Indonesiandaily.com – Prodi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berinovasi dalam meningkatkan kompetensi mahasiswanya. Terbaru, prodi ini menyelenggarakan kuliah tamu yang menghadirkan pakar hemodialisis dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) dari dalam dan luar negeri.
Ketua Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat relevan bagi mahasiswa yang kerap bertugas di ruang hemodialisis. “Mahasiswa Profesi Keperawatan sering praktik langsung menangani pasien gagal ginjal kronis. Melalui kuliah tamu ini, mereka mendapat evidence-based terbaru dan update keilmuan yang sangat dibutuhkan,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Kuliah tamu ini tidak hanya bersifat satu arah, tetapi juga membuka ruang diskusi yang hangat. Para mahasiswa dapat berbagi pengalaman kasus yang mereka temui di lapangan dan langsung berkonsultasi dengan para pakar.
Guest Lecture kali ini mengangkat “Chronic Kidney Disease: A Continuum of Care from Lifestyle to Dialysir Strengthening the Role of Nursing Care”. Dengan menghadirkan Ketua Pengurus Pusat Ikatan Perawatan Dialisis Indonesia (IPDI) Syamsul Bahri MKep dan akademisi dari Thailand, Dr. Surachal Maninet RN.
CAPD: Alternatif Cuci Darah yang Lebih Baik?
Salah satu sorotan utama dalam kuliah tamu ini adalah pergeseran paradigma penanganan gagal ginjal kronis. Selama ini, pasien di Indonesia lebih banyak menjalani terapi hemodialisis (HD) atau cuci darah. Namun, dalam perkuliahan ini, mahasiswa diperkenalkan secara mendalam mengenai CAPD.
“Dari sisi kualitas hidup, pasien yang menjalani CAPD cenderung lebih baik. Di luar negeri, terutama di Eropa, penanganan pasien gagal ginjal kronis sudah banyak beralih ke CAPD,” jelas Anis.
Ketua Perawat Hemodialisis Indonesia yang hadir sebagai narasumber memaparkan secara detail mengenai prosedur, Standar Operasional Prosedur (SOP), serta hal-hal krusial yang perlu diperhatikan dalam perawatan CAPD.
Sementara itu, narasumber dari Thailand memberikan perspektif yang lebih luas. Ia membeberkan berbagai penelitian terbaru dan mengungkapkan bahwa di negaranya, pasien gagal ginjal sudah jarang menggunakan metode cuci darah dan lebih memilih CAPD sebagai terapi utama.
“Indonesia sendiri sudah mulai bergeser ke arah CAPD. Dengan menghadirkan pakar dari Thailand yang negaranya sudah menerapkan kebijakan nasional untuk CAPD, mahasiswa bisa mendapatkan gambaran nyata tentang masa depan keperawatan ginjal,” tambahnya.
Membuka Jalan ke Kancah Global
Kuliah tamu ini juga menjadi bagian dari upaya UMM untuk mempersiapkan lulusan yang berdaya saing global. Anis menegaskan bahwa banyak lulusan Profesi Keperawatan UMM yang sudah bekerja di luar negeri. “Kami harap calon lulusan juga dapat Go Internasional. Kuliah tamu ini menjadi bekal untuk menghantarkan mereka memiliki wawasan global,” ujarnya.
Tidak hanya soal gagal ginjal, Prodi Keperawatan sebelumnya juga menghelat kuliah tamu yang membahas penanganan diabetes melitus dan berbagai penyakit tidak menular lainnya. Hal ini dinilai penting mengingat semakin banyaknya kasus anak usia remaja yang sudah menderita gagal ginjal, serta penyakit tidak menular lainnya.
“Mahasiswa Profesi Keperawatan UMM sudah disiapkan untuk menangani kasus-kasus tersebut, baik di skala dalam negeri maupun luar negeri,” tegas Anis.
Permintaan dari Jerman dan Austria
Permintaan tenaga perawat dari luar negeri terhadap lulusan UMM pun terus meningkat. Salah satu permintaan datang dari sejumlah rumah sakit di Jerman. “Bahkan para mahasiswa yang akan ditempatkan di sana kami siapkan selama delapan bulan untuk pemantapan bahasa asing agar setelah lulus, mereka bisa langsung bekerja,” ungkap Anis.
Tidak hanya Jerman, Austria juga tercatat meminta tenaga perawat dari Prodi Profesi Ners UMM. Tingginya permintaan ini menunjukkan bahwa kompetensi unggulan lulusan UMM, terutama dalam penanganan penyakit tidak menular, sangat diakui di pasar global.
Dengan adanya kuliah tamu ini, diharapkan para calon perawat UMM tidak hanya siap secara klinis, tetapi juga memiliki perspektif internasional yang kuat.
