Tak Hanya Belajar Sains, Mahasiswa FSTeM UB Didorong Bangun Bisnis Inovatif

Tak Hanya Belajar Sains, Mahasiswa FSTeM UB Didorong Bangun Bisnis Inovatif

Indonesiandaily.com – Mahasiswa Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) tidak hanya dituntut menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka juga didorong mampu mengembangkan ide kreatif menjadi usaha produktif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dorongan tersebut diwujudkan melalui pengembangan program hibah kewirausahaan mahasiswa. FSTeM UB berupaya memperluas kesempatan mahasiswa untuk merintis bisnis, mengembangkan produk, hingga membangun usaha yang berkelanjutan.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FSTeM UB, Prof. Chomsin Sulistya Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan tahun ini terdapat delapan kelompok mahasiswa yang berhasil memperoleh dana hibah kewirausahaan.

Setiap kelompok mendapatkan bantuan modal sebesar Rp5 juta. Ke depan, fakultas menargetkan jumlah penerima hibah meningkat menjadi 20 kelompok.

Tidak hanya memberikan dukungan permodalan, FSTeM UB juga membantu mahasiswa mengurus legalitas usaha, termasuk sertifikasi halal dan perizinan industri rumah tangga.

“Mahasiswa perlu didorong agar tidak hanya memiliki ide, tetapi juga mampu mengembangkan ide tersebut menjadi usaha yang nyata,” demikian semangat pengembangan kewirausahaan di FSTeM UB.

Fakultas juga menyiapkan peluang pendanaan yang lebih besar melalui program hibah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Pada tahun mendatang, mahasiswa didorong mengakses hibah yang nilainya dapat mencapai Rp50 juta.

Menurut Prof. Chomsin, latar belakang keilmuan sains justru menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk membangun usaha. Selama perkuliahan, mereka dibekali kemampuan memetakan persoalan, menganalisis kebutuhan, dan merumuskan solusi bagi masyarakat.

Berawal dari Persoalan Pendidikan hingga Kebutuhan Pangan 

Salah satu bisnis rintisan yang berkembang adalah Braintera Academy. Usaha bimbingan belajar ini digagas Hanifah Salsabila dan Jenia Vita Amellia, mahasiswa semester tujuh FSTeM UB.

Ide bisnis tersebut berangkat dari keprihatinan mereka terhadap masih adanya siswa sekolah dasar, khususnya kelas VI, yang belum menguasai kemampuan membaca dan berhitung secara memadai.

Braintera Academy kemudian hadir dengan konsep bimbingan belajar privat yang lebih fleksibel. Tarif pembelajaran ditawarkan mulai Rp45 ribu per pertemuan.

Selain memberikan keleluasaan jadwal, mereka juga menerapkan seleksi tentor melalui tahapan microteaching untuk memastikan kualitas pengajaran.

Berbeda dengan Braintera Academy, tiga mahasiswi Departemen Kimia, yakni Naomi Gadis Folasimo, Paganis Galih Mayaputri, dan Feriska Nuramaliya, mengembangkan usaha makanan praktis berbasis nabati bernama Nutriwrap.

Produk utamanya berupa kebab dengan beragam varian rasa. Mereka menyasar mahasiswa yang membutuhkan pilihan makanan praktis, terutama sebagai alternatif sarapan sebelum mengikuti perkuliahan pagi.

Kukis Laris hingga Startup Agritech Berbasis AI

Kreativitas lainnya terlihat dari Clevia Dessert, usaha makanan rumahan yang dikembangkan Ailsya Nabilla dan Mega Nurul.

Mereka memulai bisnis dengan memproduksi kukis berharga terjangkau. Produk tersebut kemudian dititipkan ke sejumlah kantin sekolah.

Respons pasar ternyata cukup menjanjikan. Dalam sehari, penjualan kukis di kantin sekolah dapat mencapai 40 buah.

Melihat peluang tersebut, keduanya memperluas pemasaran melalui media sosial. Usaha itu bahkan menarik minat mahasiswa dari berbagai kampus untuk bergabung sebagai reseller.

Sementara itu, inovasi berbasis teknologi dikembangkan Muhammad Rizky Alfiansyah melalui Agroplus.id.

Startup agritech ini memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk memodernisasi sektor hulu industri pertanian, khususnya komoditas kopi.

Pengembangan Agroplus.id menunjukkan bahwa kompetensi mahasiswa di bidang sains dan teknologi dapat diarahkan untuk menjawab tantangan sektor produktif, termasuk pertanian.

Keempat usaha tersebut memperlihatkan beragam cara mahasiswa FSTeM UB menerjemahkan pengetahuan dan kreativitas menjadi peluang ekonomi.

Melalui penguatan program hibah, pendampingan usaha, serta akses pendanaan yang lebih luas, FSTeM UB berharap semakin banyak mahasiswa berani memulai bisnis sejak bangku kuliah. Dengan demikian, lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan menciptakan lapangan kerja dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *