Indonesiandaily.com – Kaki terkilir saat berolahraga sebaiknya tidak langsung dipijat. Penanganan yang kurang tepat justru berisiko memperburuk cedera, terutama jika terjadi pembengkakan atau kerusakan jaringan yang belum diketahui tingkat keparahannya.
Perawat Klinik Pratama UM, Imelda Tri Omega, S.Kep., Ns., AIFO, mengingatkan pentingnya memahami pertolongan pertama sebelum mengambil tindakan. Cedera olahraga dapat dipicu kurangnya pemanasan, kelelahan, beban latihan berlebihan, hingga gerakan yang tidak tepat.
“Ketika muncul keluhan setelah cedera, jangan memaksakan aktivitas dan carilah pertolongan tenaga kesehatan yang sesuai,” ujar Imelda.
Olahraga memang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, keinginan untuk tetap aktif perlu diimbangi dengan kemampuan mengenali tanda cedera dan mengambil langkah penanganan yang tepat.
Kenali Metode PRICE untuk Pertolongan Pertama
Pada dugaan cedera ringan pada jaringan lunak, seperti keseleo atau cedera otot dan tendon, salah satu pendekatan pertolongan awal yang dapat digunakan adalah metode PRICE. Istilah ini merupakan singkatan dari Protection, Rest, Ice, Compression, dan Elevation.
Langkah pertama, Protection, yakni melindungi bagian tubuh yang cedera. Hentikan aktivitas yang memicu nyeri dan hindari gerakan yang dapat memperburuk kondisi.
Kedua, Rest, yaitu mengistirahatkan bagian yang cedera dari aktivitas yang membebani. Setelah kondisi memungkinkan, gerakan ringan dapat dimulai secara bertahap agar otot dan sendi tidak mengalami kekakuan berkepanjangan.
Ketiga, Ice, yakni memberikan kompres dingin untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Bungkus es dengan handuk tipis, lalu tempelkan selama sekitar 15–20 menit. Jika diperlukan, kompres dapat diulang setiap 2–3 jam pada fase awal cedera. Hindari menempelkan es langsung ke kulit.
Keempat, Compression, yaitu memberikan dukungan menggunakan perban elastis. Balutan tidak boleh terlalu ketat karena dapat mengganggu aliran darah. Jika muncul kebas, kesemutan, atau perubahan warna pada bagian tubuh di bawah balutan, segera longgarkan.
Kelima, Elevation, yakni meninggikan bagian yang cedera, misalnya dengan menyangga kaki menggunakan bantal, selama posisi tersebut tidak menambah nyeri.
Pendekatan PRICE dapat membantu penanganan awal keseleo atau cedera jaringan lunak ringan. Namun, langkah ini bukan pengganti pemeriksaan medis untuk memastikan jenis dan tingkat keparahan cedera.
Hindari Pijat dan Aktivitas Berat setelah Cedera
Selain memahami pertolongan pertama, masyarakat perlu mengetahui tindakan yang sebaiknya dihindari setelah mengalami cedera.
Dalam panduan penanganan awal, dikenal istilah HARM, yang terdiri atas Heat, Alcohol, Running, dan Massage. Keempatnya merujuk pada panas, alkohol, aktivitas berlari atau aktivitas berat, serta pijatan pada bagian yang baru mengalami cedera.
Pada 48–72 jam pertama, penggunaan panas dan pijatan pada area cedera sebaiknya dihindari. Aktivitas yang memperberat nyeri juga perlu dihentikan. Alkohol pun sebaiknya dihindari selama fase awal pemulihan.
Kebiasaan langsung memijat kaki yang terkilir perlu ditinjau kembali. Tanpa pemeriksaan, seseorang belum tentu mengetahui apakah cedera yang dialami sebatas keseleo ringan atau melibatkan kerusakan yang lebih serius.
Karena itu, jangan menjadikan pengalaman sebelumnya atau saran orang lain sebagai satu-satunya dasar penanganan. Cedera yang terlihat serupa belum tentu memiliki tingkat keparahan yang sama.
Kapan Cedera Harus Diperiksa Tenaga Kesehatan?
Tidak semua cedera olahraga dapat ditangani secara mandiri. Nyeri yang sangat hebat atau semakin memburuk, pembengkakan besar, serta kesulitan berdiri atau menggunakan anggota tubuh merupakan tanda yang perlu mendapatkan pemeriksaan.
Perhatian khusus juga diperlukan jika anggota tubuh terlihat berubah bentuk, mengalami kebas, atau tampak kebiruan maupun terasa dingin. Kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera karena dapat menandakan cedera serius atau gangguan aliran darah.
Jika nyeri dan pembengkakan tidak membaik setelah penanganan awal, pemeriksaan tenaga kesehatan juga diperlukan untuk menentukan langkah berikutnya.
“Pertolongan pertama merupakan langkah awal. Jika keluhan menetap atau muncul tanda yang mengkhawatirkan, pemeriksaan diperlukan agar pasien memperoleh penanganan sesuai kondisinya,” ungkap Imelda.
Mengenali batas pertolongan mandiri menjadi bagian penting dari keselamatan berolahraga. Menghentikan aktivitas ketika cedera bukan tanda kelemahan, melainkan upaya melindungi tubuh dari risiko yang lebih besar.
Kembali Berolahraga secara Bertahap
Berkurangnya rasa nyeri tidak selalu berarti cedera telah pulih sepenuhnya. Sebelum kembali berolahraga, seseorang perlu mempertimbangkan kemampuan menggerakkan dan menggunakan bagian tubuh yang cedera.
Aktivitas sebaiknya dimulai secara bertahap sesuai kondisi pemulihan. Jika nyeri atau pembengkakan kembali meningkat, kurangi beban aktivitas dan cari pemeriksaan medis bila diperlukan.
Pesan pentingnya, jangan terburu-buru kembali berolahraga hanya karena merasa sudah lebih baik. Pemulihan yang aman membutuhkan perhatian terhadap kondisi tubuh, bukan sekadar keinginan untuk segera beraktivitas.
Olahraga bertujuan menjaga kesehatan, bukan menambah risiko cedera akibat penanganan yang keliru. Ketika kaki terkilir, hentikan aktivitas pemicu nyeri, lakukan pertolongan awal yang sesuai, hindari pijatan pada fase awal, dan jangan ragu mencari bantuan tenaga kesehatan jika muncul tanda bahaya.



