesia.

Ia berharap gagasan tersebut masih dapat dikembangkan, baik dari sisi ketepatan data maupun penerapannya dalam kebijakan.

“Semoga ide riset kami bisa mendukung concern blue carbon di Indonesia,” katanya.

Menurut dia, pengembangan lebih lanjut dibutuhkan agar teknologi tersebut tidak hanya mampu menghasilkan data yang lebih akurat. Tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kebijakan pengelolaan karbon biru.

Bagi wilayah kepulauan seperti Kangean dan Sapekan, pendekatan berbasis teknologi tersebut diharapkan dapat membuka cara baru. Yakni untuk mengenali potensi ekosistem pesisir tanpa sepenuhnya bergantung pada survei lapangan yang mahal dan sulit dijangkau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *