Indonesiandaily.com – Sekitar 200 akademisi, dosen, peneliti, dan praktisi pendidikan dari enam negara berkumpul dalam konferensi internasional ICON-ELT 2026 yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (ELE), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang (UNISMA).
Peserta berasal dari Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, Taiwan, dan Australia. Mereka mengikuti konferensi secara luring maupun daring untuk membahas masa depan pengajaran bahasa Inggris di tengah perkembangan teknologi dan tantangan keberlanjutan lingkungan.
Mengusung tema Transforming ELT through Technology and Eco-ELT: Promoting Inclusive, Sustainable, and Lifelong Learning, ICON-ELT 2026 tidak hanya menjadi ruang pertukaran hasil penelitian, tetapi juga mempertemukan berbagai perspektif tentang arah pendidikan bahasa Inggris yang lebih adaptif dan inklusif.
Ketua Panitia ICON-ELT 2026, Febti Ismiatun, M.Pd., mengatakan perkembangan teknologi menghadirkan peluang besar untuk memperbarui metode pengajaran bahasa Inggris. Namun, pemanfaatannya tidak boleh berhenti pada penggunaan perangkat digital semata.
“Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah teknologi itu mampu membuat pembelajaran lebih bermakna, mudah diakses, inklusif, dan efektif bagi semua,” ujarnya.
Teknologi Harus Membuat Pembelajaran Lebih Bermakna
Menurut Febti, transformasi pengajaran bahasa Inggris perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pengalaman belajar. Teknologi seharusnya membantu menjangkau lebih banyak peserta didik, mengatasi keterbatasan akses, sekaligus menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan penting dalam ICON-ELT tahun ini. Sebab, tantangan pendidikan bahasa Inggris tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata, tata bahasa, dan kemampuan komunikasi, tetapi juga bagaimana pembelajaran mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Konferensi ini sekaligus mengangkat konsep Eco-ELT, yakni pendekatan pengajaran bahasa Inggris yang mengintegrasikan kepedulian terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran bahasa diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang kompeten berkomunikasi, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap persoalan lingkungan dan keberlanjutan.
Hadirkan Akademisi dari Malaysia hingga Australia
Untuk memperkaya diskusi, ICON-ELT 2026 menghadirkan lima pembicara utama dari sejumlah perguruan tinggi dan lembaga internasional.
Mereka adalah Dr. Chew Shin Yi dari Universiti Malaya, Malaysia; Dr. Chin-Pu Chiao dari National Yunlin University of Science and Technology, Taiwan; Prof. Dr. Dwi Fitri Heriyawati dari UNISMA; Assoc. Prof. Dat Bao dari Monash University, Australia; serta Dr. (H.C.) Aslam Khan bin Samahs Khan dari ERICAN Education Group, Malaysia.
Dua akademisi UNISMA, Dr. Kurniasih, S.Pd., M.A., dan Dr. Imam Wahyudi Karimullah, S.S., M.A., juga hadir sebagai pembicara undangan.
Konferensi dibuka Wakil Rektor III UNISMA, Dr. Muhammad Yunis, M.Pd. Ia mengapresiasi konsistensi FKIP dalam menghadirkan forum ilmiah internasional yang membuka peluang kolaborasi lintas negara dan memperluas jejaring akademik.
Dekan FKIP UNISMA, Dr. Hamiddin, M.Pd., berharap forum tersebut menghasilkan gagasan dan penelitian yang tidak berhenti sebagai diskusi akademik. Tetapi dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran bahasa Inggris.
Perluas Kolaborasi dan Publikasi Internasional
Jangkauan internasional ICON-ELT 2026 juga terlihat dari keterlibatan sejumlah institusi sebagai co-host. Yakni UIN Sunan Kudus, Rajamangala University of Technology Krungthep Thailand, YunTech Taiwan, dan Universitas Negeri Surabaya.
Selain mempertemukan akademisi lintas negara, konferensi ini membuka peluang publikasi hasil penelitian melalui sejumlah jurnal mitra. Salah satunya Issues in Language Studies yang telah terindeks Scopus Q2.
Febti mengatakan persiapan konferensi telah dilakukan hampir satu tahun. Dengan melibatkan kerja kolektif seluruh panitia.
Ia berharap pertemuan akademik tersebut menghasilkan manfaat berkelanjutan, mulai dari bertambahnya jejaring internasional. Hingga meningkatnya kapasitas penelitian dan publikasi di bidang pengajaran bahasa Inggris.
Lebih dari sekadar konferensi, ICON-ELT 2026 menjadi ruang untuk menguji kembali arah pendidikan bahasa Inggris. Yakni bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara tepat, pembelajaran semakin terbuka bagi semua, dan kesadaran lingkungan menjadi bagian dari kompetensi generasi masa depan.



