Rektor UMM Dorong Kampus Hadirkan Kontribusi Nyata di Tengah Bencana NTT

Rektor UMM Dorong Kampus Hadirkan Kontribusi Nyata di Tengah Bencana NTT

Indonesiandaily.com – Bencana gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya berdiri sebagai pusat pendidikan. Kampus harus hadir dengan kontribusi nyata ketika masyarakat menghadapi persoalan dan krisis.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Menurutnya, solidaritas kebangsaan harus diwujudkan melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak.

Nazar menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat NTT, khususnya warga Flores yang terdampak bencana. Kepedulian tersebut juga ditunjukkan melalui busana khas Nusantara Timur yang dikenakannya sebagai bentuk perhatian dan solidaritas terhadap masyarakat NTT.

Slider Ucapan HUT RI

“Indonesia adalah bangsa majemuk. Pada dasarnya nonkomplementer, laksana air dan minyak. Tetapi bangsa Indonesia yang majemuk itu dapat bersatu karena ada nilai yang mempersatukan, yaitu Pancasila,” ujarnya.

Menurut Nazar, keberagaman Indonesia harus selalu ditempatkan dalam kesadaran bahwa bangsa ini merupakan milik bersama. Karena itu, kemerdekaan tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kebebasan dari penjajahan.

Kemerdekaan juga membawa tanggung jawab untuk membangun kesejahteraan bersama. Dalam konteks bencana, nilai tersebut harus diterjemahkan melalui kepedulian, solidaritas, serta aksi nyata untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Nazar menegaskan, Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa Indonesia harus terus bergerak dengan orientasi pada kemajuan dan kesejahteraan bersama. Gerakan tersebut tidak boleh berhenti pada kepentingan pribadi maupun kelompok.

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mewujudkan semangat tersebut. Kampus harus mampu membaca persoalan sosial secara lebih luas dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.

“Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Perguruan tinggi harus menjadi ruang berkembangnya ilmu pengetahuan, riset, teknologi, dan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” tegas Nazar.

Karena itu, kontribusi kampus tidak boleh berhenti di ruang kelas maupun lingkungan akademik. Hasil riset dan inovasi harus diarahkan agar dapat memberikan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Nazar juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah, BUMN, pemerintah daerah, lembaga riset, dunia usaha, serta masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci agar potensi kampus dapat bergerak lebih luas.

Melalui kerja sama tersebut, perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih besar dalam pembangunan. Kampus tidak hanya menjadi penghasil sumber daya manusia, tetapi juga kekuatan intelektual yang mampu memberikan solusi berbasis pengetahuan.

“Harapan itu ada di pundak seluruh sivitas akademika. Kita semua adalah bagian dari perjuangan,” katanya.

Tanggung jawab tersebut, lanjut Nazar, berada pada seluruh unsur perguruan tinggi. Mulai pimpinan, guru besar, dosen dan peneliti, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa memiliki peran dalam memastikan kampus memberikan manfaat bagi bangsa.

Semangat kontribusi tersebut kemudian dikaitkan dengan tema “UMM Organization Builders 1964–2026”. Nazar menilai perubahan yang berlangsung cepat menuntut organisasi mampu membaca situasi, menentukan arah, mengambil keputusan, serta mengubah visi menjadi aksi.

Dalam menghadapi perubahan tersebut, seluruh sivitas akademika diposisikan sebagai navigator. Mereka harus mampu membangun tim yang adaptif, menjaga integritas, sekaligus menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap individu memberikan kontribusi terbaik.

Pesan tersebut juga sejalan dengan semangat mendiang Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc., yang mendorong terwujudnya kampus UMM yang “bersih, aman, cerdas, dan mengasyikkan”.

Bagi UMM, semangat tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan budaya internal kampus. Lebih jauh, budaya organisasi harus mampu membentuk sivitas akademika yang peka terhadap persoalan masyarakat dan siap mengambil peran dalam menghadapi tantangan bangsa.

Bencana NTT menjadi salah satu momentum untuk menegaskan kembali peran tersebut. Bagi Nazar, keberadaan perguruan tinggi harus dapat dirasakan manfaatnya, terutama ketika masyarakat membutuhkan solidaritas, pengetahuan, dan solusi nyata.

Dengan demikian, kampus tidak cukup hanya menjadi tempat mencetak lulusan unggul. Perguruan tinggi harus mampu hadir di tengah masyarakat, menggerakkan ilmu pengetahuan, memperkuat kolaborasi, dan memastikan setiap inovasi bermuara pada kemajuan serta kesejahteraan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *