Indonesiandaily.com – Menjalankan bisnis sekaligus menempuh pendidikan magister bukan perkara mudah. Namun, Kadek Krisna Dewa Anggana, mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), justru menemukan cara menghubungkan keduanya. Ilmu psikologi yang dipelajarinya di bangku kuliah kini menjadi bekal untuk mengembangkan bisnis yang dirintisnya dari modal Rp100 ribu.
Usaha Krisna kini berkembang menjadi bisnis dengan tujuh karyawan dan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Pencapaian tersebut tidak diraih secara instan. Ia melewati perjalanan panjang, mulai dari keterbatasan ekonomi, kegagalan mencoba berbagai usaha, hingga menemukan peluang bisnis yang tepat.
Berasal dari Desa Gesing, Kabupaten Buleleng, Bali, Krisna tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi sulit. Ibunya bekerja serabutan, mulai berjualan sayur hingga menjadi tukang cuci untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, kondisi kesehatan ayahnya turut menghadirkan persoalan dalam kehidupan rumah tangga.
Sejak kecil, Krisna terbiasa membantu ibunya berjualan. Ia bahkan pernah kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah dan merasa minder karena kondisi ekonomi keluarganya.
“Keluarga saya termasuk yang termiskin di desa. Kami tidak punya sepeda motor, sementara hampir semua tetangga sudah punya. Makan daging ayam pun jarang sekali kami rasakan,” kenangnya.
Meski demikian, keterbatasan tidak membuatnya berhenti belajar. Setelah sempat mengalami kesulitan akademik, ia perlahan bangkit berkat dorongan seorang guru saat duduk di bangku sekolah dasar.
Kesempatan melanjutkan pendidikan di SMKN Bali Mandara, sekolah berasrama bagi siswa dari keluarga kurang mampu, semakin membentuk kedisiplinan dan keberaniannya. Krisna mulai aktif mengikuti perlombaan, berorganisasi, hingga berhasil masuk lima besar siswa dengan nilai ujian nasional tertinggi di kelasnya.
Merintis Bisnis dari Modal Rp100 Ribu
Setelah lulus, Krisna sempat bekerja di perusahaan kelapa sawit di Sumatera Selatan. Namun, penghasilannya banyak digunakan untuk membantu keluarga. Ia bahkan pernah hanya makan nasi sekali sehari setelah kehilangan uang dan terpaksa menjual telepon genggam untuk bertahan hidup.
Sepulangnya ke Bali, Krisna mencoba berbagai usaha. Ia pernah menjual masker, face shield, cabai, rempah-rempah, hingga tas dan pakaian melalui marketplace Facebook. Tidak semuanya berhasil, tetapi pengalaman tersebut membuatnya terus belajar membaca peluang pasar.
Titik balik datang ketika seorang pelanggan yang membeli tas menanyakan aksesori perhiasan. Krisna kemudian mencoba menawarkan produk tersebut. Respons pasar ternyata positif. Produk yang dibelinya untuk dijual kembali bahkan habis dalam sehari.
Ia memilih memutar keuntungan sebagai modal usaha. Perlahan, bisnisnya berkembang hingga mampu membuka toko, merekrut karyawan, dan memperluas pemasaran melalui berbagai platform digital.
Dengan modal awal Rp100 ribu, dalam waktu sekitar 10 bulan Krisna berhasil mengumpulkan tabungan untuk membuka toko. Kini, bisnis yang dikelolanya telah mempekerjakan tujuh orang dengan omzet ratusan juta rupiah setiap bulan.
Ilmu Psikologi Membantu Memahami Konsumen dan Karyawan
Di tengah perkembangan bisnisnya, Krisna memutuskan melanjutkan pendidikan ke Program Magister Psikologi UM. Baginya, keputusan tersebut bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan memperluas pengetahuan yang bisa diterapkan dalam pengelolaan usaha.
Selama kuliah, ia mempelajari bagaimana manusia berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, serta membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Pengetahuan tersebut menjadi relevan ketika diterapkan dalam menghadapi konsumen maupun mengelola karyawan.
“Di Psikologi UM, saya belajar banyak hal yang ternyata sangat relevan dengan bisnis. Saya jadi lebih memahami bagaimana manusia berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, membangun hubungan, dan merespons lingkungan,” jelasnya.
Menurut Krisna, keputusan konsumen membeli suatu produk tidak semata-mata dipengaruhi harga dan kualitas. Kebutuhan, persepsi, pengalaman, serta emosi juga berperan dalam menentukan perilaku pembelian.
Pemahaman serupa diterapkannya dalam membangun hubungan kerja dengan karyawan. Mengenali karakter dan cara berkomunikasi setiap orang membantunya menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik.
Ia pun memandang bisnis bukan hanya persoalan menjual produk dan mengejar keuntungan. Ada aspek manusia yang harus dipahami agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
Pendidikan Bukan Sekadar Mengejar Gelar
Bagi Krisna, pengalaman kuliah sekaligus mengelola bisnis memperkuat keyakinannya bahwa ilmu pengetahuan harus dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pendidikan memberinya cara berpikir yang lebih luas, kemampuan memahami persoalan, serta keberanian mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.
Ia juga ingin generasi muda tidak menjadikan keterbatasan kemampuan maupun kondisi ekonomi sebagai alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
“Untuk mencapai mimpi-mimpi kita, tidak harus pintar sejak awal. Yang paling penting adalah kita tahu kurangnya di mana dan bagian mana yang harus kita pelajari lebih dalam,” katanya.
Ia menilai keberhasilan membutuhkan proses panjang, termasuk keberanian mencoba dan kesiapan menghadapi kegagalan.
“Membangun cita-cita itu prosesnya panjang. Kita perlu banyak mencoba dan melalui berbagai kegagalan. Dari banyak mencoba dan gagal, kita akan menemukan pola, strategi, dan langkah-langkah konkret untuk menjemput mimpi-mimpi kita,” lanjutnya.
Perjalanan Krisna menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan dunia usaha dapat saling menguatkan. Ilmu psikologi yang dipelajarinya di UM tidak berhenti sebagai teori perkuliahan, tetapi diterapkan untuk memahami konsumen, membangun komunikasi, dan mengelola tim bisnis.
Dari modal Rp100 ribu, ia kini mampu mengembangkan usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi tujuh orang. Perjalanan tersebut juga mencerminkan kontribusi terhadap SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Bagi Krisna, latar belakang kehidupan bukan penentu akhir masa depan. Kemauan untuk terus belajar, keberanian mencoba, dan kemampuan memanfaatkan pengetahuan menjadi modal penting untuk membangun kemandirian.



