Indonesiandaily.com – Dari ruang kelas di Malang hingga bangku doktoral di Inggris, Bayu Dharmala membawa satu kegelisahan yang terus mengikutinya: mengapa kemampuan bahasa Inggris peserta didik di Indonesia belum selalu berbanding lurus dengan kemampuan mereka berkomunikasi di dunia nyata?
Pertanyaan itu kini menjadi bagian dari perjalanan akademiknya di University of Nottingham, Inggris. Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut tengah menempuh program doktoral Applied Linguistics melalui Beasiswa LPDP Doctoral Scholarship.
Bayu menjalani studi selama empat tahun, mulai Februari 2026 hingga Januari 2030. Di tengah lingkungan akademik internasional itu, ia mengembangkan Integrated Corpus and AI Model (ICAM), sebuah model pembelajaran yang mempertemukan teknologi corpus dengan kecerdasan buatan (AI).
Riset tersebut tidak sekadar berbicara tentang teknologi. Bayu mencoba menjawab persoalan yang dekat dengan proses belajar bahasa: bagaimana guru dan siswa mendapatkan contoh penggunaan bahasa yang benar-benar hidup, sesuai konteks, sekaligus mudah diakses.
Ketika teknologi punya kelebihan dan kekurangan
Bayu melihat corpus sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk pembelajaran bahasa. Kumpulan teks tersebut dapat menyajikan contoh penggunaan bahasa yang autentik dan berbasis data.
Masalahnya, teknologi corpus tidak selalu mudah digunakan oleh pengajar maupun peserta didik. Pengguna perlu memahami sistem dan aspek teknis sebelum bisa menggali informasi yang dibutuhkan.
Di sisi lain, AI menawarkan pengalaman yang jauh lebih sederhana. Pengguna cukup memberikan perintah untuk memperoleh jawaban. Namun, kemudahan itu menyisakan persoalan lain karena AI dapat menghasilkan informasi yang keliru atau tidak memiliki dasar sumber yang kuat.
Dari dua persoalan tersebut, Bayu menemukan celah untuk mempertemukan keduanya.
“AI memiliki sisi teknis yang lebih ramah pengguna, sementara corpus menyediakan sumber bacaan dan contoh penggunaan bahasa yang kredibel,” jelas Bayu.
Melalui ICAM, AI digunakan sebagai antarmuka untuk mengakses informasi dari corpus yang telah dikurasi. Dengan begitu, pengguna tidak harus berhadapan langsung dengan kompleksitas sistem corpus.
Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk membuat jawaban AI tetap berpijak pada data bahasa yang tersedia. Harapannya, kemudahan teknologi tidak mengorbankan kredibilitas sumber pembelajaran.
Dari pengalaman internasional ke ruang kelas Indonesia
Gagasan Bayu tidak lahir dalam ruang akademik yang terpisah dari pengalaman. Jejak internasionalnya justru mulai terbentuk ketika masih menjadi mahasiswa UMM.
Pada 2015, ia mengikuti Learning Express di Singapura. Setahun kemudian, ia mendapat pengalaman melalui program Erasmus di University of Murcia, Spanyol.
Perjalanan akademiknya berlanjut ke Amerika Serikat pada 2021 untuk menempuh pendidikan magister. Kini, ia berada di Inggris untuk menyelesaikan studi doktoralnya.
Bagi Bayu, pengalaman tersebut turut mengubah cara pandangnya terhadap pembelajaran bahasa. Kemampuan berbahasa tidak cukup hanya diukur dari penguasaan tata bahasa atau hafalan kosakata.
“UMM sangat membantu pengembangan diri saya melalui eksposur internasional,” tuturnya.
Pengalaman itu pula yang membuatnya memilih University of Nottingham sebagai tempat melanjutkan studi. Lingkungan akademik dan jejaring internasional di kampus tersebut dinilai memberi ruang baginya untuk mengembangkan riset sekaligus memperluas perspektif.
Ingin membawa pulang hasil riset
Bayu melihat ICAM memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh di Indonesia. Bukan hanya untuk pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, tetapi juga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan pembelajaran maupun pelestarian bahasa daerah.
Baginya, kebutuhan terhadap pembelajaran bahasa yang kontekstual semakin penting ketika kesempatan generasi muda Indonesia untuk terhubung dengan dunia internasional terus terbuka.
“Pendidikan bahasa Inggris kita belum cukup untuk mengantarkan peserta didik bersaing di kancah global,” tegasnya.
Ia menilai program seperti IISMA, LPDP, Fulbright, dan AAS membuka semakin banyak jalur bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar dan membangun pengalaman internasional. Dalam situasi tersebut, kemampuan bahasa Inggris yang autentik dan sesuai konteks menjadi salah satu bekal penting.
Namun, Bayu tidak ingin risetnya berhenti sebagai disertasi di Inggris.
Setelah menyelesaikan studi pada Januari 2030, ia berencana kembali ke Indonesia. Pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya selama berada di luar negeri ingin dibawa pulang untuk ikut membangun pembelajaran bahasa yang lebih kontekstual, autentik, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Perjalanan Bayu akhirnya bukan hanya tentang meraih gelar doktor di Inggris. Ada rencana untuk membawa pulang sesuatu yang lebih panjang manfaatnya: cara baru agar teknologi membantu guru dan siswa belajar bahasa dari penggunaan bahasa yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata.



