Adab Bertetangga: Ketika Salam dan Kepedulian Menjadi Perekat Kehidupan Sosial

Adab Bertetangga: Ketika Salam dan Kepedulian Menjadi Perekat Kehidupan Sosial

Indonesiandaily.com – Hubungan dengan tetangga sering dimulai dari hal yang sangat sederhana. Sebuah salam ketika berpapasan, menanyakan kabar, atau sekadar menawarkan bantuan ketika melihat orang lain sedang kesulitan.

Namun, dari kebiasaan kecil itulah rasa percaya dan kepedulian dalam sebuah lingkungan tumbuh.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam Ngaji Bersama Guru Besar Perempuan: Kajian Kitab Tematik DWP UIN Maliki Malang Seri 4, Jumat (18/9/2026).

Kajian bertema “Adab Bertetangga” itu menghadirkan Prof. Dr. Hj. Mufidah, M.Ag. sebagai narasumber dan berlangsung secara daring melalui Google Meet.

Prof. Mufidah mengajak peserta melihat kembali hubungan bertetangga yang dalam kehidupan sehari-hari sering dianggap biasa. Padahal, interaksi dengan orang yang tinggal di sekitar rumah memiliki pengaruh besar terhadap terbentuknya suasana sosial yang nyaman.

Dalam kajian tersebut, ia mengangkat pandangan Imam Al-Ghazali mengenai adab bertetangga yang bersumber dari risalah al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali.

Adab itu antara lain mendahului salam, tidak terlalu lama berbicara, tidak berlebihan dalam bertanya, menjenguk tetangga yang sakit, serta menyampaikan belasungkawa ketika tetangga mengalami musibah.

Sebaliknya, kebahagiaan tetangga juga semestinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Ketika mereka mendapatkan nikmat, turut berbahagia menjadi bagian dari cara menjaga hubungan sosial.

Ketika Tetangga Membutuhkan 

Nilai bertetangga, dalam pandangan yang dibahas Prof. Mufidah, tidak berhenti pada menjaga diri agar tidak mengganggu orang lain.

Ada tuntutan yang lebih jauh, yakni kemampuan untuk hadir ketika orang di sekitar membutuhkan.

Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan berbicara lembut kepada anak-anak dan pembantu tetangga, memaafkan kesalahan, menegur secara halus, menjaga pandangan, hingga memberikan pertolongan ketika diperlukan.

Jika diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, adab itu sebenarnya dekat dengan pengalaman banyak orang.

Tetangga yang mengetuk pintu ketika ada keluarga sakit. Orang di sebelah rumah yang ikut membantu ketika terjadi musibah. Atau warga sekitar yang datang tanpa banyak bertanya ketika seseorang sedang menghadapi persoalan.

Kepedulian semacam itu membuat lingkungan tempat tinggal tidak sekadar menjadi kumpulan rumah, tetapi berubah menjadi ruang kehidupan bersama.

Rumah Berdekatan, Hati Harus Didekatkan

Dari sudut pandang sosiologi, tetangga bukan sekadar orang yang kebetulan tinggal di sebelah rumah.

Kedekatan tempat tinggal menciptakan ruang interaksi. Dari tegur sapa, percakapan sehari-hari hingga kegiatan bersama, hubungan tersebut perlahan membentuk jaringan sosial dan rasa memiliki terhadap lingkungan.

Karena itu, kualitas hubungan antarwarga turut menentukan apakah sebuah lingkungan menjadi ruang yang saling menguatkan atau justru penuh jarak.

Kajian ini mengingatkan bahwa membangun keharmonisan sosial tidak selalu membutuhkan gerakan besar. Terkadang, semuanya bermula dari keberanian untuk lebih dulu menyapa, kesediaan mendengarkan, dan kepekaan melihat kebutuhan orang lain.

Bagi DWP UIN Maliki Malang, kajian Seri 4 tersebut menjadi ruang refleksi untuk membawa nilai-nilai keislaman lebih dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Sebab, adab bertetangga pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang bersikap kepada orang di sebelah rumahnya. Lebih dari itu, ia menjadi bagian dari cara menghadirkan akhlak Islam di tengah masyarakat—dimulai dari lingkungan paling dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *