Kulit Kopi Tak Lagi Terbuang, Mahasiswa PPG UMM Sulap Limbah Jadi 4 Produk Bernilai

Kulit Kopi Tak Lagi Terbuang, Mahasiswa PPG UMM Sulap Limbah Jadi 4 Produk Bernilai

Indonesiandaily.com – Kulit kopi yang selama ini berakhir sebagai pakan ternak atau pupuk mulai mendapat kehidupan baru di Desa Sumbertempur, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Di tangan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), limbah tersebut dikembangkan menjadi sejumlah produk yang berpotensi memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.

Gagasan itu diwujudkan melalui program CascaLoop dengan slogan From Coffee Waste to Purposeful Products. Salah satu kegiatannya dikemas dalam Workshop Inovasi “Katalis Kopi” di Aula Balai Desa Sumbertempur, 16 September 2026.

Program tersebut tidak sekadar mengajarkan cara mengolah limbah. Mahasiswa mencoba menunjukkan bahwa kulit kopi yang selama ini dianggap tidak bernilai masih dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam dan berpotensi mendukung ekonomi masyarakat.

Dari persoalan limbah menuju peluang

Koordinator Tim CascaLoop, Fakhintan Ilza Karengga, mengatakan ide tersebut berawal dari pengamatan langsung terhadap kondisi di Desa Sumbertempur.

Tim melakukan observasi sejak pertengahan Juli 2026 untuk melihat pola pemanfaatan kulit kopi sekaligus mencari peluang pengolahan yang dapat diterapkan masyarakat.

“Pemanfaatannya masih terbatas sebagai pakan ternak dan pupuk. Kami mencoba mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi bernilai ekonomi lebih tinggi,” kata Fakhintan.

Hasil pengembangan selama Agustus kemudian menghasilkan empat produk utama. Masing-masing memiliki karakter dan cara pengolahan berbeda, mulai dari sumber energi alternatif hingga produk pangan.

Empat produk dari kulit kopi

Kulit kopi dikembangkan menjadi biobriket melalui proses karbonisasi hingga menjadi arang. Material tersebut kemudian dihaluskan, dicampur perekat tepung kanji, dicetak dan dikeringkan.

Produk lainnya adalah pengharum ruangan berbasis cascara. Bubuk kulit kopi diekstraksi menggunakan alkohol khusus parfum, kemudian disaring dan dicampur dengan bahan pendukung sebelum melalui proses pematangan aroma.

Untuk sektor pangan, kulit kopi juga diubah menjadi tepung bahan kerupuk. Kulit kopi dikeringkan, dihaluskan dan diayak sebelum dicampurkan dengan bahan pembuat kerupuk. Hasil akhirnya menjadi camilan yang menawarkan pemanfaatan berbeda dari limbah kopi.

Produk keempat adalah teh celup cascara. Kulit kopi yang telah dibersihkan dan dikeringkan dipotong sesuai kebutuhan, kemudian dikemas menggunakan kantong teh celup ramah lingkungan.

Bukan sekadar mengurangi limbah

Kepala Desa Sumbertempur, Edi Sucipto, menilai inovasi tersebut membuka perspektif baru bagi masyarakat dalam melihat limbah kopi.

Menurutnya, kulit kopi tidak harus berhenti sebagai limbah pertanian. Pengolahan lebih lanjut dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan produk lokal apabila kualitas, kemasan, pemasaran dan keberlanjutannya terus diperkuat.

“Selama ini kulit kopi lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau pupuk. Kegiatan ini memberi wawasan bahwa limbah tersebut masih bisa diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Edi.

Melalui CascaLoop, persoalan limbah kopi di Sumbertempur tidak hanya didekati dari sisi kebersihan lingkungan. Program tersebut memperlihatkan satu kemungkinan lain: limbah pertanian dapat menjadi bahan baku untuk menciptakan produk baru ketika diolah dengan pengetahuan dan kreativitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *