Indonesiandaily.com – Kolaborasi antara kampus dan masyarakat di Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, diarahkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat. Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) bersama kelurahan mulai menyiapkan fondasi kerja sama jangka panjang melalui program Kampung Lingkar Kampus (KLK).
Langkah itu dibahas dalam konsinyering penyusunan perjanjian kerja sama pengembangan KLK. Forum tersebut menjadi ruang untuk memetakan kebutuhan warga sekaligus menyusun program yang dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Dekan FILKOM UB Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., mengatakan berbagai kegiatan yang telah dilakukan perlu ditempatkan dalam sistem yang jelas. Dengan begitu, program tidak berhenti ketika satu kegiatan selesai atau terjadi pergantian kepemimpinan.
“Jangan sampai kegiatan ini hanya berhenti pada satu periode saja,” ujarnya.
Menurut Tri Astoto, pola kerja sama juga perlu dibangun secara setara. Kampus tidak hanya membawa program kepada warga, tetapi juga belajar dari kebutuhan dan pengalaman masyarakat.
“Relasi ini bersifat setara. Sama-sama bisa saling memberi dan menerima,” katanya.
Manfaat yang Dirasakan Warga
Lurah Ketawanggede Raden Agung Harjaya Buana, S.E., M.SE., mengatakan sejumlah manfaat program KLK telah dirasakan masyarakat. Namun, ia menilai kolaborasi masih perlu diperkuat agar program tidak berjalan sporadis.
Karena itu, kerja sama jangka panjang dinilai penting untuk memastikan program tetap berjalan meski terjadi pergantian kepemimpinan di kelurahan.
“Siapa pun lurahnya, fondasinya telah ada dan tinggal dilanjutkan,” ujarnya.
Sejumlah kebutuhan warga mulai menjadi perhatian bersama. Pengelolaan sampah menjadi salah satu persoalan yang masih perlu diperkuat. Di sisi lain, digitalisasi surat di lingkungan kelurahan telah berjalan sebagai contoh pemanfaatan teknologi untuk mendukung pelayanan masyarakat.
Kolaborasi juga menyentuh persoalan lingkungan. Tim KLK FILKOM UB sebelumnya melakukan penanaman pohon pisang dan bambu di bantaran Sungai Brantas pada 28 Mei 2026.
Dari Pemetaan ke Program Bersama
KLK FILKOM UB berawal dari pemetaan wilayah untuk melihat potensi dan kebutuhan masyarakat Ketawanggede. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan ruang kolaborasi yang lebih terarah.
Ketua KLK FILKOM UB Ir. Edy Santoso, S.Si., M.Kom., turut mengawal proses penyusunan kerja sama. Forum juga dihadiri jajaran FILKOM UB serta perwakilan masyarakat Ketawanggede.
Melalui kerja sama ini, kampus dan masyarakat tidak sekadar menjalankan program bersama. Keduanya membangun pola kemitraan yang diharapkan mampu menghadirkan manfaat dalam pelayanan, teknologi, lingkungan, hingga penguatan kapasitas warga.
Dengan fondasi tersebut, KLK diharapkan menjadi model kolaborasi yang dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan, sekaligus mendukung terwujudnya lingkungan permukiman yang lebih berkelanjutan.



