Bukan Sekadar Kompetisi, Mahasiswa UB Bawa Pulang Wawasan Keamanan Finansial dari Rusia

Bukan Sekadar Kompetisi, Mahasiswa UB Bawa Pulang Wawasan Keamanan Finansial dari Rusia

Indonesiandaily.com – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mendapat pengalaman akademik lintas negara setelah mewakili Indonesia dalam VI International Olympiad on Financial Security (IOFS) 2026 di Siberian Federal University, Krasnoyarsk, Siberia, Rusia.

Keikutsertaan dalam ajang internasional tersebut tidak hanya menjadi arena kompetisi. Mahasiswa UB juga memperoleh kesempatan memperdalam pemahaman tentang keamanan finansial, teknologi, hukum, ekonomi, hingga ancaman kejahatan digital yang berkembang di berbagai negara.

IOFS 2026 berlangsung pada 27 September hingga 2 Oktober 2026 dan diikuti sekitar 700 pelajar serta mahasiswa dari 46 negara. Indonesia menjadi salah satu negara peserta dalam agenda yang mempertemukan generasi muda dari Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika Latin.

Bagi mahasiswa UB, pengalaman tersebut menjadi ruang untuk menguji pengetahuan akademik sekaligus melihat persoalan keamanan finansial dari perspektif global.

Belajar Keamanan Finansial dari Banyak Perspektif 

Materi yang dibahas dalam IOFS tidak berhenti pada persoalan ekonomi. Peserta juga diajak memahami keterkaitan keamanan finansial dengan keamanan informasi, hukum, hubungan internasional, dan perkembangan teknologi.

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme. Peserta juga mengikuti pembahasan mengenai ancaman baru di sektor finansial, termasuk penggunaan kecerdasan buatan atau AI.

Prof. Aan Eko Widiarto, salah satu dosen pendamping delegasi UB, mengatakan pengalaman internasional tersebut penting untuk memperluas wawasan mahasiswa.

“Mereka tidak hanya hadir membawa nama UB, tetapi juga mewakili Indonesia.”

Menurutnya, keterlibatan pada tahun ketiga ini diharapkan mampu membentuk mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik kuat sekaligus berwawasan global.

AI dan Tantangan Keamanan Finansial 

Perkembangan AI menjadi salah satu materi menarik dalam rangkaian IOFS 2026. Teknologi tersebut tidak hanya dilihat sebagai alat yang dapat membantu menjaga keamanan finansial, tetapi juga memiliki potensi disalahgunakan untuk kejahatan.

Mahasiswa mengikuti lokakarya mengenai identifikasi skema pencucian uang, pemanfaatan AI untuk menjaga keamanan finansial pribadi, hingga pengenalan teknologi deepfake dalam lingkungan finansial.

Bagi mahasiswa, pembahasan tersebut memberikan gambaran bahwa perkembangan teknologi membawa manfaat sekaligus risiko yang harus dipahami secara kritis.

Ranitya Ganindha, dosen pendamping lainnya, menilai pembelajaran di IOFS membantu mahasiswa menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan persoalan nyata.

“Keamanan finansial berkaitan erat dengan hukum, ekonomi, teknologi, dan kerja sama internasional.”

Pembelajaran juga berlangsung melalui diskusi panel, kuliah, lokakarya, pameran, kunjungan, kegiatan olahraga, serta berbagai agenda lainnya yang mencapai lebih dari 100 kegiatan.

Mengasah Kemampuan di Lingkungan Internasional 

Delegasi UB berjumlah 10 mahasiswa, yakni Charles Leonard Moniaga, Meylisa Hadi Yanti, Syafrial Ibnu Rizky Yudha, Muhammad Andi, Quinto Simbolon, Cheryl Aillish, Kelvin Harefa, Najwa Azizah, Keysha Azizah, dan Kuntari Angrani.

Mereka didampingi Prof. Aan Eko Widiarto, Ranitya Ganindha, dan Cyndiarnis Cahyaning Putri.

Syafrial Ibnu Rizky Yudha mengatakan keterlibatan dalam IOFS membuat mahasiswa dapat menguji kemampuan sekaligus memahami bahwa persoalan keamanan finansial memiliki dimensi lintas negara.

“Diskusi dengan peserta lain juga memperkaya cara kami melihat berbagai persoalan yang sebelumnya dipelajari di kelas.”

Selain kompetisi yang digelar pada 29 September, mahasiswa juga memperoleh pengalaman berinteraksi dengan peserta dari berbagai latar belakang akademik dan kebangsaan.

Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran tersendiri dalam membangun kemampuan berkomunikasi, beradaptasi, dan bekerja sama di lingkungan internasional.

Pulang Membawa Pengetahuan dan Jejaring

Aspek budaya turut melengkapi pengalaman akademik delegasi Indonesia. Peserta mengikuti pembukaan Olympiad Village, pengibaran bendera negara peserta, kegiatan membangun kekompakan tim, hingga Festival Olympiad in Colours.

Charles Leonard Moniaga menilai interaksi tersebut memberikan pengalaman yang tidak diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.

“Perbedaan bahasa, budaya, dan latar belakang akademik mendorong kami untuk belajar berkomunikasi dan beradaptasi.”

Ia berharap pengalaman selama berada di Krasnoyarsk dapat dibawa pulang dan dibagikan kepada mahasiswa lain di Universitas Brawijaya.

Bagi UB, partisipasi tahun ketiga dalam IOFS bukan sekadar catatan keikutsertaan di kompetisi internasional. Pengalaman tersebut menjadi sarana mahasiswa memperluas pengetahuan, menguji kemampuan. Serta memahami ancaman keamanan finansial berbasis teknologi, sekaligus membangun jejaring akademik dengan generasi muda dari berbagai negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *