Dari Mojokerto ke UNISMA Malang, Windya Buktikan Disabilitas Bukan Batas untuk Meraih Cita-Cita

Dari Mojokerto ke UNISMA Malang, Windya Buktikan Disabilitas Bukan Batas untuk Meraih Cita-Cita

Indonesiandaily.com – Langkah Windya Zuhrotun Nufus menuju bangku kuliah dimulai dari rumahnya di Mojokerto. Mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (UNISMA) itu kini bersiap membuka babak baru kehidupannya sebagai mahasiswa.

Windya bukan sekadar datang membawa berkas pendaftaran dan harapan menjadi sarjana. Sebagai mahasiswa baru penyandang disabilitas, ia menunjukkan keberanian untuk menempuh pendidikan tinggi dan memilih UNISMA sebagai tempat melanjutkan cita-citanya.

Semangat itu mendapat perhatian khusus dari pimpinan UNISMA. Menjelang dimulainya tahun akademik 2026/2027, jajaran pimpinan universitas mendatangi langsung kediaman Windya di Mojokerto.

Kunjungan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus dukungan kepada Windya dan keluarganya. Kehadiran pimpinan kampus juga menjadi cara UNISMA menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan untuk menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Bukan tentang keterbatasan, tetapi keberanian 

Bagi UNISMA, apresiasi kepada Windya tidak diberikan semata karena kondisi disabilitas yang dimilikinya. Lebih dari itu, perhatian tersebut ditujukan pada keberanian mengambil kesempatan dan kemauan untuk terus belajar.

Wakil Rektor 3 UNISMA, Dr. Muhammad Yunus, M.Pd., mengatakan semangat mahasiswa seperti Windya perlu mendapat ruang dan dukungan sejak awal perjalanan pendidikan.

“Kami sangat mengapresiasi tekad dan keberanian yang ditunjukkan oleh mahasiswa kami,” ujar Yunus.

Menurut dia, pendidikan semestinya dapat diakses oleh siapa pun. Karena itu, semangat untuk membangun lingkungan kampus yang inklusif menjadi bagian penting dalam perjalanan UNISMA.

“Pendidikan harus terbuka dan inklusif bagi siapa pun,” lanjutnya.

Kunjungan ke Mojokerto itu dihadiri Plh. Rektor UNISMA Dr. Erna Sulistyowati, Ph.D., Wakil Rektor 3 Dr. Muhammad Yunus, M.Pd., Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Dr. Abdul Jalil, M.Pd.I., serta tim Humas UNISMA.

Dari rumah, dukungan itu dimulai 

Kehadiran para pimpinan universitas di rumah mahasiswa memberikan pesan bahwa relasi antara kampus dan mahasiswa tidak harus dimulai ketika perkuliahan berlangsung.

Dukungan dapat hadir sejak mahasiswa mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan.

Bagi Windya, perjalanan itu kini memasuki tahap baru. Ia akan bergabung dengan mahasiswa baru lainnya, mengikuti rangkaian kegiatan pengenalan kampus, kemudian menjalani kehidupan akademik sebagai mahasiswa FEB UNISMA.

Di sisi lain, kunjungan tersebut memperlihatkan bagaimana keberagaman mahasiswa dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang humanis.

Setiap mahasiswa datang dengan latar belakang, pengalaman, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Perbedaan itu tidak semestinya menjadi penghalang untuk memperoleh kesempatan belajar.

Menyambut 2026 dengan semangat inklusif 

Kunjungan pimpinan UNISMA ke Mojokerto sekaligus menjadi bagian dari rangkaian penyambutan mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027.

Pra-OSHIKA MABA dijadwalkan berlangsung pada 27 September 2026. Setelah itu, mahasiswa baru mengikuti OSHIKA MABA UNISMA pada 28–30 September 2026.

Rangkaian tersebut menjadi pintu masuk bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus, membangun pertemanan, sekaligus mulai memahami kehidupan akademik yang akan mereka jalani.

Namun, bagi UNISMA, penyambutan mahasiswa baru bukan hanya persoalan seremoni.

Di balik kedatangan ribuan mahasiswa baru, terdapat cerita dan harapan yang berbeda-beda. Ada yang datang dengan dukungan penuh keluarga, ada yang membawa perjuangan panjang, dan ada pula yang harus melewati tantangan tertentu untuk sampai ke perguruan tinggi.

Cerita Windya menjadi salah satu pengingat bahwa kesempatan pendidikan dapat memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh gelar.

Dari sebuah rumah di Mojokerto, perjalanan akademiknya kini dimulai. Beberapa hari lagi, Windya akan melangkah ke lingkungan kampus bersama mahasiswa baru lainnya.

Satu hal yang sama mereka bawa: kesempatan untuk belajar, berkembang, berkarya, dan mengejar masa depan.

Bagi UNISMA, keberagaman itu bukan jarak yang harus dipisahkan, melainkan bagian dari keluarga besar yang tumbuh bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *