Indonesiandaily.com – Ancaman banjir saat musim penghujan mendorong Desa Bulukerto, Kota Batu, memperkuat sistem peringatan dini berbasis teknologi. Alat forecasting atau prakiraan cuaca kini dipasang di titik perbatasan Desa Bulukerto dan Desa Sumbergondo.
Teknologi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) bersama Politeknik Negeri Malang (Polinema). Pemasangan dilakukan Jumat (28/8/2026), sekaligus disertai sosialisasi kepada perangkat desa dan masyarakat.
Desa Bulukerto menjadi sasaran utama program karena memiliki riwayat kerawanan banjir pada musim penghujan. Kondisi tersebut membuat informasi cuaca dan curah hujan menjadi penting untuk membantu masyarakat melakukan antisipasi sebelum risiko meningkat.
Keberadaan alat forecasting diharapkan mampu menyediakan data kondisi cuaca yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan di tingkat desa.
“Data dari alat ini dapat menjadi salah satu bahan untuk melihat perubahan kondisi cuaca, terutama ketika terjadi peningkatan curah hujan,” jelas Tim Pengabdian kepada Masyarakat UM.
Dalam sosialisasi, warga dan perangkat desa tidak hanya diperkenalkan dengan fungsi alat. Mereka juga mendapatkan demonstrasi mengenai proses pengumpulan data cuaca hingga pemanfaatan hasil pengukuran sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir.
Penempatan alat di kawasan perbatasan Bulukerto dan Sumbergondo bukan tanpa alasan. Kedua wilayah memiliki kedekatan geografis serta keterkaitan aliran air yang dapat memengaruhi kondisi hidrologi Bulukerto.
Karena itu, pemantauan kondisi cuaca di kawasan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih cepat ketika terjadi perubahan yang berpotensi meningkatkan risiko banjir.
Program ini juga tidak lepas dari pengalaman Bulukerto menghadapi banjir bandang pada 2021. Bencana tersebut menyebabkan kerugian ekonomi, kerusakan lingkungan, serta kerusakan sejumlah fasilitas desa.
Melalui teknologi forecasting, masyarakat diharapkan tidak hanya bertindak setelah banjir terjadi. Informasi yang diperoleh dari alat dapat menjadi salah satu dasar untuk menentukan langkah mitigasi hingga evakuasi ketika risiko mulai meningkat.
Polinema berperan dalam pengembangan aspek teknis alat, sedangkan UM mendorong pemanfaatannya agar dapat terintegrasi dengan kesiapsiagaan masyarakat dan perangkat desa.
Kepala desa dan perangkat dari kedua wilayah berharap penggunaan teknologi tersebut tidak berhenti pada pemasangan. Pendampingan secara berkala dinilai penting agar alat dapat dioperasikan, dipelihara, dan dimanfaatkan secara mandiri.
Dengan adanya alat forecasting ini, Bulukerto memiliki tambahan instrumen untuk membaca kondisi cuaca sebelum ancaman banjir berkembang menjadi bencana.
