Indonesiandaily.com – Botol plastik bekas, kulit buah, sisa sayuran hingga tutup botol yang biasanya berakhir di tempat sampah, Sabtu pagi itu justru berubah menjadi bahan belajar bagi anak-anak Panti Asuhan Mawaddah Warohmah, Bunulrejo, Kota Malang.
Sekitar 20 anak penghuni panti dari jenjang SD hingga SMA terlihat mengikuti kegiatan yang digelar mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Gelombang 1 Tahun 2026 Jurusan Pendidikan Matematika Kelas A2 Universitas Islam Malang (UNISMA).
Mereka tidak sekadar mendengarkan penjelasan tentang lingkungan. Anak-anak diajak menyentuh, memilah, memadatkan, mencampur hingga mengubah sampah menjadi benda yang memiliki nilai guna.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proyek kepemimpinan bertajuk “Cerita SISA (Solusi Inovatif Sampah Aktif)” yang telah dirancang dan dijalankan sejak Agustus 2026. Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 08.30–11.30 WIB.
Berawal dari Sampah yang Menumpuk
Gagasan Cerita SISA tidak muncul begitu saja.
Sebelum kegiatan digelar, tujuh mahasiswa PPG UNISMA melakukan observasi langsung di lingkungan Panti Asuhan Mawaddah Warohmah. Dari pengamatan tersebut, mereka menemukan persoalan sederhana tetapi cukup dekat dengan keseharian penghuni panti: volume sampah organik dan anorganik yang cukup tinggi belum diimbangi kebiasaan memilah dan mengolah sampah.
Persoalan itu kemudian menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk merancang kegiatan yang tidak berhenti pada penyampaian materi.
Tiara Mastura Nafisa, Risna Nuraini, Wahyu Kartikawati, Risma Ardhelisa Aulyafani, Syelvira Nova Zulfaidany, Indhiadma Parnata, dan Iis Sholekah menyusun program mulai dari observasi, diskusi, perancangan kegiatan, proposal hingga koordinasi teknis dengan pengasuh panti.
Seluruh proses berlangsung di bawah bimbingan Dr. Surya Sari Faradiba, M.Si.
Bagi tim, persoalan sampah di panti bukan sekadar masalah kebersihan. Lebih jauh, kondisi tersebut menjadi kesempatan untuk mengenalkan kebiasaan baru kepada anak-anak sejak dini.
Ketua Pelaksana Cerita SISA, Tiara Mastura Nafisa, berharap kegiatan yang mereka bawa tidak berakhir ketika mahasiswa meninggalkan panti.
Pesan utamanya sederhana: memilah sampah harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar aktivitas ketika ada kegiatan kampus.
Sampah Diubah Menjadi Karya
Puncak Cerita SISA diawali dengan briefing panitia, pembukaan dan sambutan. Setelah itu, mahasiswa menyerahkan donasi kepada pihak panti sebelum memasuki sesi utama.
Anak-anak kemudian dikenalkan dengan tiga kelompok sampah, yakni organik, anorganik dan B3 atau bahan berbahaya dan beracun.
Namun, materi tidak disampaikan dengan pola ceramah panjang.
Mahasiswa PPG mengajak peserta langsung mempraktikkan cara mengolah sampah. Suasana pun berubah menjadi lebih aktif ketika anak-anak mulai mengerjakan proyek mereka masing-masing.
Plastik bekas kemasan dimasukkan ke dalam botol dan dipadatkan hingga menjadi eco-brick. Kulit buah dan sisa sayuran dipadukan dengan molase serta air untuk diperkenalkan sebagai bahan eco-enzyme.
Sementara tutup botol bekas yang selama ini dianggap tidak berguna disulap menjadi gantungan kunci.
Dari tangan anak-anak panti, sampah perlahan kehilangan kesan sebagai barang yang harus segera dibuang.
Sebanyak enam botol eco-brick berhasil dibuat. Praktik eco-enzyme menghasilkan sekitar 15 liter, sedangkan kreativitas peserta melahirkan sekitar 50 gantungan kunci dari tutup botol bekas.
Bagi mahasiswa PPG, hasil tersebut bukan semata-mata ukuran keberhasilan kegiatan.
Lebih pentingnya lagi adalah pengalaman anak-anak melihat sendiri bahwa barang yang dianggap sampah masih bisa memiliki fungsi ketika dipilah dan diolah dengan cara yang tepat.
Meninggalkan Kebiasaan, Bukan Sekadar Poster
Cerita SISA juga dirancang agar pengetahuan yang diberikan tidak hilang setelah kegiatan selesai.
Tim membagikan leaflet yang dilengkapi kode QR menuju buku panduan pengolahan sampah. Poster edukasi juga dipasang di sejumlah titik strategis lingkungan panti agar pesan mengenai pemilahan sampah tetap dapat dibaca dalam keseharian.
Ada satu sesi yang menjadi penutup sekaligus refleksi kegiatan: “pohon komitmen”.
Setiap anak diminta menuliskan komitmen pribadi untuk menjaga lingkungan pada kertas berbentuk daun. Kertas-kertas itu kemudian ditempelkan pada sebuah pohon yang perlahan dipenuhi janji kecil para penghuni panti.
Ada makna yang ingin ditinggalkan mahasiswa melalui aktivitas tersebut.
Perubahan perilaku tidak selalu dimulai dari program besar. Bisa saja bermula dari keputusan sederhana untuk tidak mencampur botol plastik dengan sisa makanan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, atau memanfaatkan kembali benda yang masih dapat digunakan.
Mansyur selaku pengasuh Panti Asuhan Mawaddah Warohmah turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Sementara bagi tujuh mahasiswa PPG UNISMA, Cerita SISA menjadi pengalaman untuk menerjemahkan kepemimpinan ke dalam tindakan nyata. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menyusun sebuah proyek, tetapi juga bagaimana pengetahuan yang dimiliki dapat menyentuh persoalan di lingkungan masyarakat.
Dari Panti Asuhan Menuju Gelar Karya
Perjalanan Cerita SISA belum sepenuhnya selesai.
Hasil proyek tersebut direncanakan dipamerkan dalam Gelar Karya mahasiswa PPG UNISMA bersama kelompok lain dalam satu angkatan.
Namun, ukuran keberhasilan proyek ini sesungguhnya tidak hanya berada di ruang pamer.
Nilai terbesarnya justru akan terlihat dari apa yang terjadi setelah kegiatan berakhir.
Apakah botol plastik mulai dipilah? Apakah sisa makanan tidak lagi bercampur dengan sampah anorganik? Apakah anak-anak masih membuat sesuatu dari barang bekas?
Jika kebiasaan-kebiasaan kecil itu terus berjalan, maka Cerita SISA telah menemukan makna sebenarnya.
Sebab, pada akhirnya, cerita tentang sampah bukan hanya tentang bagaimana sesuatu dibuang.
Cerita itu juga tentang bagaimana manusia belajar melihat kembali sesuatu yang dianggap tidak berguna, lalu memberinya kesempatan kedua.



