Mahasiswa Sains Data UB dan UNAIR Ciptakan Aplikasi Nyambung, Bantu Anak Autis Berkomunikasi

Mahasiswa Sains Data UB dan UNAIR Ciptakan Aplikasi Nyambung, Bantu Anak Autis Berkomunikasi

Indonesiandaily.com – Teknologi bagi anak autis tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang rumit. Bagi lima mahasiswa Sains Data Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Airlangga (UNAIR), teknologi justru harus mampu menjawab kebutuhan paling dasar: membantu anak menyampaikan apa yang ingin dikatakan.

Gagasan itu mereka tuangkan melalui Nyambung, ekosistem komunikasi augmentatif dan alternatif atau Augmentative and Alternative Communication (AAC) berbahasa Indonesia.

Inovasi tersebut ditujukan bagi anak autis dengan kebutuhan komunikasi kompleks, terutama anak yang belum atau masih terbatas menggunakan bahasa lisan.

Nyambung dirancang bukan sekadar sebagai aplikasi papan komunikasi. Teknologi ini berusaha mempertemukan tiga pihak yang sehari-hari berperan dalam perkembangan komunikasi anak, yakni anak, keluarga, dan terapis.

Membantu Anak Menyampaikan Keinginan 

Melalui aplikasi Android, anak dapat menggunakan papan komunikasi berupa gambar dan simbol. Ketika sebuah simbol dipilih, aplikasi akan mengeluarkan suara sesuai kata yang dipilih.

Dengan cara tersebut, anak memiliki alternatif untuk menyampaikan kebutuhan atau keinginannya ketika komunikasi verbal belum menjadi pilihan yang mudah.

Yang menarik, fungsi utama papan komunikasi Nyambung dapat digunakan tanpa koneksi internet. Aplikasi memuat 120 kosakata Bahasa Indonesia dalam 13 halaman, termasuk 12 kata inti yang ditempatkan secara konsisten agar lebih mudah dikenali dan dipelajari.

Sistem tersebut juga dirancang agar dapat berjalan pada perangkat sederhana, mulai Android 8 dengan RAM 2 GB. Artinya, teknologi ini tidak secara khusus ditujukan untuk perangkat mahal.

Orang Tua Ikut Belajar 

Teen Tensors menyadari bahwa keberhasilan komunikasi anak tidak hanya bergantung pada aplikasi.

Karena itu, Nyambung dilengkapi materi singkat dan misi harian bagi orang tua. Fitur tersebut membantu keluarga belajar memberikan contoh penggunaan papan komunikasi dalam aktivitas sehari-hari.

Ada pula fitur “Papan dari Foto”. Orang tua dapat mengubah foto, misalnya meja makan atau ruang belajar, menjadi papan komunikasi yang lebih dekat dengan lingkungan anak.

Objek tertentu pada foto dapat diberi kata dan suara. Anak kemudian dapat memilih objek yang dikenalnya untuk membantu menyampaikan maksud.

Kecerdasan buatan dapat membantu membuat rancangan awal area pada foto. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan keluarga sehingga teknologi tidak mengambil alih peran orang tua.

Terapis Bisa Melihat Pola Komunikasi 

Nyambung juga membawa fungsi yang lebih luas melalui fitur jembatan terapis.

Dengan izin keluarga dan ketika koneksi internet tersedia, catatan penggunaan papan dapat disinkronkan. Terapis kemudian dapat melihat pola penggunaan komunikasi anak di rumah dan memberikan usulan kosakata atau frasa yang relevan.

Namun, data tersebut tidak digunakan untuk memberikan skor kemampuan anak.

“Teknologi seharusnya membantu suara anak sampai dan dipahami oleh orang-orang di sekitarnya.” ujar Bonfilio Renato Lawaziduhu Fau, mewakili Teen Tensors.

Keluarga tetap memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak kosakata yang diusulkan. Dengan pola ini, teknologi ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti keputusan keluarga maupun tenaga profesional.

Dibangun dengan Memperhatikan Privasi 

Aspek keamanan juga menjadi bagian dari rancangan Nyambung. Aplikasi tidak merekam percakapan, video, maupun lokasi anak.

Foto yang digunakan untuk membuat kartu personal tetap berada di perangkat. Sementara penggunaan analisis foto berbasis kecerdasan buatan membutuhkan persetujuan khusus dari orang tua.

Nyambung juga tidak diposisikan sebagai alat diagnosis atau pengganti penilaian klinis terapis.

Gagasan tersebut membawa Teen Tensors meraih Juara 2 Hackathon Informatics Festival (IFEST) 2026 yang digelar HIMATIF FMIPA Universitas Padjadjaran.

Tim yang beranggotakan Mikael Alexander Adikara Purnama, Bonfilio Renato Lawaziduhu Fau, Adinda Sekaring Wana, Timotius Christopher Patrick Sihombing, dan Raphael Angelo Adikara Purnama itu bersaing dengan 90 tim pendaftar.

Mereka kemudian masuk dalam 15 tim finalis dan mengikuti final luring selama 24 jam pada 18–19 September 2026 di Kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung.

Capaian tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana keilmuan sains data dan teknologi dapat diarahkan pada persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Bagi Teen Tensors, keberhasilan Nyambung bukan semata soal memenangkan kompetisi. Lebih jauh, mereka mencoba menunjukkan bahwa inovasi digital memiliki nilai ketika mampu membuat seseorang yang selama ini kesulitan menyampaikan pesan memiliki lebih banyak cara untuk didengar dan dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *