Indonesiandaily.com – Menyeimbangkan kuliah dan olahraga bukan perkara mudah. Namun, I’tibar, mahasiswa semester VII Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan.
Mahasiswa asal Riau tersebut berhasil meraih Juara III kategori Tanding Kelas C Dewasa Putra dalam ajang 8th UMSURA National Pencak Silat Championship 2026 di Surabaya, Jawa Timur.
Prestasi itu diraih setelah I’tibar bersaing dengan atlet pencak silat dari berbagai perguruan tinggi dan kontingen di Indonesia. Ia tampil mewakili Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat Pagar Nusa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kejuaraan tingkat nasional tersebut berlangsung di Gedung At-Tauhid lantai 13 Universitas Muhammadiyah Surabaya. Penyelenggaraannya melibatkan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), serta Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Bagi I’tibar, Bertanding Adalah Proses Belajar
Bagi I’tibar, medali juara ketiga bukan sekadar penghargaan atas kemampuan di gelanggang. Lebih dari itu, pencapaian tersebut menjadi bukti dari proses panjang yang dijalani melalui latihan, kedisiplinan, dan keberanian menghadapi lawan.
Ia mengaku bersyukur mendapat kesempatan tampil dalam kompetisi nasional. Setiap pertandingan, menurutnya, selalu menghadirkan pelajaran baru, baik ketika berhasil meraih kemenangan maupun saat menemukan kekurangan dalam kemampuan sendiri.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk bertanding dan meraih Juara III dalam kejuaraan ini,” ungkap I’tibar.
Ia menilai pertandingan menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan sekaligus mengevaluasi hasil latihan. Pengalaman berhadapan dengan atlet dari berbagai daerah juga memberinya gambaran mengenai hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Karena itu, hasil pertandingan di Surabaya tidak membuatnya cepat berpuas diri. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.
Membagi Waktu antara Kuliah dan Gelanggang
Di balik prestasi tersebut, I’tibar juga memiliki tanggung jawab sebagai mahasiswa.
erkuliahan di Program Studi Bahasa dan Sastra Arab menuntut konsentrasi dan kesungguhan, sementara pencak silat membutuhkan latihan rutin serta kesiapan fisik dan mental.
Dua aktivitas dengan tuntutan berbeda itu berusaha dijalaninya secara seimbang. Ia tidak ingin kecintaannya terhadap olahraga mengurangi tanggung jawab akademik.
“Sebagai mahasiswa yang juga menekuni pencak silat, saya ingin membuktikan bahwa kegiatan akademik dan olahraga bisa berjalan beriringan,” tuturnya.
Baginya, pencak silat justru memberikan pengalaman yang memperkaya kehidupan perkuliahan. Latihan dan pertandingan membentuk kedisiplinan, ketekunan, serta kemampuan mengelola tanggung jawab.
Pengalaman I’tibar sekaligus memperlihatkan bahwa mahasiswa Fakultas Humaniora memiliki ruang untuk berkembang di berbagai bidang. Potensi mahasiswa tidak hanya dapat diwujudkan melalui bahasa, sastra, dan prestasi akademik, tetapi juga melalui olahraga dan aktivitas organisasi kemahasiswaan.
Juara III Jadi Pijakan untuk Prestasi Berikutnya
Bergabung dengan UKM Pencak Silat Pagar Nusa menjadi salah satu ruang bagi I’tibar untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun karakter. Melalui organisasi tersebut, ia memperoleh kesempatan berlatih, bertanding, dan mengembangkan potensi di luar ruang kuliah.
Meski telah membawa pulang prestasi tingkat nasional, mahasiswa semester VII ini masih menyimpan target yang lebih besar. Ia ingin terus meningkatkan kemampuan dan meraih hasil yang lebih baik pada kejuaraan mendatang.
“Prestasi ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berlatih, menjaga konsistensi, dan memberikan yang terbaik di setiap kesempatan,” ujarnya.
Ia berharap pencapaian berikutnya dapat membawa nama baik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, khususnya Fakultas Humaniora dan UKM Pencak Silat Pagar Nusa.
I’tibar juga menyampaikan terima kasih kepada pelatih, rekan-rekan, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan doa selama proses persiapan hingga kejuaraan berlangsung.
“Terima kasih kepada pelatih, teman-teman, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan serta doa. Semoga pencapaian ini menjadi langkah awal untuk prestasi-prestasi berikutnya,” ungkapnya.
Capaian tersebut menambah prestasi mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Malang di bidang nonakademik. Namun, bagi I’tibar, nilai terpenting dari perjalanan ini bukan hanya posisi ketiga di podium.
Ada proses panjang tentang konsistensi, keberanian mencoba, dan kemauan memperbaiki diri. Sebab, baginya, menjadi mahasiswa bukan berarti harus membatasi diri pada satu bidang. Kuliah tetap berjalan, prestasi olahraga pun bisa diperjuangkan.
Juara III di Surabaya akhirnya menjadi pijakan baru bagi I’tibar untuk terus berkembang, baik sebagai mahasiswa maupun atlet pencak silat.



